← Beranda
DBD di Anak-Anak: Kematian Tinggi Karena Daya Tahan Tubuh Lemah
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 7 Mei 2026 | 19.00 WIB
ILUSTRASI: Demam Berdarah.

JawaPos.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan proporsi kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) paling banyak terjadi pada kelompok usia anak 5–14 tahun. Kondisi daya tahan tubuh yang masih berkembang disebut menjadi salah satu faktor penyebab tingginya risiko tersebut.

Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K) menjelaskan, DBD memiliki karakteristik yang unik karena perkembangan penyakitnya sering kali sulit diprediksi.

“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok,” ujar Prof. Hartono kepada wartawan, Kamis (7/5).

Ia mengatakan, selain perdarahan dan syok, pasien anak juga berisiko mengalami komplikasi lain seperti kejang hingga penurunan kesadaran.

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus dalam penanganan DBD. Berdasarkan data yang disampaikan IDAI, sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun.

“Dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41 persen, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala,” jelasnya.

Karena itu, Prof. Hartono menilai pencegahan DBD perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui gerakan 3M Plus hingga perlindungan tambahan seperti imunisasi dengue.

Ia juga menyebut tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami berbagai pilihan pencegahan yang tersedia.

“Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun,” katanya.

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia, IDAI juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya perlindungan diri dari infeksi DBD.

“Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” tutup Prof. Hartono.

Kasus DBD Meningkat dan Tidak Lagi Musiman

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan kasus yang signifikan dalam dua dekade terakhir, bahkan siklus puncak kasus kini terjadi lebih cepat.

Penyakit ini juga tidak lagi bersifat musiman, melainkan dapat muncul sepanjang tahun dan menyerang semua kelompok usia. Beban yang ditimbulkan pun tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga produktivitas hingga ekonomi.

Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan total pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Perubahan pola cuaca yang tidak menentu, termasuk suhu yang lebih tinggi, turut memperbesar risiko penyebaran penyakit ini. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengendalian lingkungan hingga peningkatan kesadaran masyarakat.

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc menekankan pentingnya edukasi bagi tenaga kesehatan serta masyarakat luas, sekaligus memperluas akses layanan kesehatan melalui platform digital.

Presiden Direktur Takeda, Andreas Gutknecht, menekankan pentingnya pencegahan mengingat dengue dapat berkembang menjadi kondisi serius.

“Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa, sementara hingga kini belum ada obat spesifik untuk menyembuhkannya. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting,” katanya.

Sementara itu, CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menyebut kolaborasi ini bertujuan memperluas akses informasi dan layanan kesehatan bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi. Akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc bahkan meningkat hampir dua kali lipat pada kuartal pertama 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra