← Beranda
Kenali Gejala Lupus Sejak Dini, Keterlambatan Diagnosis Bisa Picu Kerusakan Organ 
Nanda PrayogaRabu, 27 Mei 2026 | 13.00 WIB
Diskusi Peningkatan Penanganan Systemic Lupus Erythematosus oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Selasa (26/5). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Indonesia tercatat memiliki sekitar 1,4 juta penyandang Systemic Lupus Erythematosus (SLE) dengan tingkat mortalitas mencapai 8,1 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Di balik tingginya angka tersebut, masih banyak pasien yang baru mendapatkan diagnosis setelah mengalami kerusakan organ akibat keterlambatan deteksi.

SLE merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem imun gagal membedakan jaringan sehat dengan ancaman, sehingga justru menyerang tubuh sendiri dan memicu peradangan berkepanjangan. Karena gejalanya sangat beragam dan menyerupai penyakit lain, SLE kerap sulit dikenali sejak awal.

Secara global, lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan angka kasus yang tinggi, namun belum sepenuhnya terpetakan karena keterbatasan data epidemiologi di sejumlah negara.

Berdasarkan data epidemiologi global selama 30 tahun terakhir, insidensi SLE diperkirakan mencapai 5,14 kasus per 100 ribu orang per tahun, dengan sekitar 400 ribu kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, angka insidensinya diperkirakan mencapai 7,4 kasus per 100 ribu penduduk per tahun.

Baca Juga: Oppo Rilis Enco Clip2 dan Watch X3 di Indonesia, TWS Stylish dan Smartwatch Premium

Indonesia juga tercatat berada di posisi keempat dunia untuk jumlah perempuan usia produktif 15-45 tahun yang hidup dengan SLE. Kondisi ini membuat lupus bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi produktivitas serta kualitas hidup perempuan dalam keluarga maupun masyarakat.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Sandra Sinthya Langow, menjelaskan, SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik.

“Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra dalam diskusi Peningkatan Penanganan Systemic Lupus Erythematosus oleh AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Selasa (26/5).

Dalam proses biologisnya, SLE dipicu oleh aktivitas sistem imun yang berlebihan. Salah satu mekanisme penting yang berperan adalah jalur Interferon Tipe I yang menyebabkan tubuh terus berada dalam kondisi menyerang dirinya sendiri. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menimbulkan kerusakan organ permanen.

“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.

Dampak keterlambatan diagnosis juga cukup besar terhadap kehidupan pasien. Data menunjukkan sekitar 82 persen pasien mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan, 43,9 persen sering absen dari sekolah atau pekerjaan, sementara 32,5 persen bahkan harus berhenti bekerja sepenuhnya. Selain itu, sekitar separuh pasien juga menghadapi tekanan psikologis akibat perjalanan penyakit yang panjang.

Perkembangan ilmu pengetahuan kini turut mendorong perubahan pendekatan dalam penanganan lupus. Penanganan SLE saat ini tidak lagi hanya berfokus pada mengatasi flare, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi dan menjaga aktivitas penyakit tetap rendah dalam jangka panjang. Pendekatan tersebut bertujuan mencegah kerusakan organ sekaligus mengurangi penggunaan glukokortikoid jangka panjang yang berisiko menimbulkan efek samping.

Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh European Alliance of Associations for Rheumatology yang menekankan pentingnya remisi, pencegahan flare, perlindungan organ, serta pembatasan penggunaan glukokortikoid dalam tata laksana SLE.

Baca Juga: Koops TNI Habema Kembali Evakuasi Pendulang Emas, Kali Ini dari Kampung Kawe Awimbon Pegunungan Bintang

Salah satu inovasi terbaru dalam terapi lupus adalah penggunaan Anifrolumab, terapi biologis pertama di Indonesia untuk SLE yang bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I.

Terapi ini bekerja dengan menghambat sinyal melalui reseptor Interferon Tipe I yang diketahui berperan dalam patogenesis lupus, sehingga menjadi pendekatan terapi yang lebih terarah bagi pasien dengan SLE aktif kategori sedang hingga berat sesuai evaluasi dokter.

Selain inovasi terapi, edukasi dan percepatan diagnosis dinilai tetap menjadi faktor penting agar pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dan pendampingan jangka panjang.

“Meski SLE merupakan penyakit kronis, pasien tetap memiliki harapan untuk menjalani hidup berkualitas baik. Kuncinya adalah kontrol rutin, pemantauan dokter secara berkala, serta kepatuhan dalam menjalani terapi optimal. Dengan terapi yang optimal dan berkelanjutan, maka pasien berpeluang mencapai remisi yang lebih dini dan berkelanjutan, serta terlindungi dari risiko kerusakan organ jangka panjang,” kata dr. Sandra.

Sementara itu, Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy menjelaskan pendekatan penanganan SLE kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti.

“Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” ujar Feddy.

dr. Feddy menegaskan bahwa semangat From Burden to Living Well menjadi dorongan untuk mengubah paradigma penanganan lupus di Indonesia agar pasien dapat menjalani hidup yang lebih baik.

“Inovasi terapi, peningkatan kesadaran, serta kolaborasi pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan SLE di Indonesia,” ungkapnya.

Memperingati Hari Lupus Sedunia, AstraZeneca Indonesia menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait SLE. Inisiatif ini bertujuan mendorong deteksi dini, memperluas pemahaman masyarakat terhadap penyakit lupus, serta memperkuat akses pasien terhadap penanganan yang tepat.

“Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat,” tukas Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan