← Beranda
Tak Semua Tumor Otak Berarti Kanker Ganas, Ini Faktanya
Nanda PrayogaSabtu, 20 Juni 2026 | 02.17 WIB
Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Tumor otak masih menjadi salah satu penyakit yang kerap menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang langsung mengaitkan tumor otak dengan kanker ganas dan kondisi yang sulit disembuhkan.

Padahal, sebagian besar kasus tumor otak primer justru bersifat jinak dan dapat ditangani dengan baik apabila terdeteksi sejak dini.

Melihat hal ini, Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet mengungkapkan bahwa tumor otak terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang muncul akibat penyebaran kanker dari organ lain seperti paru-paru, payudara, maupun tiroid.

Ia menjelaskan, berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer tergolong jinak, sementara sisanya sekitar 28 persen bersifat ganas.

“Saat ini banyak masyarakat menganggap semua tumor otak pasti ganas. Faktanya, sebagian besar tumor otak primer bersifat jinak. Namun, baik tumor jinak maupun ganas tetap dapat berbahaya karena berada di dalam rongga kepala yang terbatas sehingga dapat menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi vital,” kata dia dalam sesi edukasi bertema "Tumor Otak dan Tatalaksananya" yang diselenggarakan RS Bintaro di Jakarta, Kamis (18/6).

Tekanan yang ditimbulkan oleh pertumbuhan tumor dapat mengganggu fungsi berbagai bagian otak sehingga memicu beragam keluhan neurologis.

Tanda-tanda yang Harus Diwaspadai

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala kronis yang semakin berat dan disertai gangguan penglihatan, kejang yang pertama kali muncul saat dewasa, gangguan keseimbangan, kelemahan anggota gerak, penurunan pendengaran, perubahan perilaku atau kepribadian, hingga muntah menyemprot yang disertai penurunan kesadaran.

Pada kondisi tertentu, tumor otak bahkan dapat berkembang menjadi kegawatdaruratan medis. Misalnya ketika terjadi hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak, maupun perdarahan pada jaringan tumor.

Situasi tersebut membutuhkan penanganan segera untuk mencegah kerusakan otak permanen hingga risiko kematian.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan pencitraan seperti CT Scan dan MRI dengan kontras menjadi langkah penting. Menurut dr. Evodia, pemeriksaan tanpa kontras belum tentu mampu menampilkan gambaran tumor secara optimal sehingga berpotensi menyulitkan proses evaluasi.

Dalam penanganannya, rumah sakit sendiri seringkali menerapkan pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Pilihan terapi yang tersedia meliputi pengobatan untuk mengurangi gejala dan pembengkakan otak, operasi bedah saraf terbuka maupun dengan teknik mikroskopik dan endoskopik, radioterapi, hingga kemoterapi pada jenis tumor tertentu seperti glioblastoma.

Salah satu teknologi yang kini menjadi alternatif terapi pada kasus tertentu adalah Gamma Knife Radiosurgery.

Metode ini memungkinkan dokter mengendalikan pertumbuhan tumor menggunakan radiasi yang sangat terfokus tanpa memerlukan sayatan operasi.

Teknologi tersebut umumnya digunakan pada tumor berukuran kecil dan hanya memerlukan satu kali tindakan. Karena tidak melalui prosedur pembedahan konvensional, pasien juga tidak mengalami luka operasi.

Melalui kegiatan edukasi ini, RS Premier Bintaro sendiri menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala neurologis yang berlangsung lama dan semakin memburuk.

Pemeriksaan sedini mungkin dinilai dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan sekaligus mengurangi risiko komplikasi yang lebih berat.

Rumah sakit tersebut juga berharap masyarakat semakin memahami bahwa kemajuan teknologi medis saat ini telah menghadirkan berbagai pilihan terapi yang efektif dan aman bagi pasien tumor otak, sehingga diagnosis tumor otak tidak selalu berarti prognosis yang buruk apabila ditangani secara tepat dan cepat.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra