JawaPos.com - Polusi udara ternyata tidak hanya berasal dari luar rumah. Debu renovasi rumah tetangga, asap pembakaran sampah, hingga senyawa kimia dari cat dan pernis dapat masuk ke dalam rumah dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respiratori Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauru, Sp.A., Subsp.Respi.(K), mengatakan, masyarakat perlu mewaspadai berbagai sumber polusi di lingkungan tempat tinggal karena paparan tersebut dapat menyebar hingga ke dalam rumah.
"Bahkan tetangga renovasi rumah saja debunya bisa mampir ke rumah sebelahnya. Apalagi kalau yang renovasi di dalam rumah sendiri," ujar dr. Cynthia kepada wartawan, Rabu (8/7).
Baca Juga: 20 Tahun Vakum, Ria Resty Fauzy Comeback Lewat Single 'Rindu yang Menyiksa'
Ia menjelaskan, aktivitas renovasi seperti membobok tembok, mengebor, hingga memotong keramik menghasilkan debu semen, debu silika, dan materi partikulat yang mudah beterbangan di udara. Paparan tersebut dapat memicu batuk, mengi pada anak yang memiliki asma, hingga menurunkan fungsi paru.
Selain debu, bau cat, lem, tiner, dan pernis juga melepaskan volatile organic compounds (VOC), yakni senyawa kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Menurut dr. Cynthia, VOC umumnya berasal dari produk cat dan pernis, tetapi juga dapat ditemukan pada asap rokok. Senyawa ini banyak merupakan turunan benzena dan etilbenzena yang bersifat karsinogenik serta dapat memicu peradangan pada paru-paru.
Baca Juga: Adhyaksa Kalteng FC Dikabarkan Incar Leo Lelis, Eks Bek Persebaya Berpeluang Tetap Bermain di Liga 1
"Kalau kita datang ke rumah yang masih renovasi, mata akan terasa perih, hidung menjadi sakit, kepala juga bisa terasa sakit. Paparan ini juga dapat memicu kekambuhan asma," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa polutan biologis di dalam rumah tidak boleh diabaikan. Karpet yang jarang dibersihkan dapat menjadi tempat menumpuknya debu, sementara plafon yang lembap berisiko menjadi tempat tumbuhnya jamur yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
Selain polusi dari dalam rumah, dr. Cynthia menyoroti kebiasaan membakar sampah di lingkungan permukiman yang masih banyak ditemukan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 62,5 persen sampah rumah tangga nasional belum dikelola dengan baik dan 6,7 persen di antaranya masih dibakar.
Menurutnya, asap pembakaran sampah mengandung berbagai zat berbahaya, seperti materi partikulat PM2,5 dan PM10, karbon hitam, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), karbon dioksida (CO2), logam berat timbal, hingga polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).
Paparan berbagai zat toksik tersebut tidak hanya meningkatkan risiko asma, bronkitis, infeksi saluran pernapasan, dan sesak napas, tetapi juga dapat berdampak pada organ lain, seperti jantung dan sistem saraf.
Karena itu, dr. Cynthia menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta upaya meminimalkan paparan debu dan bahan kimia saat renovasi rumah, terutama apabila terdapat anak-anak di lingkungan tempat tinggal.