JawaPos.com – Selama ini Body Mass Index (BMI) menjadi patokan utama untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas.
Menurut laporan The Chosun, para peneliti kini menilai metode tersebut tidak lagi cukup menggambarkan kondisi kesehatan yang sebenarnya.
Seseorang bisa saja memiliki berat badan berlebih tetapi tetap sehat, sementara orang dengan berat badan normal justru menyimpan lemak berbahaya yang meningkatkan risiko penyakit.
Temuan tersebut mendorong tim peneliti yang dipimpin Profesor Im Soo dari Departemen Endokrinologi dan Metabolisme Bundang Seoul National University Hospital mengusulkan kriteria baru diagnosis obesitas yang lebih sesuai untuk populasi Asia. Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Nature Reviews Endocrinology.
Berbeda dengan BMI yang hanya menghitung perbandingan berat badan dan tinggi badan, sistem baru ini menilai obesitas berdasarkan dampak penumpukan lemak terhadap kesehatan tubuh.
Individu yang memiliki kadar lemak tubuh tinggi tetapi belum mengalami gangguan kesehatan dikategorikan berada pada tahap pre-obesity.
Sebaliknya, jika lemak berlebih telah menyebabkan gangguan fungsi organ atau memicu penyakit penyerta, kondisi tersebut diklasifikasikan sebagai clinical obesity disease atau penyakit obesitas klinis.
Dokter tidak hanya melihat berat badan, tetapi juga mengevaluasi berbagai indikator kesehatan seperti lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol, fungsi ginjal, hingga komposisi tulang, otot, dan lemak.
Pendekatan ini dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai risiko kesehatan setiap individu.
Peneliti menjelaskan bahwa orang yang berada pada tahap pre-obesity sebaiknya fokus memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, dan menjalani gaya hidup sehat agar komplikasi dapat dicegah sejak dini.
Sementara itu, pasien yang telah masuk kategori clinical obesity disease mungkin memerlukan penanganan lebih agresif, seperti penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1—termasuk semaglutide atau tirzepatide—hingga operasi metabolik sesuai kondisi medis masing-masing.
Menurut Profesor Im Soo, masyarakat Asia, termasuk Korea, memiliki kecenderungan menumpuk lemak di organ-organ vital seperti perut, hati, dan pankreas meski berat badannya tidak terlalu tinggi.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes, penyakit hati berlemak, dan gangguan metabolik lainnya.
Karena itu, ia menilai penanganan obesitas di masa depan perlu lebih berfokus pada kesehatan metabolik dan komplikasi yang dialami pasien, bukan sekadar angka yang muncul di timbangan.