← Beranda
Angka Stunting Masih Tinggi, Edukasi Ibu dan Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Risiko Sejak Dini
Rian AlfiantoSelasa, 7 April 2026 | 00.00 WIB
Ilustrasi seorang anak yang gizinya tercukupi sehingga tidak terkena stunting (Dok. Freepik)

 

JawaPos.com - Upaya menekan angka stunting di Indonesia terus menjadi fokus utama pemerintah. Target menurunkan prevalensi hingga 14,2 persen pada 2029 menuntut strategi yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif, terutama pada fase krusial 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 6 dari 100 bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah. Kondisi ini menjadi salah satu faktor risiko utama stunting, karena berkaitan erat dengan pertumbuhan fisik yang tidak optimal sejak awal kehidupan.

Selain itu, kelompok usia 12–23 bulan tercatat sebagai fase paling rentan, dengan prevalensi stunting mencapai 19,9 persen.

Di tengah tantangan tersebut, pendekatan berbasis edukasi dinilai sebagai salah satu solusi efektif. Di Desa Hegarmukti, Kabupaten Bekasi, misalnya, program penyuluhan gizi menyasar calon ibu serta ibu dengan anak usia 0–3 tahun—kelompok yang memiliki peran penting dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

Baca Juga: May Day 2026: 500 Ribu Buruh Bakal Kepung DPR RI, Tagih Janji Hapus Outsourcing!

Materi yang diberikan tidak hanya seputar pemahaman stunting, tetapi juga praktik langsung seperti demo memasak menu bergizi seimbang. Pendekatan ini bertujuan mengubah kebiasaan sehari-hari menjadi lebih sehat, dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah dijangkau.

Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang Anak

Selain edukasi, deteksi dini juga menjadi pilar penting dalam pencegahan stunting. Pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk pengukuran tinggi dan berat badan, memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko sejak awal.

Layanan seperti ini umumnya dilakukan melalui Posyandu, yang menjadi ujung tombak pemantauan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa. Dengan pemantauan berkala, intervensi dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi berkembang menjadi stunting permanen.

Salah satu akar masalah stunting adalah keterbatasan akses terhadap asupan gizi yang memadai. Untuk itu, distribusi makanan bergizi seperti telur, susu, dan makanan pendamping ASI menjadi langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Di Kabupaten Bekasi, ribuan paket gizi disalurkan ke enam desa melalui Posyandu. Distribusi dilakukan secara bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan berkelanjutan, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Kolaborasi Jadi Kunci Penurunan Stunting

Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama.

Menurutnya, intervensi yang tepat sasaran, mulai dari edukasi, pemeriksaan rutin, hingga pemenuhan gizi, dapat membantu menekan angka stunting secara signifikan di wilayah dengan risiko tinggi.

Di sisi lain, keterlibatan sektor swasta juga mulai terlihat dalam mendukung upaya pencegahan stunting di daerah. PT Hankook Tire Indonesia misalnya, turut berkontribusi melalui program edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan anak, serta distribusi paket nutrisi di sejumlah desa di Kabupaten Bekasi.

Baca Juga: Purbaya Beberkan Alasan di Balik Rp 40 Triliun per Tahun untuk Cicilan Kopdes Merah Putih

Presiden Direktur Hankook Tire Indonesia, Jung Jinkyun, menyebut bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada bantuan, tetapi juga pada peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya ibu dan calon ibu, terkait pola makan sehat dan pencegahan stunting.

Program tersebut juga dilengkapi dengan pembagian paket gizi yang berisi sumber protein dan nutrisi penting seperti telur, susu, dan makanan bayi, yang didistribusikan melalui Posyandu secara bertahap.

Stunting sendiri bukan hanya soal tinggi badan yang kurang, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas di masa depan. Karena itu, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kondisi terjadi.

Dengan memperkuat edukasi, meningkatkan akses layanan kesehatan, serta memastikan kecukupan gizi anak, ditambah kolaborasi lintas sektor, peluang untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas semakin terbuka lebar.

EDITOR: Sabik Aji Taufan