JawaPos.com - Cedera ligamen masih menjadi kasus paling dominan dalam cedera olahraga (sport injury), terutama pada bagian lutut. Kondisi ini bahkan menjadi keluhan yang paling sering ditangani di layanan ortopedi, salah satunya di Prinaya Hospital Bekasi Timur.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Evan mengungkapkan bahwa cedera ligamen, khususnya pada Anterior Cruciate Ligament (ACL), menjadi kasus terbanyak yang ditangani saat ini.
“Jadi sport injury yang paling banyak sampai saat ini itu adalah cedera ligamen ya. Ligamen itu adalah jaringan lunak yang menghubungkan antara tulang dengan tulang. Terutama di lutut namanya Anterior Cruciate Ligament (ACL). Itu paling banyak sampai saat ini yang kita tangani di Rumah Sakit Primaya Bekasi Timur,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (2/4).
Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Tambah 8 Armada untuk Libur Paskah 2026
dr. Evan menjelaskan, penyebab cedera ACL umumnya bukan karena benturan langsung, melainkan gerakan non-kontak. Kondisi ini terjadi saat kaki menapak di tanah, tetapi tubuh berputar atau berbelok secara tiba-tiba sehingga menimbulkan tekanan rotasi pada lutut.
“Kalau dibilang penyebabnya paling banyak adalah karena injuri olahraga di mana posisinya non-kontak. Jadi bukan karena bentrokan ya, tapi biasanya pasiennya itu kakinya napak, badannya belok. Jadi non-kontak kita bilangnya. Jadi ada rotasional, ada twisting energy di mana si ACL di dalam lutut ini putus. Itu yang paling sering,” jelasnya.
Selain faktor gerakan, kurangnya pemanasan dan penggunaan perlengkapan olahraga yang tidak sesuai juga menjadi pemicu cedera. Ia menegaskan bahwa kebiasaan sederhana seperti tidak melakukan pemanasan bisa meningkatkan risiko cedera secara signifikan.
“Salah satu terjadinya cedera olahraga adalah kurangnya pemanasan, pemakaian alat yang tidak proper. Misalnya saya main futsal pakai sepatu basket, atau saya pakai sepatu sekolah, itu kan salah satunya pasti ada,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Evan menekankan pentingnya latihan pendukung selain sekadar olahraga utama. Menurutnya, banyak orang hanya fokus pada latihan fisik seperti gym, tetapi melupakan aspek keseimbangan dan kontrol tubuh.
“Jadi yang paling sering ya memang kalaupun pemanasan sudah cukup biasanya kadang-kadang latihan. Jadi seorang atlet itu harus ada latihan penguatan ya, kemudian latihan balancing, kemudian latihan proprioceptive. Dia harus latihan loncatnya, turunnya. Jadi nggak cukup dia cuma nge-gym aja, sehingga kalau dia nge-gym aja dia nggak stabil, nggak seimbang, gampang goyang,” paparnya.
Sejalan dengan hal tersebut, data menunjukkan bahwa cedera ligamen mencapai sekitar 41,1 persen dari total kasus cedera olahraga, dengan sekitar 60 persen terjadi pada area kaki dan lutut serta didominasi kelompok usia muda. Banyak kasus yang tidak ditangani sejak dini berpotensi berkembang menjadi cedera kronis.
Di sisi lain, memasuki lima tahun perjalanannya, Primaya Sport Clinic & Orthopedic Center (PSCOC) di Primaya Hospital Bekasi Timur terus memperkuat layanan ortopedi terintegrasi untuk menjawab meningkatnya kebutuhan penanganan cedera olahraga. Sejak berdiri pada 2021, PSCOC telah menangani lebih dari 2.600 tindakan medis di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Trump Berubah Lagi! Sempat Bicara Damai, Kini Ancam Hancurkan Iran ke 'Zaman Batu' dalam 2 Minggu
Layanan yang diberikan mencakup penanganan cedera olahraga, tulang belakang, tangan dan bedah mikro, panggul dan lutut, hingga trauma kompleks dan ortopedi umum. PSCOC juga dipercaya berbagai klub dan organisasi olahraga seperti Bogor LavAni, PBSI Jakarta Selatan, PBVSI, hingga KONI Kota Bekasi untuk memberikan layanan kesehatan atlet.
Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua, menyatakan bahwa penguatan layanan dilakukan melalui adopsi teknologi modern, salah satunya Cyberdine HAL (Hybrid Assistive Limb), yaitu teknologi exoskeleton robotik untuk membantu rehabilitasi dan mempercepat pemulihan fungsi gerak pasien.
Selain itu, PSCOC juga mengembangkan Orthobiological Center yang menghadirkan terapi berbasis PRP, secretome, dan stem cell secara terintegrasi, mulai dari diagnosis hingga rehabilitasi.
Pendekatan layanan ini didukung oleh tim dokter ortopedi multidisiplin serta fasilitas lengkap, mulai dari fisioterapi konvensional hingga robotik, termasuk BMD (Bone Mineral Density), X-Ray Long Length, R-Force Treadmill, Focus Shockwave Therapy, USG Pain Management, hingga High Intensity Laser.
dr. Evan menegaskan bahwa pendekatan komprehensif ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan cedera, tetapi juga pemulihan fungsi pasien secara optimal.
“Banyak pasien, termasuk atlet, yang sebelumnya mengalami keterbatasan akibat cedera, kini dapat kembali beraktivitas bahkan berkompetisi. Ini menjadi motivasi kami untuk terus menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, menyebut pencapaian lima tahun PSCOC menjadi bukti komitmen dalam menghadirkan layanan kesehatan berbasis keunggulan klinis dan teknologi. Ke depan, layanan ortopedi akan terus dikembangkan dengan penambahan subspesialisasi serta adopsi teknologi medis terkini guna menjawab kebutuhan pasien di Indonesia.