← Beranda
PERKI: SDM Dokter Jantung Indonesia Tak Kalah dengan Luar Negeri, tapi Kurang Dikenal
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 17 Juli 2026 | 05.30 WIB
Ilustrasi dokter dan pasiennya. /Sumber Foto: (Merithhc

JawaPos.com - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) meyakini kemampuan dokter jantung di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan dokter di luar negeri.

Meski demikian, PERKI mengakui masih ada aspek pelayanan atau service excellence yang perlu terus diperbaiki agar pengalaman yang didapatkan pasien semakin baik.

Hal itu disampaikan Ketua PP PERKI dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), PhD agar pasien dari Indonesia yang sering berobat ke luar negeri agar kembali berobat dan memberi kepercayaan kepada tenaga kesehatan di dalam negeri.

"Saya berani jamin bahwa kemampuan dokter-dokter kita sangat baik. Kenapa? Karena pasiennya banyak. Jadi bisa dibayangkan, pasien di Indonesia itu banyak, sehingga jam terbang dokter kita tinggi," ujar dr. Ade kepada wartawan, Kamis (16/7).

Baca Juga: Dokter Indonesia Kembangkan Alat Pendeteksi Cairan di Paru, Bisa Tekan Angka Rawat Ulang Pasien Gagal Jantung

Ia membandingkan dengan Singapura yang menurutnya memiliki jumlah pasien lebih sedikit.

Namun, dokter di negara tersebut lebih aktif mempublikasikan hasil penelitian sehingga lebih dikenal di dunia internasional.

"Di Singapura pasiennya enggak sebanyak kita. Cuma apa kelebihannya? Mereka menulis lebih banyak, sehingga orang lain lebih tahu lebih banyak tentang Singapura. Dokter-dokter kita pasiennya banyak, enggak sempat menulis. Jadi akhirnya kurang dikenal," katanya.

Meski optimistis terhadap kualitas dokter Indonesia, dr. Ade mengakui pelayanan pasien di luar negeri, seperti di Singapura, masih menjadi contoh yang patut dipelajari.

Ia menilai pengalaman pasien sejak tiba di negara tujuan hingga selesai menjalani perawatan berlangsung dengan pelayanan yang sangat baik dan penuh empati.

Baca Juga: Waktu Aman Minum Kopi untuk Kesehatan Jantung, Dokter Sarankan sebelum Jam 2 Siang

"Memang servisnya beda. Dari turun dari pesawat sudah dijemput, masuk rumah sakit, dokternya menjelaskan, perawatnya ikut menangis, empatinya sangat dalam. Habis operasi selesai, pulang diantar. Itu memang kita harus belajar quality of excellence seperti ini," tuturnya.

Meski demikian, dr. Ade menegaskan prioritas layanan kesehatan di Indonesia saat ini tetap berfokus pada pelayanan kegawatdaruratan dan tindakan penyelamatan nyawa, terutama dalam sistem pembiayaan BPJS Kesehatan.

Menurut dia, peningkatan kualitas layanan akan terus dikembangkan secara bertahap.

"Untuk layanan, kita utamakan layanan emergensi yang life saving, itu nomor satu dulu. Setelah itu nanti kita akan berkembang lagi untuk pelayanan yang lebih canggih berikutnya," pungkasnya.

Ia juga memastikan organisasi profesi terus mengawasi anggotanya melalui dewan etik.

Baca Juga: Kondisi Pasien Menentukan Teknik Pemasangan Ring Jantung, Ini Penjelasannya 

Jika terjadi pelanggaran maupun sengketa, PERKI memiliki mekanisme penyelesaian melalui Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) serta membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terbaik.

 

EDITOR: Bayu Putra