← Beranda
Jika Seseorang Terlihat dengan 7 Tanda Ini, Dia Mungkin Lebih Mudah Mengalami Serangan Panik Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 1 Agustus 2026 | 22.40 WIB
seseorang yang mengalami serangan panik./Magnific/stefamerpik

JawaPos.com - Serangan panik merupakan pengalaman yang sangat menakutkan. Banyak orang menggambarkannya seperti serangan jantung, padahal sebenarnya kondisi tersebut merupakan respons tubuh terhadap rasa takut yang muncul secara intens.

Saat serangan panik terjadi, seseorang bisa mengalami jantung berdebar, sesak napas, tubuh gemetar, hingga merasa akan kehilangan kendali.

Menurut psikologi, tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk mengalami serangan panik. Ada beberapa tanda yang dapat menunjukkan bahwa seseorang mungkin lebih rentan mengalaminya. Penting untuk dipahami bahwa tanda-tanda ini bukan berarti seseorang pasti memiliki gangguan panik.

Tanda-tanda ini hanya menunjukkan adanya faktor yang dalam beberapa penelitian dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap kecemasan dan serangan panik.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (1/8), terdapat tujuh tandanya.

1. Terlalu Mudah Merasa Cemas

Orang yang sering merasa khawatir terhadap berbagai hal cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Mereka mungkin memikirkan kemungkinan terburuk sebelum sesuatu benar-benar terjadi.

Kecemasan yang berlangsung terus-menerus membuat sistem saraf berada dalam kondisi siaga. Ketika tubuh terlalu lama berada dalam mode waspada, respons panik bisa lebih mudah muncul saat menghadapi tekanan, bahkan pada situasi yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya.

Namun, merasa cemas sesekali adalah hal yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

2. Sangat Peka terhadap Sensasi Tubuh

Sebagian orang sangat memperhatikan perubahan kecil pada tubuhnya. Misalnya, sedikit peningkatan detak jantung langsung dianggap sebagai tanda penyakit serius.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai kecenderungan untuk menginterpretasikan sensasi tubuh secara berlebihan. Akibatnya, perubahan fisik yang sebenarnya normal dapat memicu rasa takut yang semakin besar.

Rasa takut tersebut kemudian meningkatkan detak jantung dan pernapasan, yang justru memperkuat keyakinan bahwa ada sesuatu yang salah. Siklus inilah yang dapat berkembang menjadi serangan panik.

3. Sulit Mengelola Stres

Setiap orang menghadapi stres, tetapi kemampuan mengelolanya berbeda-beda.

Orang yang terus-menerus berada di bawah tekanan tanpa memiliki cara yang sehat untuk mengatasinya lebih rentan mengalami kelelahan emosional. Saat tekanan menumpuk, tubuh dapat memberikan respons yang sangat kuat, termasuk munculnya serangan panik.

Karena itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, dan aktivitas yang menyenangkan sangat penting bagi kesehatan mental.

4. Sering Menghindari Situasi yang Dianggap Menakutkan

Menghindari situasi tertentu memang dapat memberikan rasa lega sementara. Namun, dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru dapat memperkuat rasa takut.

Misalnya, seseorang pernah merasa panik di pusat perbelanjaan. Setelah itu, ia mulai menghindari semua tempat ramai karena khawatir kejadian tersebut terulang.

Menurut psikologi, pola penghindaran seperti ini dapat membuat kecemasan bertahan lebih lama dan meningkatkan kemungkinan munculnya serangan panik di kemudian hari.

5. Memiliki Riwayat Gangguan Kecemasan

Orang yang pernah mengalami gangguan kecemasan, seperti kecemasan menyeluruh atau fobia tertentu, diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami serangan panik dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat tersebut.

Hal ini bukan berarti semua penderita gangguan kecemasan akan mengalami serangan panik. Namun, adanya riwayat kecemasan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

6. Sulit Mengenali atau Mengatur Emosi

Sebagian orang terbiasa memendam emosi atau kesulitan mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Ketika emosi terus ditekan tanpa disalurkan dengan cara yang sehat, tekanan psikologis dapat semakin meningkat. Pada beberapa orang, kondisi ini bisa berkontribusi terhadap munculnya gejala kecemasan yang intens.

Belajar mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosi secara sehat dapat membantu mengurangi tekanan tersebut.

7. Pernah Mengalami Peristiwa yang Sangat Menekan

Pengalaman traumatis atau peristiwa hidup yang sangat berat, seperti kehilangan orang terdekat, kecelakaan, kekerasan, atau tekanan berkepanjangan, dapat memengaruhi cara otak merespons ancaman.

Tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami serangan panik. Namun, pengalaman tersebut dapat meningkatkan sensitivitas sistem respons stres sehingga seseorang menjadi lebih mudah merasa takut atau panik dalam situasi tertentu.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika seseorang mengenali beberapa tanda di atas, bukan berarti ia pasti akan mengalami serangan panik. Justru, mengenali faktor risiko sejak dini dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental.

Beberapa cara yang dapat membantu antara lain:

Menerapkan pola tidur yang cukup dan teratur.
Mengurangi konsumsi kafein jika terasa memperburuk kecemasan.
Berolahraga secara rutin untuk membantu mengelola stres.
Melatih teknik relaksasi, seperti pernapasan diafragma atau mindfulness.
Berbicara dengan orang yang dipercaya mengenai perasaan yang dialami.
Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kesimpulan

Psikologi menunjukkan bahwa serangan panik sering kali tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan, seperti kecemasan yang tinggi, kesulitan mengelola stres, kebiasaan menghindari situasi yang menakutkan, hingga pengalaman hidup yang berat.

Meski demikian, tanda-tanda tersebut bukan alat diagnosis. Hanya tenaga kesehatan mental yang dapat menilai apakah seseorang mengalami gangguan panik atau kondisi lain yang berkaitan. 

Kabar baiknya, serangan panik dan gangguan panik merupakan kondisi yang dapat ditangani melalui terapi psikologis, perubahan gaya hidup, dan pada sebagian kasus, pengobatan yang diresepkan oleh tenaga medis.

Semakin cepat seseorang mencari bantuan ketika gejalanya mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, semakin besar peluang untuk mengelola kecemasan dan kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang.

EDITOR: Hanny Suwindari