← Beranda
Indonesia Jadi Ranking 4 Negara Paling Banyak Penyintas Lupus, Kenali Gejala dan Penyebabnya
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 30 Mei 2026 | 21.53 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR.

JawaPos.com - Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan jumlah perempuan penyintas lupus terbanyak. Kondisi ini menjadi sorotan karena penyakit autoimun kronis ini kerap terlambat didiagnosis, sementara dampaknya dapat menyerang berbagai organ tubuh dan menurunkan kualitas hidup pasien.

"Hingga saat ini angka kematiannya masih cukup tinggi di berbagai laporan di Indonesia, jadi sekitar 8,1 persen itu termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, kepada wartawan, Sabtu (30/5).

Lupus Disebut Penyakit Seribu Wajah

Dokter Sandra menjelaskan, lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh. Manifestasi penyakit ini bisa berbeda pada setiap orang, baik dari jenis gejala maupun tingkat keparahannya.

Baca Juga: Bareskrim Buru Konsumen Whip Pink, Video Viral Influencer ZNM Jadi Sorotan

“Penyakit ini dikatakan sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, pada sebagian pasien lupus dapat menyerang kulit dan sendi, sementara pada pasien lain bisa mengenai darah, ginjal, paru-paru hingga jantung.

“Tidak ada satu organ yang bisa luput dari lupus karena dia memang menyerang semua organ,” kata dr. Sandra.

Adapun gejala lupus juga dapat muncul mulai dari rambut rontok, ruam kulit, sariawan berulang, gangguan sendi, hingga masalah pada organ dalam.

Penyebab Lupus Belum Diketahui Pasti

Hingga saat ini, dr. Sandra menegaskan penyebab pasti lupus belum diketahui. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya keterlibatan faktor genetik yang kemudian dipicu faktor lingkungan.

"Namun penelitian memperlihatkan bahwa unsur genetik berperan penting,” jelasnya.

Meski demikian, faktor keturunan saja tidak cukup menyebabkan lupus. Diperlukan faktor pencetus dari lingkungan yang bersifat multifaktorial.

Beberapa faktor yang diduga memicu lupus antara lain paparan bahan kimia, polusi, sinar matahari berlebihan, infeksi bakteri maupun virus, kekurangan vitamin D, hingga pola makan tertentu.

dr. Sandra juga menyoroti peran hormon karena sekitar 90 persen pasien lupus merupakan perempuan.

“Jadi memang semuanya ini multifaktorial, tidak ada satu faktor tunggal yang bisa menyebabkan lupus,” ungkapnya.

Banyak Menyerang Wanita Usia Produktif

Lupus paling banyak ditemukan pada perempuan usia 15 hingga 45 tahun atau kelompok usia produktif. dr. Sandra mengatakan kondisi ini membuat lupus menjadi masalah kesehatan serius karena dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup jika tidak segera ditangani.

“Kalau kita tidak cepat diagnosis dan tidak tertangani dengan baik, tentu akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada apabila perempuan muda mengalami dua atau lebih gangguan organ sekaligus. Misalnya, keluhan kulit disertai nyeri sendi, anemia, trombosit rendah, atau kebocoran protein pada urine. Kombinasi gejala tersebut perlu dicurigai sebagai lupus dan memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah