← Beranda
Cara Atlet Sepak Bola Mengembalikan Performa saat Jeda Babak Kedua
Tazkia Royyan Hikmatiar• Minggu, 21 Juni 2026 | 18.11 WIB
Swiss bantai Bosnia 4-1 lewat taktik jeda hidrasi. (Instagram/@swissnatimen)

 

JawaPos.com – Waktu istirahat selama 15 menit pada pertandingan sepak bola ternyata menjadi momen penting yang menentukan performa pemain sepak bola di babak kedua. Bagi atlet profesional, jeda tersebut bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan kesempatan untuk memulihkan energi, mengganti cairan tubuh yang hilang, dan menjaga fokus agar tetap optimal.

Director of Sports Performance and Nutrition Education Herbalife Dr. Krissy Ladner mengatakan, banyak atlet kehilangan cairan dalam jumlah besar selama pertandingan. Kehilangan cairan tersebut dapat berdampak langsung terhadap kemampuan fisik maupun konsentrasi pemain.

“Atlet dapat kehilangan antara satu hingga tiga liter keringat setiap jam selama latihan. Bahkan penurunan berat badan sebesar 2 persen akibat kehilangan cairan sudah cukup untuk menurunkan performa secara signifikan,” kata Dr. Ladner kepada wartawan, Sabtu (20/6).

Baca Juga: Fenomena El Nino Godzilla Buat Nyamuk Semakin Buas, Dokter Minta Lakukan Langkah Antisipasi

Menurut dia, dehidrasi dapat mengurangi kecepatan sprint, menurunkan kemampuan menggiring bola, memperlambat waktu reaksi, hingga meningkatkan rasa lelah. Jika kehilangan cairan mencapai 4 persen dari berat badan, kondisi tersebut bahkan dapat memerlukan penanganan medis.

Karena itu, atlet memanfaatkan waktu jeda pertandingan untuk mengembalikan energi dan cairan tubuh yang hilang. Keringat yang keluar saat bermain bukan hanya terdiri atas air, tetapi juga mengandung elektrolit seperti natrium, klorida, kalium, magnesium, dan kalsium.

Natrium dan klorida berfungsi menjaga keseimbangan cairan dan kontraksi otot. Kalium membantu fungsi otot dan saraf, sementara magnesium dan kalsium berperan dalam kesehatan otot dan transmisi sinyal saraf.

Baca Juga: Apakah Penggunaan Obat Nyamuk Aman untuk Anak? Begini Kata Dokter

Ketika kadar mineral tersebut menurun, tubuh dapat menunjukkan berbagai gejala seperti kram otot, sakit kepala, kelelahan, pusing, hingga melambatnya respons tubuh. Dr. Ladner menjelaskan, strategi pemulihan atlet selama jeda pertandingan umumnya berfokus pada tiga aspek utama, yakni karbohidrat, elektrolit, dan cairan.

Untuk karbohidrat, atlet dianjurkan mengonsumsi 30 hingga 60 gram karbohidrat sederhana yang mudah dicerna. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui minuman olahraga, pisang, gel karbohidrat, atau camilan energi.

Asupan tersebut bertujuan mengisi kembali cadangan glikogen otot yang digunakan selama aktivitas berintensitas tinggi seperti sprint dan perubahan arah. Selain itu, karbohidrat juga membantu menjaga fokus dan fungsi otak selama pertandingan.

Dari sisi elektrolit, natrium menjadi komponen paling penting karena berperan mempertahankan cairan di dalam tubuh dan membantu mencegah dehidrasi.

Sementara itu, atlet disarankan mengonsumsi sekitar 350 hingga 700 mililiter cairan selama jeda pertandingan. Selain itu, mereka juga dianjurkan minum sekitar 120 hingga 240 mililiter cairan setiap 15 menit sepanjang pertandingan.

“Jika Anda beraktivitas lebih dari 60 menit atau berkeringat secara signifikan, maka air putih saja kemungkinan tidak cukup. Tubuh membutuhkan natrium, dan apabila intensitas latihan cukup tinggi, tubuh juga membutuhkan karbohidrat,” jelas Dr. Ladner.

Baca Juga: Tak Semua Tumor Otak Berarti Kanker Ganas, Ini Faktanya

Dia menambahkan, prinsip hidrasi yang diterapkan pada atlet elite juga dapat diterapkan masyarakat umum yang rutin berolahraga, seperti pelari, pesepeda, maupun pemain sepak bola amatir. Salah satu cara sederhana untuk mengevaluasi hidrasi adalah menimbang berat badan sebelum dan sesudah olahraga. Penurunan berat badan hingga 2 persen atau lebih dapat menjadi tanda dehidrasi.

Selain itu, warna urine juga dapat menjadi indikator. Warna kuning muda atau menyerupai limun menunjukkan kondisi hidrasi yang baik, sedangkan warna yang lebih gelap dapat menandakan tubuh kekurangan cairan.

“Ketika peluit waktu istirahat dibunyikan, jangan menganggapnya sebagai jeda semata. Itu adalah momen ketika hasil babak kedua mulai ditentukan, seteguk demi seteguk,” tutur Dr. Ladner.

Baca Juga: Dokter Sebut Obesitas Tingkatkan Risiko Penyakit pada Anak

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah