JawaPos.com – Banyak orang mengenal stroke sebagai penyakit yang menyebabkan kelumpuhan atau gangguan bicara. Namun, tidak semua stroke punya tingkat risiko yang sama.
Salah satu jenis yang paling berbahaya adalah stroke perdarahan atau stroke hemoragik. Ini adalah kondisi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan yang dapat berkembang sangat cepat.
Konsultan Bedah Saraf di KPJ Tawakkal Specialist Hospital, Kuala Lumpur, Malaysia, Dr. Nor Faizal Ahmad Bahuri dalam keterangan tertulisnya membagikan pengalaman menangani seorang pria berusia 48 tahun yang mengalami stroke perdarahan secara mendadak.
Peristiwa itu bermula saat pria tersebut makan malam bersama keluarga. Setelah mengeluhkan rasa mual, ia pergi ke kamar kecil. Namun lebih dari 20 menit kemudian, ia tak kunjung kembali.
Saat dicari oleh keluarganya, pria tersebut ditemukan tergeletak dalam keadaan tidak sadar.
"Pasien segera dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Hasil CT scan menunjukkan adanya perdarahan di otak. Meski telah menjalani operasi darurat, pasien meninggal dunia dalam waktu kurang dari 48 jam," jelas Dr. Nor Faizal.
Kasus tersebut menggambarkan bagaimana stroke perdarahan dapat berkembang dalam waktu singkat dan berujung fatal meskipun pasien telah mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Kasus Stroke Sering Jadi Cacat Permanen, Kecepatan Penanganan Jadi Kunci
Tekanan Darah Tinggi Jadi Pemicu Utama
Nor Faizal menjelaskan, secara umum stroke terbagi menjadi dua jenis utama, yakni stroke iskemik akibat penyumbatan aliran darah ke otak dan stroke hemoragik yang disebabkan pecahnya pembuluh darah di otak.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol menjadi penyebab paling umum stroke perdarahan.
"Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi semakin tipis dan rapuh hingga akhirnya pecah," ujarnya.
Selain hipertensi, sejumlah faktor lain yang meningkatkan risiko stroke perdarahan meliputi diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, serta pola hidup yang kurang sehat.
Baca Juga: Data Asuransi: Biaya Perawatan Stroke, Jantung, dan Kanker Naik hingga 2-3 Kali Lipat dalam 5 Tahun
Gejala Sering Diabaikan
Salah satu persoalan terbesar dalam penanganan stroke adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal yang muncul.
Nor Faizal menjelaskan bahwa stroke perdarahan kerap menimbulkan gejala yang mirip dengan stroke pada umumnya, seperti wajah mencong, bicara pelo, dan kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Untuk memudahkan deteksi dini, lanjutnya, masyarakat dianjurkan mengingat metode BE FAST, yakni Balance, Eyes, Face, Arms, Speech dan Time.
Dr. Nor Faizal menjabarkannya sebagai berikut:
- B (Balance): kehilangan keseimbangan secara mendadak.
- E (Eyes): penglihatan kabur atau hilang secara tiba-tiba.
- F (Face): wajah tampak mencong atau tidak simetris.
- A (Arms): lengan atau kaki terasa lemah maupun kebas.
- S (Speech): kesulitan berbicara atau bicara tidak jelas.
- T (Time): segera mencari pertolongan medis.
"Semakin cepat pasien mendapatkan perawatan, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak yang masih bisa dipertahankan," kata Nor Faizal.
Baca Juga: Gejala Stroke Tak Selalu Wajah Turun Sebelah, Waspadai Gejala yang Sering Diabaikan Pasien
Risiko Kematian dan Kecacatan Lebih Tinggi
Berbeda dengan stroke iskemik, lanjut Dr. Nor Faizal, stroke perdarahan hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan CT scan.
Jika ditemukan perdarahan di otak, pasien sering kali membutuhkan tindakan operasi untuk mengurangi tekanan akibat penumpukan darah di dalam tengkorak.
Tekanan yang terus meningkat dapat merusak jaringan otak secara luas dan menyebabkan kematian. Karena itu, stroke perdarahan dikenal memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi dibandingkan jenis stroke lainnya.
Bagi pasien yang selamat dari stroke ini, tantangan belum berakhir. Banyak penyintas harus menghadapi dampak jangka panjang berupa kelumpuhan, gangguan berbicara, kesulitan menelan, penurunan kesadaran, hingga komplikasi infeksi paru-paru.
Menurut Dr. Nor Faizal, kasus stroke masih lebih banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 40 tahun. Risiko pada laki-laki juga cenderung lebih tinggi, salah satunya karena prevalensi kebiasaan merokok yang masih besar.
Waktu Menentukan Keselamatan
Masih banyak masyarakat yang menganggap gejala awal stroke sebagai kelelahan biasa atau bagian dari proses penuaan. Padahal, keterlambatan beberapa jam saja dapat menentukan apakah pasien dapat diselamatkan atau tidak.
Karena itu, tenaga medis terus mengingatkan pentingnya mengenali gejala stroke sejak dini dan segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.
"Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Jika ada tanda-tanda stroke, segera bawa pasien ke rumah sakit. Waktu adalah faktor yang sangat menentukan keselamatan pasien," tutup Dr. Nor Faizal.
Di tengah tingginya angka kematian dan kecacatan akibat stroke, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda awal penyakit ini menjadi langkah sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Bagi yang tertarik untuk melakukan konsultasi terkait stroke atau ingin berobat dengan Dr. Nor Faizal di Malaysia dapat menghubungi nomor +62 877-7427-5785.