JawaPos.com - Gangguan kulit wajah, Melasma, tidak akan berkembang menjadi kanker kulit. yang perlu diwaspadai justru skincare yang dugi=unakan untuk mengatasinya.
Dokter mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan skincare atau krim pemudar flek yang dijual bebas.
Karena produk yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri atau steroid justru dapat menimbulkan kerusakan kulit hingga gangguan organ tubuh.
Dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan menjelaskan bahwa melasma merupakan gangguan hiperpigmentasi yang lebih berdampak pada aspek estetika dan psikologis pasien, bukan penyakit yang mengancam nyawa.
Baca Juga: Wanita Indonesia Rentan Kena Melasma, Jangan Sembarangan Pakai Skincare
"Apakah melasma akan menjadi cancer? Enggak. Melasma bukan suatu kondisi yang mematikan atau membahayakan keselamatan pasien, tapi lebih fokus terhadap tampilan estetika dan psikologis pasien," kata dr. Stanley kepada wartawan, Rabu (15/7).
Waspada Bahaya Produk Perawatan Kulit Abal-Abal
Ia menjelaskan, bahaya justru muncul ketika masyarakat menggunakan produk perawatan kulit yang diperoleh secara tidak bertanggung jawab. Baik melalui penjualan daring maupun sumber lain yang tidak jelas kandungannya.
"Yang menjadi bahaya adalah penggunaan bahan-bahan aktif yang diperoleh secara tidak bertanggung jawab. Kemungkinan saja isinya ada steroid atau merkuri," tegasnya.
"Itu yang membahayakan, tidak disupervisi, dipakai dalam waktu yang cukup lama, diperoleh dengan mudah dan harga yang sangat murah, memberikan efek yang dalam seminggu sudah langsung bagus. Hati-hati, mungkin ada bahan-bahan berbahaya," lanjut dr. Stanley.
Menurut dia, kandungan merkuri dalam produk ilegal dapat menyebabkan kerusakan kulit yang tampak jelas di permukaan.
Baca Juga: Mau Kulit Cerah Berseri Hanya Dengan Timun? Yuk Simak Cara Penggunaannya
Bahkan, paparan dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan efek sistemik, termasuk gangguan pada ginjal akibat sifat toksiknya.
"Merkuri bisa menyebabkan kerusakan yang masif. Kerusakan secara eksogen tampak jauh lebih kelihatan di permukaan, atau sistemik bisa mengenai ginjal dan itu menjadi toksik. Nah, itu yang berbahaya," tegasnya.
Melasma sendiri merupakan salah satu gangguan hiperpigmentasi yang paling sering terjadi di dunia.
Prevalensinya bervariasi, mulai dari sekitar 0,5 persen di Asia Tenggara hingga mencapai 41–46 persen di wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi, seperti pada pekerja sawah di India dan Pakistan.
Kelompok yang paling berisiko mengalami melasma adalah perempuan, terutama usia reproduktif, individu dengan warna kulit lebih gelap atau fototipe Fitzpatrick III hingga V, serta orang yang sering terpapar sinar matahari.
Baca Juga: 5 Cara Membantu Mengurangi Kerutan dan Menjaga Kulit Tetap Tampak Awet Muda
Wanita Indonesia Rentan Kena Melasma
Masyarakat Indonesia termasuk kelompok yang lebih rentan karena mayoritas memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV hingga V dan tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi sepanjang tahun.
Paparan sinar matahari menjadi pemicu utama melasma. Selain sinar UV, cahaya tampak (visible light), terutama blue light, juga dapat merangsang pembentukan melanin dan meningkatkan risiko kekambuhan.
Selain itu, faktor genetik turut meningkatkan kerentanan seseorang terhadap melasma. Riwayat keluarga dan karakteristik etnis tertentu membuat seseorang lebih sensitif terhadap berbagai pemicu lingkungan.
Perubahan hormon, seperti saat kehamilan atau akibat paparan hormon estrogen dan progesteron, juga dapat memicu maupun memperparah melasma.
Sementara itu, perubahan pada kulit akibat paparan sinar matahari kronis, termasuk peradangan, stres oksidatif, serta perubahan pembuluh darah dan struktur kulit, dapat mempertahankan produksi melanin sehingga melasma menjadi lebih sulit diatasi dan mudah kambuh.
Baca Juga: 6 Gejala Kulit Kepala Mengalami Masalah Akibat Terlalu Sering Menggunakan Pewarna Rambut