JawaPos.com - Sebagian orang memiliki pantangan terhadap makanan, minuman atau hal-hal yang dapat disentuh. Ini dikarenakan aturan spiritualisme atau agama, selera, atau ketidakmampuan secara fisik, seperti alergi.
Ketika seseorang mengalami reaksi alergi, ia dapat mengalami gatal-gatal, mata berair, bersin atau rasa nyeri ringan. Tapi, ada pula yang mengalami reaksi besar seperti pembengkakan, sesak napas, atau hilang kesadaran yang membahayakan mereka.
Dilansir dari Cleveland Clinic, alergi adalah reaksi berlebihan ketika sistem imun kita bertemu dengan hal baru. Ini bisa terjadi dari sentuhan, hirupan, atau mengkonsumsi sesuatu yang dianggap oleh tubuh kita berbahaya.
Kemudian, sistem imun kita akan bekerja untuk menyerang zat-zat baru tersebut. Dari serangan ini, akan muncul efek samping atau reaksi pada tubuh kita.
Seseorang dapat alergi terhadap satu atau dua hal umum, lalu ada mereka yang alergi terhadap banyak sekali hal unik. Karena itu, mereka harus menyesuaikan rutinitas dan gaya hidup mereka agar tidak terkena serangan alergi.
Baca Juga: Tak Selalu Bersin, Ini 5 Tanda Dirimu Alergi Debu dan Cara Mengatasinya
Gejala
Dilansir dari Mayoclinic, gejala-gejala yang dialami dari alergi dapat berbeda-beda tergantung dengan penyebabnya.
Mereka yang mengalami alergi terhadap polen atau sesuatu yang dihirup biasanya akan mengalami bersin-bersin, gatal di kulit, hidung, mata atau langit-langit mulut, hidung beringus, lelah, dan mata sembap.
Apabila alergi disebabkan oleh makanan yang terkonsumsi, kita akan mengalami gatal di mulut, bengkak di bibir, lidah, wajah hingga tenggorokan, ruam, sakit perut, diare, hingga sesak napas.
Gigitan atau sengatan serangga dapat menyebabkan reaksi alergi pula. Biasanya kita dapat mengalami nyeri dan bengkak pada area tergigit atau disengat, ruam dan gatal pada tubuh, kulit memerah dan menghangat, hingga sesak napas.
Alergi akibat obat dapat terlihat dari ruam pada kulit, rasa gatal, wajah membengkak, sesak napas, mual, diare, hingga pusing.
Sentuhan pada kulit juga dapat mengakibatkan reaksi alergi. Biasanya yang terjadi adalah gatal-gatal pada area tersebut, ruam kemerahan hingga coklat, kulit mengering atau mengelupas.
Mengapa Bisa Terjadi?
Dilansir dari Carolina Asthma, alergi bisa terjadi kapan saja terhadap semua orang. Salah satu faktor pendorong terbesar adalah genetik.
30-50% peluang alergi dapat turun ke anak apabila hanya satu dari orang tua memiliki alergi. Lalu peluang meningkat hingga 60-80% apabila kedua orang tua memiliki alergi yang sama.
Biasanya reaksi alergi dapat terlihat sejak usia muda, tapi ada banyak orang yang mengalami alergi pada usia dewasa pula.
Kebanyakan alergi dapat bertahan seumur hidup. Namun, ada pula yang dapat menghilang dengan sendirinya.
Faktor pendorong kedua adalah lingkungan. Seperti pindah rumah, dimana tubuh akan terekspos dengan hal-hal baru dan gaya hidup baru.
Tes Alergi
Dilansir dari Allergy UK, kita dapat melakukan tes alergi dengan meminta surat rujuk dari dokter. Awalnya kita dapat bertemu dengan dokter umum dan menjelaskan keluhan kita dan kecurigaan terhadap alergi tertentu.
Setelah dokter mendapatkan penjelasan kapan dan bagaimana gejala terjadi, serta memang ada kemungkinan terjadinya alergi, beliau dapat merekomendasikan tes alergi atau bertemu dengan ahli alergi.
Tes alergi paling umum adalah dengan memaparkan beberapa zat yang biasanya menyebabkan alergi pada kulit. Biasanya dilakukan di lengan atau punggung dengan jarum. Setelah 15 menit, kita dapat melihat reaksinya melalui pembengkakan pada area tersebut.
Selain menggunakan jarum, tes alergi dapat dilakukan dengan alergen disentuhkan pada kulit pula. Namun, periode monitor lebih lama, sekitar 48 jam.
Tes darah juga dapat dilakukan untuk mencari tahu alergi. Para teknisi laboratorium akan menganalisa bagaimana antibodi bereaksi terhadap beberapa macam alergen.
Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Alergi Autoimun agar Tidak Mudah Kambuh, Ampuh dan Efektif!
Pengobatan
Sayangnya, alergi sama sekali tidak dapat dicegah dan diprediksi. Alergi dapat terjadi kapan saja secara tiba-tiba, dan tidak dapat dicegah, namun dapat diatasi.
Ada banyak obat alergi yang dapat dibeli di apotek. Obat-obatan ini biasanya adalah obat yang diminum atau dikonsumsi.
Selain itu, ada obat alergi dalam bentuk suntikan yang memerlukan bantuan dokter atau ahli medis untuk digunakan. Obat alergi ini juga tidak mudah didapatkan, biasanya hanya tersedia di rumah sakit atau klinik yang menerima pasien gawat darurat.