← Beranda
Inggris Gunakan Pendekatan Harm Reduction, Vape Dominasi Metode Berhenti Merokok
Rian AlfiantoSelasa, 16 Juni 2026 | 00.29 WIB
Ilustrasi kandungan nikotin pada rokok. (Pod Salt UK)

 

JawaPos.com - Rokok elektrik atau vape menjadi alat bantu yang paling banyak digunakan perokok dewasa di Inggris yang berupaya berhenti merokok. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah JAMA Network Open yang menunjukkan bahwa penggunaan vape sebagai sarana berhenti merokok terus meningkat dan dikaitkan dengan peluang keberhasilan yang lebih tinggi dibanding sejumlah metode lainnya.

Meski demikian, para peneliti dan akademisi mengingatkan bahwa produk tembakau alternatif tetap mengandung risiko kesehatan. Karena itu, penggunaannya perlu dipahami dalam konteks pengurangan risiko (harm reduction) bagi perokok dewasa, bukan sebagai produk yang aman bagi semua kalangan.

Penelitian berjudul Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success (2025) menemukan bahwa sekitar 40 persen perokok dewasa di Inggris pada periode 2023–2024 menggunakan vape saat mencoba menghentikan kebiasaan merokok.

Baca Juga: Pergaulan Bebas Picu Tingginya Dispensasi Kawin di Kabupaten Gresik

Riset yang dipimpin Principal Research Fellow di UCL Alcohol and Tobacco Research Group Sarah E. Jackson, juga menunjukkan bahwa penggunaan metode yang dinilai lebih efektif dapat meningkatkan peluang seseorang untuk berhasil meninggalkan rokok konvensional.

"Upaya beralih dari kebiasaan merokok dengan bantuan vape memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain," kata Sarah E. Jackson, dikutip Senin (15/6).

Temuan tersebut menambah daftar penelitian yang mengkaji berbagai pendekatan penghentian merokok, terutama bagi kelompok perokok dewasa yang mengalami kesulitan untuk berhenti secara total.

Baca Juga: Kaya Vitamin, Ini 6 Manfaat Konsumsi Lemon bagi Kesehatan Tubuh

Terpisah, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad), Prof. Dr. drg. Amaliya, M.Sc., Ph.D., menilai perkembangan penggunaan produk tembakau alternatif di Inggris menarik untuk dicermati dari perspektif ilmiah dan kesehatan masyarakat.

Menurut dia, Inggris menjadi salah satu contoh negara yang mengadopsi pendekatan harm reduction atau pengurangan risiko sebagai bagian dari strategi pengendalian tembakau bagi perokok dewasa.

“Perkembangan penggunaan rokok elektrik sebagai alat bantu beralih dari kebiasaan merokok di Inggris menjadi salah satu studi kasus paling menonjol secara global dalam menggunakan inovasi untuk mengurangi bahaya tembakau. Pendekatan ini dipandang sebagai pengurangan bahaya yang proaktif dan didukung data ilmiah mengenai efektivitasnya membantu perokok dewasa beralih,” ujar Amaliya.

Dia menjelaskan, sebagian perokok dewasa menilai vape lebih mampu menggantikan kebiasaan merokok dibanding terapi pengganti nikotin atau nicotine replacement therapy (NRT). Seperti koyo maupun permen nikotin.

Salah satu alasannya adalah karena perangkat tersebut dapat meniru aspek perilaku merokok, termasuk gerakan tangan ke mulut dan sensasi tertentu yang selama ini menjadi bagian dari kebiasaan merokok. Selain itu, pengguna juga dapat mengatur kadar nikotin secara bertahap sehingga dinilai membantu mengurangi keinginan untuk kembali menggunakan rokok konvensional.

Amaliya menegaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara rokok konvensional dan produk alternatif seperti vape. Rokok menghasilkan asap melalui proses pembakaran tembakau, sedangkan vape menggunakan sistem pemanasan yang menghasilkan aerosol atau uap.

Baca Juga: Mutu Pelayanan Jadi Ujian Transformasi Kesehatan Indonesia, Teknologi dan AI Tidak Boleh Kalahkan Kemanusiaan

Perbedaan proses tersebut membuat paparan zat berbahaya tertentu yang umum ditemukan dalam asap rokok, seperti TAR dan karbon monoksida, menjadi berbeda. Namun demikian, Amaliya mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak berarti vape bebas dari risiko kesehatan.

“Perokok dewasa yang beralih ke produk alternatif menunjukkan kecenderungan kesehatan gusi yang lebih baik dibandingkan perokok. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa produk alternatif bukan bebas risiko dan penggunaannya harus disertai edukasi yang benar,” ungkap Amaliya.

Dalam penelitiannya mengenai kesehatan rongga mulut dan gingivitis, Amaliya menemukan bahwa perokok cenderung lebih rentan mengalami gangguan kesehatan gusi, perubahan warna gigi, serta penumpukan plak akibat paparan asap hasil pembakaran.

Baca Juga: 6 Sinyal yang Dikirim Tubuh Ketika Hormon Anda Tidak Seimbang

Amaliya menilai edukasi menjadi faktor penting agar masyarakat memahami posisi produk tembakau alternatif secara tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Produk tersebut ditujukan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok, bukan untuk non-perokok, remaja, maupun ibu hamil.

Menurut dia, pendekatan kebijakan dan penelitian mengenai produk tembakau alternatif harus didasarkan pada bukti ilmiah yang objektif, transparan, dan terus diperbarui. Meski berbagai penelitian terus berkembang, Amaliya menekankan bahwa standar terbaik bagi kesehatan tetap berhenti sepenuhnya dari penggunaan produk tembakau maupun nikotin dalam bentuk apa pun.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah