← Beranda
Mengenal Penyakit Lupus, Kondisi Autoimun yang Sulit Didiagnosis dan Gejalanya
Alberta Dionny NatanuelSabtu, 30 Mei 2026 | 23.35 WIB
Foto wajah seorang penderita lupus (Healthline)

JawaPos.com - Manusia mengenal berbagai penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan beberapa di antaranya tergolong mustahil untuk disembuhkan, terutama jenis penyakit yang menyerang sistem imun mereka sendiri.

Dilansir dari Healthline, salah satu contohnya adalah lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Penyakit ini memengaruhi cara kerja sistem kekebalan tubuh kita dan merupakan jenis lupus yang paling umum ditemukan.

Alih-alih melindungi tubuh dari ancaman luar seperti penyakit, virus, maupun bakteri, sistem imun penderita lupus justru keliru menganggap jaringan tubuh yang sehat sebagai musuh.

Jika tidak ditangani dengan baik, penderita lupus dapat mengalami gejala yang jauh lebih parah. Namun, dengan bantuan pengobatan modern saat ini, para penderita lupus dapat menjalani hidup dengan jauh lebih baik.

Baca Juga: Jangan Menerka-nerka, Diagnosis Lupus Tidak Bisa Hanya Lewat Satu Tes

Penyebab

Dilansir dari Alodokter, penyebab lupus hingga saat in masih belum pasti dan masih diteliti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat memicu penyakit ini. 

Faktor pertama adalah lingkungan tempat tinggal. Paparan sinar matahari yang berlebihan, asap rokok atau bahan kimia tertentu, seperti merkuri dan silika, dapat meningkatkan potensi terjadinya lupus. 

Penyakit ini juga penyakit genetik. Apabila orang tua mengalami lupus, maka besar peluangnya anak juga akan mengalaminya. 

Infeksi dari penyakit tertentu yang mewajibkan penderita mengonsumsi beberapa macam obat juga bisa memicu lupus.  

Penderita lupus kebanyakan adalah perempuan berusia 15-45 tahun. Karena itu, ada spekulasi yang mengatakan berlebihannya hormon estrogen dapat menyebabkan lupus. 

Gejala

Dilansir dari The Hibb's Lupus Trust, gejala yang dialami oleh setiap penderita lupus dapat berbeda-beda. 

Beberapa penderita dapat mengalami tingkat kenyerian yang berbeda-beda, bahkan ada beberapa yang tidak merasakan gejalanya sama sekali. 

Dilansir dari Mayo Clinic, gejala atau tanda dari lupus beberapa di antaranya adalah:

  1. Kelelahan
  2. Demam
  3. Nyeri pada badan
  4. Kemerahan atau ruam di wajah bagian pipi dan hidung
  5. Jari-jari membiru atau memutih saat kedinginan atau stres
  6. Sesak napas
  7. Nyeri dada
  8. Pusing, kebingungan hingga amnesia

Banyak gejala-gejala ini mirip dengan gejala dari penyakit lain, sehingga sulit bagi para dokter mendiagnosa seseorang dengan lupus. 

Macam-Macam

Dilansir dari Cleveland Clinic, lupus dapat merusak banyak organ pada tubuh. Beberapa di antaranya adalah kulit, darah, sendi, ginjal, otak, jantung dan paru-paru. 

Dokter dapat mendiagnosa kita dengan SLE, salah satu tipe lupus paling umum ditemukan. Namun, ada lupus jenis lainnya yang berbeda-beda. 

Cutaneous lupus erythematous adalah salah satu jenis lupus yang hanya mempengaruhi kulit kita. 

Lupus neonatal adalah bayi-bayi yang terlahir dengan lupus. Hal ini terjadi karena orang tua kandung memiliki lupus. Tapi ada kemungkinan anak tidak mewarisi penyakit tersebut. 

Lupus yang disebabkan oleh efek samping pengobatan biasanya terjadi secara temporer saja. Gejala-gejala lupus biasanya akan berhenti begitu kita berhenti atau mengganti pengobatan kita. 

Diagnosis

Dokter biasanya akan melakukan banyak tes sebelum menyatakan pasiennya memiliki lupus karena lupus adalah salah satu penyakit yang sulit untuk didiagnosa. 

Dokter bisa menyuruh kita melakukan tes darah. Dari sini, kita dapat mengetahui seberapa baik sistem imun kita melalui jumlah sel darah merah dan putih. 

Tes urin juga dilakukan untuk mencari infeksi atau kondisi kesehatan lainnya yang mungkin terjadi tanpa terdeteksi sebelumnya. 

Tes antibodi dilakukan untuk mencari antibodi pada tubuh kita. Mereka adalah produsen protein yang membantu tubuh kita melawan infeksi. Orang-orang dengan lupus biasanya memiliki antibodi yang terlalu aktif. 

Dokter dapat menyarankan untuk biopsi pada kulit atau jaringan ginjal. Dengan begitu, dokter dapat mengetahui lebih jelas apakah sistem imun telah merusak mereka. 

Pengobatan

Perlu diketahui bahwa pengobatan yang dilakukan ini untuk meringankan gejala dan kerusakan pada jaringan tubuh. Seberapa tinggi dosisnya dapat diperkirakan melalui seberapa parah gejalanya. 

Pengobatan untuk malaria dapat digunakan untuk pasien lupus, karena gejala yang dialami sangat mirip. 

Pereda nyeri adalah salah satu obat yang mudah didapatkan untuk mengurangi peradangan. Namun jangan terlalu sering mengkonsumsinya. 

Dokter dapat meresepkan pengobatan steroid sebagai anti radang untuk mengurangi gejala-gejala lupus. Dokter juga dapat meresepkan supresan imun, ini akan mengurangi keaktifan sistem imun pasien. 

Baca Juga: Kenali Gejala Lupus Sejak Dini, Keterlambatan Diagnosis Bisa Picu Kerusakan Organ 

EDITOR: Candra Mega Sari