← Beranda
Jangan Sepelekan Penglihatan Kabur pada Lansia, Katarak Perlu Dideteksi Sejak Dini
Nanda Prayoga• Kamis, 18 Juni 2026 | 17.11 WIB
Ilustrasi penglihatan kabur yakni katarak oleh lansia. (Dok. Singapore National Eye Centre (SNEC)).

JawaPos.com - Memasuki usia lanjut, berbagai fungsi tubuh memang mengalami penurunan secara alami. Namun, tidak semua perubahan yang muncul harus dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

Salah satu kondisi yang sering luput dari perhatian adalah katarak, gangguan pada mata yang menjadi penyebab utama kebutaan di dunia. Padahal, kondisi ini dapat ditangani secara efektif melalui penanganan medis yang tepat.

Menurut dr. Melissa Wong, Head & Senior Consultant, Cataract & Comprehensive Ophthalmology Department, Singapore National Eye Centre (SNEC), katarak terjadi ketika lensa alami mata kehilangan kejernihannya sehingga kemampuan melihat menjadi terganggu.

"Katarak adalah kondisi ketika lensa alami mata manusia mengalami perubahan warna menjadi kekuningan atau menjadi keruh. Penyebab paling umum adalah penuaan," ujar dr. Melissa Wong di Jakarta.

Perubahan pada lensa mata umumnya mulai terjadi jauh sebelum gejalanya dirasakan. Proses tersebut dapat dimulai sejak usia 40 hingga 50 tahun, meski pada tahap awal biasanya belum menimbulkan keluhan yang berarti.

Menurut dr. Melissa, sebagian besar orang mulai menyadari adanya gangguan penglihatan saat memasuki usia sekitar 60 tahun, ketika tingkat kekeruhan lensa semakin meningkat.

"Perubahan awal pada lensa mata dapat mulai terjadi sejak usia 40 hingga 50 tahun, meskipun biasanya belum terasa atau belum mengganggu penglihatan. Kebanyakan pasien mulai menyadari perubahan penglihatan pada usia sekitar 60 tahun," katanya.

Karena berkaitan erat dengan proses penuaan, hampir setiap orang berpotensi mengalami katarak pada suatu tahap kehidupan, meskipun tingkat keparahannya dapat berbeda-beda.

Salah satu tantangan dalam penanganan katarak adalah gejalanya yang berkembang secara perlahan.

Banyak orang menganggap penurunan penglihatan sebagai hal yang wajar seiring bertambahnya usia sehingga menunda pemeriksaan ke dokter mata.

Padahal, ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya atau silau, perubahan ukuran kacamata yang terlalu sering, kesulitan melihat dalam kondisi pencahayaan redup, kebutuhan cahaya yang lebih terang saat membaca, menurunnya kemampuan membedakan kontras, hingga warna benda yang terlihat semakin kusam.

Karena berkembang secara bertahap, tidak sedikit pasien yang baru mencari pertolongan medis ketika gangguan penglihatan mulai menghambat aktivitas sehari-hari.

Padahal, dampak katarak tidak hanya terbatas pada kemampuan melihat. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kemandirian, aktivitas sosial, hingga kesehatan mental seseorang. dr. Melissa mengungkapkan bahwa berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara kualitas penglihatan dan kualitas hidup.

"Banyak penelitian medis menunjukkan bahwa kualitas hidup dapat menurun ketika penglihatan memburuk," ungkapnya.

Saat penglihatan terus menurun, berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan mudah, seperti membaca, menonton televisi, bekerja, melukis, hingga mengemudi, menjadi semakin sulit.

Akibatnya, sebagian orang memilih mengurangi bahkan menghentikan kegiatan yang mereka sukai.

"Sebagian orang bahkan berhenti melakukan hal-hal yang mereka sukai karena tidak dapat melihat dengan baik. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental mereka," tambahnya.

Kondisi tersebut dapat memicu rasa ketergantungan, menurunkan kepercayaan diri, hingga meningkatkan risiko kecemasan dan depresi pada lansia.

Kapan Operasi Katarak Diperlukan?

Tidak semua pasien katarak harus langsung menjalani operasi. Penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan serta kondisi masing-masing pasien.

Pada tahap awal, dokter dapat merekomendasikan penggunaan kacamata atau metode konservatif lainnya untuk membantu memperbaiki kualitas penglihatan.

Namun, ketika katarak telah memasuki tahap sedang hingga berat dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, operasi biasanya menjadi pilihan yang lebih efektif.

"Untuk katarak tahap awal, pendekatan konservatif biasanya dapat dipertimbangkan terlebih dahulu. Namun jika katarak sudah berada pada tingkat sedang atau berat, operasi dapat menjadi pilihan," jelas dr. Melissa.

Selain tingkat keparahan katarak, dokter juga akan mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan serta kemungkinan adanya penyakit mata lain, seperti glaukoma, gangguan retina, atau mata malas yang dapat memengaruhi hasil operasi.

Risiko Menunda Penanganan

Masih banyak masyarakat yang memilih menunggu hingga katarak benar-benar parah sebelum mempertimbangkan operasi. Padahal, langkah tersebut justru dapat meningkatkan risiko komplikasi.

Menurut dr. Melissa, katarak yang berkembang hingga tahap lanjut dapat memicu peningkatan tekanan di dalam bola mata serta melemahkan struktur yang menopang lensa.

"Katarak yang sudah sangat matang atau hipermatur memiliki risiko operasi yang lebih tinggi dibandingkan katarak yang ditangani lebih awal," ujarnya.

Pada kondisi tersebut, risiko komplikasi selama maupun setelah operasi menjadi lebih besar, termasuk gangguan pada kornea, berkurangnya dukungan lensa, serta waktu pemulihan yang lebih panjang.

Kekhawatiran terhadap prosedur operasi masih menjadi alasan sebagian pasien menunda pengobatan. Padahal, perkembangan teknologi medis telah menjadikan operasi katarak sebagai salah satu tindakan bedah mata yang aman dan efektif.

dr. Melissa menjelaskan bahwa sebagian besar operasi dilakukan menggunakan anestesi lokal atau anestesi topikal sehingga risiko terkait pembiusan relatif rendah. Untuk operasi katarak rutin.

Prosedurnya umumnya hanya berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit. 

Meski demikian, risiko komplikasi tetap ada meskipun sangat jarang terjadi. Salah satu komplikasi paling serius adalah endophthalmitis atau infeksi berat di dalam mata yang dapat menyebabkan kebutaan, dengan angka kejadian sekitar 0,01 persen.

Kemajuan teknologi juga terus meningkatkan akurasi dan efektivitas operasi katarak. Salah satu inovasi yang kini digunakan adalah teknologi femtosecond laser yang membantu meningkatkan presisi tindakan, terutama pada kasus katarak yang lebih kompleks.

Selain itu, teknologi phacoemulsification atau fakoemulsifikasi dengan sistem hybrid memungkinkan proses penghancuran dan pengangkatan lensa yang keruh dilakukan lebih cepat dan efisien.

Teknologi tersebut membantu mengurangi trauma pada jaringan mata sehingga proses pemulihan pascaoperasi dapat berlangsung lebih nyaman dan optimal.

dr. Melissa mengingatkan bahwa penurunan kualitas penglihatan tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi penuaan yang harus diterima begitu saja tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Ia menganjurkan masyarakat, khususnya yang berusia di atas 60 tahun, untuk menjalani pemeriksaan mata secara berkala meskipun belum merasakan gangguan yang signifikan.

"Jika Anda berusia di atas 60 tahun dan belum pernah menjalani pemeriksaan mata menyeluruh, sebaiknya periksakan mata ke dokter spesialis mata," sarannya.

Menurutnya, diagnosis yang dilakukan lebih awal memungkinkan penanganan yang lebih tepat sehingga risiko penurunan kualitas hidup akibat katarak dapat diminimalkan.

"Operasi katarak umumnya memberikan manfaat besar karena katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling umum namun dapat dipulihkan di dunia," pungkasnya.

Dengan deteksi dini, pemeriksaan rutin, dan penanganan yang tepat waktu, lansia dapat mempertahankan kualitas penglihatannya sehingga tetap aktif, mandiri, dan menikmati berbagai aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra