← Beranda
Bisa Sebabkan Obesitas, Mengenal Food Noise yang Bikin Susah Berhenti Makan dan Cara Mengatasinya
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 13 Mei 2026 | 02.59 WIB
dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dalam acara Media Roundtable Discussion bertajuk “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” (Istimewa)
 

JawaPos.com – Pernah merasa terus kepikiran makan meski sebenarnya tidak lapar? Kondisi ini dikenal sebagai food noise, yaitu dorongan pikiran tentang makanan yang muncul terus-menerus. Ini membuat seseorang sulit berhenti makan atau mengontrol pola makan hingga berujung obesitas.

Fenomena food noise kini semakin mendapat perhatian dalam dunia medis karena dinilai berkaitan erat dengan obesitas dan gangguan pengaturan rasa lapar di otak. Bahkan, banyak orang dengan obesitas disebut kesulitan menurunkan berat badan bukan semata karena kurang disiplin, melainkan karena adanya faktor biologis yang memengaruhi nafsu makan.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia dr. Iflan Nauval menjelaskan, food noise berbeda dengan rasa lapar biasa.

Baca Juga: Serius Pacaran, Begini Sosok Davina Karamoy di Mata Ardhito Pramono

“Food noise adalah dorongan pikiran tentang makanan yang persisten dan intrusif, bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (12/5).

Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan cara otak merespons makanan, stres, kebiasaan, hingga lingkungan sekitar.

Bikin Overeating hingga Rasa Bersalah

dr. Iflan mengatakan, food noise tidak hanya memicu makan berlebihan atau overeating, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan mental seperti rasa bersalah dan kecemasan.

Akibatnya, banyak orang kesulitan menjaga pola makan secara konsisten meski sudah berusaha menjalani diet.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks,” katanya.

Ia menilai pemahaman tentang food noise penting agar obesitas tidak lagi dianggap sekadar kegagalan pribadi atau kurangnya kemauan menjaga pola hidup sehat.

Berdasarkan World Obesity Atlas 2022, Indonesia bahkan menempati urutan ketiga dari 10 negara di Asia Tenggara dengan estimasi prevalensi obesitas tertinggi.

Cara Mengatasi Food Noise

Menurut dr. Iflan, penanganan obesitas secara umum saat ini tidak lagi hanya fokus pada menghitung kalori atau diet ketat, tetapi juga memperbaiki mekanisme biologis tubuh yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

“Fokus kita bukan lagi sekadar menurunkan angka di timbangan, melainkan perlindungan fungsi organ dan peningkatan kualitas hidup pasien,” ujarnya.

Pendekatan yang dilakukan meliputi perubahan gaya hidup seperti menjaga pola makan sehat, olahraga rutin, mengelola stres, dan tidur cukup.

Selain itu, terapi medis juga mulai digunakan untuk membantu mengontrol sinyal lapar di otak, salah satunya melalui terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA).

Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia Riyanny Meisha Tarliman mengatakan, terapi tersebut dapat membantu mengurangi rasa lapar dan dorongan makan berlebih termasuk food noise.

“Inovasi ini memberikan harapan yang meringankan bagi individu yang berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan,” katanya.

Obesitas Disebut Bukan Sekadar Soal Kemauan

Riyanny menegaskan, obesitas merupakan kondisi medis kompleks yang membutuhkan pendampingan profesional dan pendekatan berbasis sains.

“Penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional dalam mengelola berat badan,” pungkasnya.

Ia menambahkan, masyarakat perlu memahami bahwa obesitas tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga melibatkan gangguan sistem biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah