← Beranda
Studi IHDC Ungkap Dampak Stunting dan Anemia, Bisa Ganggu Daya Ingat Anak
Dhimas GinanjarKamis, 16 April 2026 | 16.41 WIB
Executive Director of Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK.

 
JawaPos.com - Masalah stunting dan anemia pada anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik. Kondisi ini juga berpotensi mengganggu kemampuan kognitif, termasuk daya ingat dan konsentrasi saat belajar.

Temuan ini diperkuat oleh studi terbaru dari Indonesia Health Development Center yang menyoroti kaitan antara status gizi dan fungsi working memory anak usia sekolah. Studi ini dilakukan melalui skrining terhadap ratusan siswa sekolah dasar di Jakarta.

Working memory merupakan kemampuan otak dalam menyimpan dan mengolah informasi. Fungsi ini berperan penting dalam mendukung pemahaman, konsentrasi, serta kemampuan menyelesaikan tugas sehari-hari.

Ketua Dewan Pembina IHDC, Nila Djuwita F. Moeloek, menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Hal ini menjadi kunci dalam menyongsong bonus demografi Indonesia.

“Status gizi, tumbuh kembang, dan kemampuan kognitif anak menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stunting, kekurangan asupan gizi, hingga anemia defisiensi besi yang masih tinggi pada anak khususnya pada usia sekolah. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan belajar, termasuk fungsi working memory yang penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi optimal sejak dini menjadi langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak sekaligus mendorong tercapainya visi Indonesia Emas,” ujar Prof. Nila.

Hasil studi menunjukkan sekitar 19,7 persen anak mengalami anemia. Selain itu, 22,1 persen anak teridentifikasi mengalami kesulitan dalam fungsi working memory.

Temuan ini juga memperlihatkan hubungan antara kadar hemoglobin dengan kemampuan kognitif. Anak dengan kadar hemoglobin lebih rendah cenderung memiliki performa working memory yang lebih rendah.

Executive Director IHDC, Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa risiko gangguan kognitif meningkat pada anak dengan anemia dan stunting. Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap asupan gizi anak.

“Anak dengan anemia memiliki risiko hampir dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam memproses dan menyimpan informasi. Hal yang sama juga terlihat pada anak dengan stunting, yang memiliki risiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami defisit working memory. Selain itu, kami juga menemukan bahwa asupan gizi anak, terutama protein dan zat besi, masih belum optimal dan berkaitan erat dengan kondisi anemia. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemenuhan gizi anak usia sekolah, karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar mereka,” jelas dr. Ray.

Dari sisi asupan, anak dengan anemia tercatat hanya memenuhi sekitar 46 persen kebutuhan protein harian. Kondisi ini semakin mempertegas pentingnya kecukupan zat gizi dalam mendukung fungsi otak.

President of Indonesian Nutrition Association, Luciana B. Sutanto, menekankan pentingnya pola makan seimbang. Asupan protein dan zat besi dinilai krusial dalam mendukung perkembangan otak anak.

“Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak. Namun, keduanya tetap perlu didukung oleh asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, agar fungsi tubuh dan kognitif anak dapat berjalan optimal. Kecukupan gizi ini juga penting dalam mencegah anemia dan stunting. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan, seperti telur, ikan, daging, susu, serta sumber nabati seperti tahu, tempe, sayur, dan buah. Selain itu, untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi, perlu dikombinasikan dengan asupan yang mengandung vitamin C,” papar dr. Luciana.

Peran keluarga dan sekolah dinilai penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Namun, masih banyak orang tua yang belum mengaitkan masalah konsentrasi anak dengan asupan gizi.

Aktris sekaligus ibu dua anak, Putri Titian, mengaku baru menyadari kaitan tersebut. Ia menilai edukasi mengenai gizi anak masih perlu ditingkatkan.

“Sebagai ibu, tentu ada kekhawatiran saat melihat anak sulit fokus atau mudah lupa saat belajar, bahkan dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Dari riset ini, saya jadi lebih sadar bahwa hal-hal tersebut bisa berkaitan dengan asupan gizi anak sehari-hari, yang mungkin selama ini belum terlalu diperhatikan. Saya rasa masih banyak orang tua yang mungkin belum menyadari hal ini. Ini juga jadi pengingat buat saya dan orang tua lainnya untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak, supaya mereka bisa tumbuh optimal dan mencapai potensi terbaiknya,” ujar Tian.

Studi ini diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat kebijakan dan edukasi gizi anak. Pendekatan lintas sektor dinilai diperlukan untuk mengatasi masalah gizi secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk dukungan dari Danone Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia menuju 2045.

EDITOR: Dhimas Ginanjar