JawaPos.com - Telinga kita bertugas sebagai alat pendengar. Berkatnya kita bisa berkomunikasi, mendengarkan musik, dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pendengaran.
Tapi, kesehatan akan pendengaran kita ini terkadang kurang diperhatikan. Padahal kesehatan telinga dapat mempengaruhi kualitas hidup.
Dilansir dari Alodokter, tinnitus untungnya bukanlah penyakit, melainkan gejala dari kondisi lain. Seperti gangguan dari dalam telinga, pembuluh darah atau efek samping obat-obatan.
Penderita kondisi ini akan merasakan telinga mereka berdengung terus menerus. Selain itu, kondisi ini dapat dialami oleh semua orang. Namun, lebih sering ditemukan pada orang-orang dengan usia di atas 60 tahun.
Baca Juga: Telinga Berdenging Terus-Menerus? Waspadai Tinnitus, Begini Penjelasan Dokter
Gejala
Dilansir dari Mayo Clinic, tinnitus sering dideskripsikan dengan telinga berdengung, walaupun tidak ada suara dengungan dari luar.
Penderita tinnitus juga dapat mendengar suara melengking, berdering, berdetak, mendesis, seruan, dan lainnya.
Suara-suara yang terdengar oleh satu penderita tinnitus dapat sangat berbeda dari penderita lainnya. Kondisi ini dapat terjadi dalam kurun waktu lama, atau datang dan pergi kapan saja.
Salah satu tinnitus yang cukup jarang adalah ketika tinnitus menirukan suara beritme seperti detak jantung (pulsatile tinnitus). Tinnitus macam ini dapat didengar oleh dokter ahli saat pemeriksaan.
Penyebab
Dilansir dari Cleveland Clinic, para ahli belum dapat mengetahui pasti mengapa kondisi ini dapat terjadi. Namun, tinnitus adalah gejala umum yang dapat terjadi pada penderita beberapa macam penyakit.
Penyebab tinnitus pada umumnya adalah:
1. Usia Tua
Otak kita terbiasa dengan tingkat stimulasi suara tertentu. Akibatnya, saraf pendengaran kita terbiasa pada aktivitas di tingkat tertentu. Ketika terjadi gangguan pendengaran, otak menerima lebih sedikit stimulasi, tapi saraf pendengaran masih berdenyut dengan kecepatan yang sama seperti biasanya. Sekitar 1 dari 3 lansia mengalami kondisi ini.
2. Eksposur Suara Keras
Telinga kita dapat mengalami kehilangan kemampuan mendengar atau tinnitus akibat terekspos oleh suara keras. Seperti ledakan, atau suara speaker.
3. Luka pada Telinga
Trauma atau luka pada telinga dapat mempengaruhi saraf pendengaran atau area-area pada otak yang membantu kita mendengar. Mereka yang mengalami hal ini biasanya hanya akan mengalami tinnitus pada telinga yang luka.
4. Efek Samping Pengobatan
Beberapa macam obat dapat menyebabkan tinnitus. Seperti beberapa macam antibiotik, antidepresan, obat kanker, dan anti radang.
Kapan Bertemu Dokter
Beberapa orang tidak merasa begitu terganggu dengan kondisi ini, dan ada beberapa orang yang tidak dapat beraktivitas seperti biasa karena tinnitus.
Walaupun begitu, sangat disarankan untuk menemui dokter apabila tinnitus terjadi setelah mengalami infeksi pernapasan atau demam, dan tinnitus tidak kunjung sembuh selama satu minggu.
Segera temui dokter apabila tinnitus terjadi bersamaan dengan kehilangan pendengaran dan pusing. Serta apabila mengalami serangan kecemasan dan depresi akibat tinnitus ini.
Pengobatan dan Pencegahan
Dilansir dari NHS, ada beberapa prosedur pengobatan yang dapat dicoba oleh pasien. Namun apabila sumber dari tinnitus ini tidak diketahui, atau tidak dapat disembuhkan, dokter dapat merekomendasikan terapi bicara.
Beberapa prosedur pengobatan yang dapat dicoba adalah terapi kebiasaan kognitif, disini pasien juga dapat dibantu untuk mengurangi kecemasannya.
Terapi suara dapat dicoba untuk melatih otak lebih fokus ke suara lain daripada tinnitus.
Ada pula beberapa hal yang dapat dicoba untuk mencegah tinnitus, di antaranya:
1. Gunakan Sumbat Kuping
Ini dapat sangat berguna bagi mereka yang harus berada di lingkungan dengan suara-suara keras. Dengan membatasi suara yang masuk ke telinga, suara-suara keras yang dapat merusak saraf-saraf pendengaran kita tidak akan mempengaruhi kita.
2. Jaga Kesehatan Jantung
Ditemukan olahraga rutin dan diet yang baik dapat menjaga kesehatan peredaran darah kita. Dengan begitu dapat mencegah tinnitus yang berkaitan dengan penyakit pembuluh darah.
Baca Juga: Atasi Gejala PCOS dengan 6 Makanan Sehat Ini, Wanita Harus Tahu