JawaPos.com - Melasma menjadi salah satu gangguan kulit yang paling banyak dialami perempuan, termasuk di Indonesia.
Gangguan kulit di bagian muka ini seringkali membuat banyak perempuan sembarangan menggunakan produk skincare untuk mengatasi noda gelap di wajah.
Padahal, tidak semua flek merupakan melasma dan penanganan yang keliru justru dapat memperburuk kondisi kulit.
Melasma merupakan gangguan hiperpigmentasi yang ditandai munculnya bercak kecokelatan terang hingga gelap pada area wajah, terutama pipi, dahi, hidung, dan atas bibir yang sering terpapar sinar matahari.
Baca Juga: Mau Kulit Cerah Berseri Hanya Dengan Timun? Yuk Simak Cara Penggunaannya
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen penderita melasma adalah perempuan, khususnya pada usia reproduktif.
Perempuan Indonesia Lebih Rentan Kena Melasma
Perempuan Indonesia juga tergolong lebih rentan mengalami melasma karena tinggal di wilayah tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi sepanjang tahun.
Selain itu, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV hingga V yang lebih mudah mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari.
Faktor lain seperti perubahan hormon, genetik, paparan visible light, serta proses inflamasi pada kulit juga berkontribusi terhadap munculnya melasma.
Dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan menegaskan, langkah paling penting dalam menangani melasma adalah memastikan diagnosis yang tepat sebelum menentukan terapi.
Baca Juga: Kulit Leher Tetap Awet Muda, Terapkan 4 Langkah Perawatan Ini Sejak Dini
"Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai," ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/7).
Ia menegaskan bahwa pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit.
"Salah satu terapi depigmentasi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari adalah redermalisasi menggunakan skin booster yang mengandung Hyaluronic Acid dan Succinic Acid," tutur dr. Stanley.
Perlu Terapi Komprehensif dan Konsisten
Sementara itu, dokter estetika dr. Ratna Yuliarviana mengatakan, penanganan melasma memerlukan terapi yang komprehensif dan dilakukan secara konsisten.
"Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel," katanya.
Baca Juga: Resep Gandasturi, Camilan Tradisional dengan Isian Kacang Hijau yang Lembut dan Kulit Renyah
Terapi ini, lanjut dr. Ratna, perlu diimbangi dengan penggunaan sunscreen setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan.
Menurut dr. Ratna, selain tindakan di klinik, penggunaan tabir surya setiap hari dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi penting dalam mengurangi risiko kekambuhan melasma. Sekaligus melindungi kulit dari paparan sinar matahari.