← Beranda
Riset Johns Hopkins: Trik Terselubung Kemasan Vape yang Hipnotis Anak Muda Indonesia
Ryandi ZahdomoRabu, 24 Juni 2026 | 05.50 WIB
Ilustrasi vape or electric cigarette. (Pixabay/Antara)

 

JawaPos.com - Mayoritas produk rokok elektrik atau vape yang beredar di Indonesia ternyata sengaja dirancang untuk memikat anak-anak dan remaja. Menggunakan kedok desain kemasan yang lucu serta ribuan varian rasa yang menggugah selera, industri ini ditengarai tengah gencar membidik pasar generasi muda sebagai pengguna masa depan.

Fakta mengkhawatirkan ini terungkap oleh penelitian terbaru dari Institute for Global Tobacco Control (IGTC) di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Melalui studi komprehensif di tiga kota besar yakni Jakarta, Medan, dan Surabaya, para peneliti menguliti strategi pemasaran terselubung yang digunakan oleh produsen vape di tanah air.

Kartun dan Rasa Buah: Senjata Utama Jerat Remaja
Berdasarkan analisis terhadap 825 produk rokok elektrik, tim riset menemukan data yang mencengangkan. Sebanyak 58 persen kemasan vape terbukti menggunakan elemen visual yang sangat akrab dengan dunia anak muda.

Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control ini menyebutkan, produsen kerap memanfaatkan karakter kartun, animasi, meme, hingga tipografi unik. Tak jarang, ditemukan pula ilustrasi telinga kelinci, dekorasi berkilau, hingga referensi visual yang identik dengan mainan dan video game populer.

Strategi ini kian agresif jika melihat varian rasa yang ditawarkan. Tercatat, 96 persen produk dengan sengaja mencantumkan setidaknya satu jenis rasa pada kemasannya, didominasi oleh aroma buah-buahan segar dan makanan penutup (dessert).

Bahkan, hampir seperempat produk menggunakan istilah concept flavors seperti "tropical breeze" atau "dark sparkle" untuk memicu rasa penasaran sensorik konsumen pemula.

Menanti Taji PP Nomor 28 Tahun 2024
Profesor Katherine Clegg Smith, PhD, dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, menegaskan bahwa temuan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah Indonesia untuk segera memperketat regulasi kemasan.

"Persyaratan peringatan kesehatan berukuran besar ditargetkan untuk memberikan dua dampak besar. Pertama, mencegah konsumen baru mencoba dan meningkatkan kesadaran risiko. Kedua, membatasi ruang gerak industri tembakau dalam menggunakan visual manipulatif untuk memasarkan produk mereka," ujar Profesor Smith.

Kondisi ini pula yang mempercepat urgensi penerapan penuh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024. Regulasi anyar ini dirancang untuk memangkas daya tarik vape melalui aturan yang sangat ketat, antara lain:

- Wajib memasang peringatan kesehatan bergambar (PHW) sebesar 50 persen di kemasan.

- Larangan total terhadap penggunaan perisa selain aroma tembakau.

- Pembatasan ketat iklan produk tembakau dan vape di platform media sosial.

- Penaikan batas usia minimum pembelian menjadi 21 tahun.

Global Mulai Melarang, Bagaimana Indonesia?
Langkah Indonesia ini sejalan dengan tren global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa varian rasa adalah magnet utama yang menjerumuskan anak muda ke dalam jeratan nikotin. Saat ini, lebih dari 50 negara telah melarang penjualan produk tembakau berperisa demi melindungi generasi muda mereka.

Ketua Pusat Pendukung Pengendalian Tembakau Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPT-APMI), Dr. Sumarjati Arjoso, menilai hilangnya varian rasa non-tembakau akan memukul mundur strategi pemasaran industri vape yang menyasar remaja.

"Kami memperkirakan potensi pelarangan perisa non-tembakau ini akan memberikan dampak signifikan. Kita harus mengawal ketat implementasi regulasi ini di lapangan, mengingat industri sangat bergantung pada varian rasa untuk menguasai pasar Indonesia," tegas Dr. Sumarjati.

Melalui penerapan penuh PP Nomor 28 Tahun 2024 serta kewajiban visual kemasan polos berbayang peringatan medis, Indonesia diharapkan mampu memutus rantai regenerasi perokok elektrik sebelum terlambat.

EDITOR: Estu Suryowati