JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa tidak semua amarah ditunjukkan secara lantang, dan pria dengan kebencian terpendam sering meluapkannya melalui ucapan menyakitkan.
Amarah yang tidak terselesaikan akan muncul sebagai komentar pasif-agresif dan kritik terselubung yang sangat menyakiti orang-orang di sekitar mereka.
Ucapan-ucapan menyakitkan dari pria penuh amarah ini sering terbang di bawah radar karena tidak terdengar seperti amarah yang jelas dan terang-terangan.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (30/6), berikut enam ucapan yang secara konsisten diucapkan oleh pria yang menyimpan amarah dan kebencian terpendam berdasarkan sudut pandang psikologi.
1. "Enak ya jadi kamu"
Di permukaan, kalimat ini terdengar tidak berbahaya, namun nada yang digunakan mengubahnya menjadi cara mengekspresikan rasa iri tanpa mengakuinya secara langsung.
Alih-alih berkata "aku berharap punya kesempatan itu," orang dengan kebencian terpendam mengarahkan perasaannya ke komentar yang meremehkan keberhasilan orang lain.
Orang yang sehat secara emosional menggunakan rasa iri sebagai informasi dengan bertanya pada diri sendiri apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi mereka.
Respons yang lebih sehat adalah rasa ingin tahu atau kerentanan jujur yang menciptakan koneksi, bukan ketegangan antara dua orang yang berinteraksi.
2. "Tidak ada yang pernah membantuku"
Orang yang membawa kebencian yang belum terselesaikan sering merasa tidak didukung akibat kekecewaan masa lalu dan momen ketika mereka merasa diabaikan.
Kalimat ini sering merupakan hiperbola yang didorong oleh akumulasi kekecewaan, bukan gambaran yang akurat tentang realitas yang sebenarnya terjadi.
Kebencian punya cara mempersempit fokus kita, menyebabkan kita mengingat saat orang tidak hadir dan mengabaikan saat mereka benar-benar ada.
Pendekatan yang lebih sehat adalah mengomunikasikan kebutuhan secara langsung daripada berharap orang lain bisa menebaknya sendiri tanpa diminta.
3. "Terserah"
Bergantung pada cara pengucapannya, kata "terserah" bisa mengungkapkan frustrasi, kekecewaan, kemarahan, atau keinginan untuk menghindari percakapan yang sulit.
Kata ini adalah bentuk penarikan emosional yang mengakhiri percakapan secara paksa, namun membiarkan emosi yang mendasarinya tetap tidak terselesaikan.
Percakapan memang berakhir, namun emosinya tidak ikut hilang, sehingga menciptakan ilusi bahwa konflik sudah terselesaikan padahal hanya ditunda.
Komunikasi yang sehat membutuhkan kesediaan untuk tetap terlibat dan jujur bahkan ketika diskusi terasa tidak nyaman bagi semua pihak.
4. "Memang begitulah sifat orang"
Beberapa pria yang menyimpan amarah diam-diam mulai mengasumsikan yang terburuk tentang orang lain berdasarkan pengalaman menyakitkan yang pernah mereka alami.
Psikolog menyebut ini sebagai confirmation bias, di mana otak secara alami mengumpulkan bukti yang mendukung keyakinan yang sudah ada sambil mengabaikan bukti yang menantangnya.
Jika seseorang mengasumsikan orang lain tidak bisa dipercaya, mereka cenderung menutup diri dan menjaga orang lain pada jarak yang aman.
Ada titik tengah yang sehat antara mempercayai semua orang dan tidak mempercayai siapapun, yaitu perspektif realistis bahwa tidak semua orang akan mengecewakan.
5. "Aku tidak peduli lagi"
Paling sering, ucapan ini tidak benar-benar mencerminkan kenyataan dan justru biasanya menunjukkan kebalikan dari apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Kalimat ini lahir dari pria yang pernah sangat peduli namun menjadi putus asa setelah cukup banyak kekecewaan yang mereka rasakan dalam hidup.
Pelepasan emosional terasa seperti bentuk perlindungan diri karena jika kamu meyakinkan diri tidak peduli, kamu tidak perlu berisiko merasa kecewa lagi.
Namun emosi jarang benar-benar menghilang hanya karena kita pura-pura tidak merasakannya, dan mereka tetap tidak terselesaikan di dalam diri.
6. "Buat apa dicoba"
Ketika seorang pria berulang kali mengucapkan kalimat ini, itu bukan pertanyaan melainkan kesimpulan yang sudah mereka capai setelah akumulasi frustrasi yang panjang.
Mereka telah meyakinkan diri sendiri bahwa hasilnya pasti mengecewakan, sehingga mereka tidak melihat alasan untuk terus berusaha mencoba apapun.
Masalahnya adalah keputusasaan cenderung menjadi siklus yang menguat sendiri karena ketika seseorang berhenti mencoba, mereka juga menghilangkan kemungkinan perbaikan.
Pendekatan yang paling membantu adalah berfokus pada langkah kecil yang terukur daripada mencoba memperbaiki segalanya sekaligus dalam satu waktu.
***