← Beranda
Risiko Kematian Meningkat Tiap Jam, Penanganan Penyakit Aorta Berpacu dengan Waktu
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 21 Mei 2026 | 01.30 WIB
Ilustrasi jantung.

JawaPos.com - Penyakit aorta menjadi salah satu kondisi kardiovaskular paling mematikan. Pasalnya, keterlambatan penanganan dalam hitungan jam saja dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan, terutama pada kasus diseksi aorta akut.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak & Vaskular Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Dicky Aligheri Wartono, Sp.BTKV(K), FIHA, FICA mengatakan, diseksi aorta merupakan kondisi ketika lapisan dinding aorta robek sehingga darah masuk ke lapisan pembuluh darah.

“Pada fase akut, risiko kematian dapat meningkat sekitar 1–2 persen setiap jam dalam 24–48 jam pertama apabila tidak mendapatkan penanganan,” jelas dr. Dicky kepada wartawan, Rabu (20/5).

Baca Juga: Jangan Rusak Momen Angkat Piala! Persib Bandung Larang Bobotoh Nyalakan Flare di Laga Pamungkas

Penyakit Aorta Kerap Datang Tanpa Gejala

dr. Dicky menjelaskan, Aorta merupakan pembuluh darah utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Gangguan pada aorta seperti aneurisma aorta maupun diseksi aorta dapat berkembang tanpa gejala yang jelas hingga akhirnya memicu kondisi yang mengancam jiwa.

Secara global, insidensi acute aortic syndromes mencapai sekitar 4,8 per 100.000 orang per tahun. Sementara itu, beban penyakit aneurisma aorta di Indonesia juga disebut terus meningkat.

Menurut dr. Dicky, kondisi tersebut membuat kecepatan diagnosis dan tindakan medis menjadi faktor penentu keselamatan pasien.

Penanganan Aorta Kompleks Masih Terbatas

Di Indonesia, ia menerangkan bahwa layanan penanganan aorta kompleks masih tergolong terbatas. Dari lebih dari 2.500 rumah sakit, hanya sekitar 120–150 rumah sakit yang memiliki layanan bedah jantung.

Namun, rumah sakit yang memiliki kemampuan komprehensif menangani kasus aorta kompleks dengan tingkat kesulitan tinggi jumlahnya jauh lebih sedikit.

dr. Dicky menegaskan keberhasilan penanganan kasus aorta tidak hanya ditentukan oleh satu dokter atau satu prosedur operasi, tetapi kesiapan sistem pelayanan secara menyeluruh.

“Penanganan optimal membutuhkan koordinasi cepat antara Unit Gawat Darurat, radiologi, dokter bedah, anestesi, ICU, tim kardiologi hingga rehabilitasi dalam satu protokol yang terintegrasi,” tegasnya.

Di Siloam Hospitals Lippo Village sendiri, ia mengatakan bahwa teknik Frozen Elephant Trunk (FET) telah diimplementasikan, yakni teknik bedah modern untuk menangani kasus aorta kompleks yang melibatkan area dada hingga perut.

Teknik tersebut, kata dr. Dicky, menjadi salah satu standar emas terbaru dalam penanganan bedah aorta modern.

Selain teknik bedah terbuka dan FET, rumah sakit tersebut juga didukung layanan Endovascular Aortic Repair (EVAR/TEVAR), ICU kardiovaskular khusus pascaoperasi, CT Scan kardiovaskular 24 jam, serta tim multidisiplin yang terdiri dari spesialis bedah, kardiologi, anestesi, radiologi, dan intensive care.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah