← Beranda
Dialami Isyana hingga Selena Gomez, Kenali Cara Penanganan Lupus dan Pencegahannya
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 30 Mei 2026 | 23.48 WIB
Ilustrasi ruam yang jadi salah satu gejala lupus. (dok. freepik)

JawaPos.com - Penyakit lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dialami sejumlah figur publik perempuan seperti penyanyi Indonesia Isyana Sarasvati hingga artis internasional Selena Gomez. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa lupus merupakan penyakit autoimun serius yang membutuhkan diagnosis dan penanganan sejak dini untuk mencegah kerusakan organ.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR mengatakan, lupus memang sulit dicegah sepenuhnya karena penyebab pastinya belum diketahui. Namun, risiko kemunculannya dapat ditekan melalui pengendalian faktor pencetus dan penerapan pola hidup sehat.

"Kalau untuk penyakit autoimun atau lupus ini agak sulit karena penyebab pastinya tidak diketahui. Tapi upaya pencegahan sebenarnya ditekankan pada healthy lifestyle,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (30/5).

Batasi Paparan Matahari hingga Stop Merokok

Menurut dr. Sandra, langkah pencegahan lupus dapat dimulai dengan mengurangi paparan faktor-faktor yang berpotensi memicu penyakit.
Beberapa di antaranya ialah membatasi paparan sinar matahari berlebihan, menghindari bahan kimia tertentu, serta mengurangi paparan polusi udara.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menjaga diri dari infeksi bakteri maupun virus yang diketahui dapat memicu lupus.

“Stop merokok, itu juga salah satu upayanya,” kata dr. Sandra.

Ia menambahkan, pada kasus lupus karena kekurangan vitamin D juga perlu segera dikoreksi karena menjadi salah satu faktor risiko munculnya lupus maupun penyakit autoimun lain.

Stres dan Obesitas Juga jadi Faktor Risiko

Pencegahan lupus juga berkaitan erat dengan pola hidup sehat secara menyeluruh. dr. Sandra menekankan pentingnya mengendalikan stres karena sejumlah penelitian menunjukkan kaitannya dengan penyakit autoimun. Menjaga berat badan ideal juga menjadi bagian penting karena obesitas diketahui meningkatkan risiko.

“Menjaga berat badan ideal karena obesitas juga adalah faktor risiko,” jelasnya.

Isyana dan Selena Gomez jadi Pengingat Pentingnya Deteksi Dini

Sementara itu, Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy mengatakan, kesadaran masyarakat terhadap lupus perlu terus ditingkatkan karena penyakit ini sering sulit dikenali dan menyerupai banyak kondisi lain.

Ia mencontohkan sejumlah figur publik yang hidup dengan lupus, termasuk penyanyi Indonesia Isyana Sarasvati dan artis dunia Selena Gomez.

“Di Indonesia ada Isyana Sarasvati. Kalau global ada Selena Gomez. Bahkan Selena Gomez sudah harus transplantasi ginjal karena kegagalan ginjal akibat SLE ini,” ujar dr. Feddy.

Menurutnya, lupus paling banyak menyerang perempuan muda usia 15 hingga 45 tahun. Karena gejalanya beragam, proses diagnosis bahkan bisa memakan waktu hingga enam tahun.

Padahal, kata dr. Fedyy, kerusakan organ dapat terjadi dalam lima tahun setelah diagnosis ditegakkan sehingga deteksi dan terapi dini menjadi sangat penting.

“Sangat penting untuk inisiasi dini dan penanganan dini dengan dokter,” katanya.

Penanganan Lupus Kini Lebih Terarah

Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, pendekatan terapi lupus kini tidak hanya berfokus mengatasi kekambuhan atau flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi dan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah dalam jangka panjang.

Pendekatan tersebut juga bertujuan mencegah kerusakan organ serta mengurangi penggunaan glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.

Rekomendasi serupa turut disampaikan The European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) yang menekankan pentingnya remisi, pencegahan flare, pembatasan kerusakan organ, dan pengurangan penggunaan steroid dalam penanganan SLE.

Terapi Biologis jadi Harapan Baru

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay menyebut saat ini penanganan lupus telah berbasis sains dengan pemahaman yang lebih jelas terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran interferon tipe I.

Menurutnya, tersedia terapi inovatif yang bekerja lebih terarah untuk membantu mengendalikan aktivitas lupus.

“Saat ini kita sudah mempunyai terapi yang inovatif juga, bagaimana kita menargetkan interferon tipe 1 sehingga tidak hanya mengontrol flare, tapi juga memberikan kualitas hidup yang baik untuk jangka panjang,” katanya.

Salah satu inovasi terbaru ialah Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia untuk SLE yang bekerja menghambat jalur interferon tipe I, yang diketahui berperan dalam patogenesis lupus.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy mengatakan pendekatan terapi lupus kini bergerak menuju pengobatan yang lebih spesifik dan berbasis bukti ilmiah.

“Pendekatan penanganan SLE kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti,” tuturnya.

Kontrol Rutin jadi Kunci Kualitas Hidup Pasien

Meski lupus merupakan penyakit kronis, dr. Sandra menegaskan pasien tetap memiliki peluang menjalani hidup berkualitas dengan pengobatan dan pemantauan yang tepat.

Menurutnya, kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, dan kepatuhan menjalani terapi menjadi faktor penting agar pasien dapat mencapai remisi lebih cepat dan terhindar dari kerusakan organ permanen.

“Meski SLE merupakan penyakit kronis, pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup berkualitas baik. Kuncinya adalah kontrol rutin dan kepatuhan dalam menjalani terapi optimal,” ujar Sandra.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Lupus, Kondisi Autoimun yang Sulit Didiagnosis dan Gejalanya

Esra menambahkan, peningkatan kesadaran publik perlu terus diperkuat agar masyarakat mampu mengenali gejala lupus lebih awal dan pasien memperoleh penanganan yang tepat.

“Kami berharap semakin banyak pasien SLE di Indonesia dapat bergerak dari beban penyakit menuju kualitas hidup yang lebih baik,” tutup Esra.

 

EDITOR: Kuswandi