JawaPos.com – Pengelolaan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya berkaitan dengan pengaturan makanan saat sarapan, makan siang, atau makan malam.
Banyak penyandang diabetes juga menghadapi persoalan lain yang sering luput dari perhatian, yakni munculnya rasa lapar berlebihan di antara waktu makan atau yang dikenal sebagai fake hunger.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengirimkan sinyal lapar meski kadar gula darah sebenarnya sudah tinggi. Pada penyandang diabetes tipe 2, resistensi insulin membuat glukosa tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sel-sel tubuh sebagai sumber energi.
Akibatnya, otak menerima sinyal seolah tubuh kekurangan energi dan memicu rasa lapar.
Baca Juga: 8 Manfaat Jus Apel untuk Kesehatan, Bantu Jaga Jantung hingga Cegah Diabetes
Fenomena tersebut telah lama menjadi perhatian para peneliti. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care dan Nature Reviews Endocrinology menunjukkan bahwa resistensi insulin dapat mengganggu mekanisme pengaturan rasa kenyang dan energi di otak sehingga meningkatkan kecenderungan makan berlebihan pada sebagian pasien diabetes tipe 2.
Akibatnya, banyak penderita diabetes memilih mengonsumsi camilan di luar jadwal makan utama. Sebagian lainnya justru menahan lapar terlalu lama, yang kemudian berujung pada konsumsi makanan berlebih saat waktu makan tiba. Kedua kondisi tersebut berpotensi menyulitkan pengendalian gula darah.
Menurut dokter sekaligus konsultan pengembangan produk nutrisi, dr. Kelvin Candiago, tantangan terbesar bagi penyandang diabetes sering kali bukan hanya saat makan utama, melainkan ketika rasa lapar muncul di sela-sela aktivitas harian.
Baca Juga: Waspada! 7 Tanda Diabetes yang Sering Diabaikan, dari Gula Darah hingga Gejala Fisik yang Dialami
"Bagi penyandang diabetes, tantangannya bukan hanya mengelola gula darah saat makan utama, tetapi juga saat muncul rasa lapar di antara waktu makan," ujarnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa jenis makanan yang dikonsumsi saat ngemil berpengaruh terhadap respons gula darah. Konsep yang banyak digunakan adalah glycemic load atau beban glikemik, yakni ukuran yang menggambarkan seberapa besar dampak suatu makanan terhadap kenaikan gula darah.
Penelitian dalam The American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa pola makan dengan beban glikemik rendah cenderung menghasilkan fluktuasi gula darah yang lebih stabil serta membantu meningkatkan rasa kenyang lebih lama dibandingkan makanan dengan beban glikemik tinggi.
Di tengah meningkatnya prevalensi diabetes, sejumlah produsen pangan mulai mengembangkan produk dengan pendekatan beban glikemik rendah. "Hasil uji klinis ini menunjukkan bahwa camilan dengan beban glikemik rendah, seperti mGanik Nutrition, memiliki respons glukosa yang lebih baik sehingga dapat membantu pasien diabetes mengelola kondisi tersebut," katanya.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang dapat menjadi solusi tunggal dalam pengelolaan diabetes.
Pengendalian penyakit ini tetap membutuhkan kombinasi pola makan seimbang, aktivitas fisik, kepatuhan terhadap terapi medis, serta pemantauan gula darah secara rutin.
Data International Diabetes Federation menunjukkan jumlah penyandang diabetes di dunia terus meningkat setiap tahun. Indonesia sendiri termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia, sehingga edukasi mengenai pola makan dan pengelolaan rasa lapar menjadi bagian penting dalam upaya mencegah komplikasi jangka panjang.