JawaPos.com – Perempuan mengalami perubahan hormon sepanjang hidup. Mulai dari menstruasi, kehamilan, hingga pasca-melahirkan dan menopause. Semua itu bisa berdampak langsung pada kondisi kulit.
Oleh karena itu, penting bagi perempuan melakukan pendekatan perawatan. Tentunya tidak hanya berfokus pada kulit dari luar, tetapi juga mempertimbangkan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi dan Estetika YPK Mandiri, dr. Maria Clarissa Wiraputranto, Sp.D.V.E, mengungkapkan, kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat sensitif terhadap perubahan fisiologis maupun hormonal yang dialami perempuan.
“Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat responsif terhadap perubahan fisiologis dan hormonal sepanjang kehidupan perempuan,” ujarnya dalam peresmian Aesthetic Gynecology Center di Jakarta Pusat, Kamis (12/3).
Dia menjelaskan, kulit memiliki berbagai reseptor hormon seperti estrogen, progesteron, dan androgen. Karena itu, fluktuasi hormon dapat secara langsung memengaruhi kondisi kulit, rambut, hingga jaringan di sekitarnya.
Menurut dia, perubahan hormon di berbagai fase kehidupan perempuan dapat memunculkan kondisi kulit yang berbeda. Menjelang menstruasi, misalnya, peningkatan hormon progesteron dan androgen dapat memicu produksi minyak berlebih yang membuat kulit lebih berminyak dan rentan berjerawat.
Baca Juga: Mengenal Laser dan Cooling System dalam Perawatan Kulit Wajah kekinian, Minim Downtime
Sedangkan selaama masa kehamilan, peningkatan hormon juga dapat menyebabkan hiperpigmentasi, seperti munculnya melasma atau garis gelap pada perut yang dikenal sebagai linea nigra. Sementara pada kondisi sindrom ovarium polikistik (PCOS), kadar androgen yang tinggi dapat memicu jerawat yang menetap, kulit berminyak, hingga pertumbuhan rambut berlebih.
Tak sampai di situ, perubahan hormon juga terjadi setelah persalinan maupun ketika perempuan memasuki fase penuaan. dr. Maria menjelaskan penurunan hormon setelah melahirkan dapat memicu rambut rontok sementara, kulit lebih sensitif, hingga munculnya jerawat hormonal.
“Setelah melahirkan, penurunan hormon dapat menyebabkan rambut rontok sementara, kulit lebih sensitif, atau munculnya jerawat hormonal,” kata dr. Maria.
Baca Juga: Teknologi CaHA Mikro Tandai Arah Baru Pendekatan Regeneratif Baru dalam Perawatan Kulit
Adapun saat perempuan menjelang menopause, berkurangnya hormon estrogen dapat menurunkan produksi kolagen sehingga kulit menjadi lebih kering, tipis, dan lebih mudah mengalami kerutan.
Karena itu, dr. Maria menekankan pentingnya pendekatan perawatan yang mengintegrasikan dermatologi dengan layanan kesehatan perempuan lainnya, termasuk ginekologi. Pendekatan ini bertujuan agar perempuan tidak hanya fokus pada perawatan kulit dari luar, tetapi juga memahami kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
"Di Aesthetic Gynecology Center, pendekatan tersebut didukung berbagai teknologi perawatan modern yang bertujuan merangsang regenerasi jaringan, meningkatkan produksi kolagen, serta memperbaiki struktur dan elastisitas kulit," tuturnya.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah BTL Exion dari BTL Aesthetic, yaitu sistem perawatan estetika non-invasif yang menggabungkan Fractional Radiofrequency (RF), microneedling, serta teknologi berbasis kecerdasan buatan.
“Teknologi ini membantu merangsang produksi kolagen dan hyaluronic acid sehingga dapat mengencangkan kulit dan memperbaiki tekstur,” jelasnya.
Baca Juga: Kaleidoskop 2025: Tren Perawatan Kulit Wajah Lebih Cerdas dan Natural
Selain digunakan untuk peremajaan wajah, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk body contouring di beberapa area tubuh serta prosedur vaginal tightening dengan metode minimal invasif.
Di sisi lain, dr. Maria juga mengingatkan bahwa selama bulan Ramadhan perubahan pola makan, hidrasi, dan waktu tidur dapat memengaruhi kondisi kulit. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan tetap menjaga asupan cairan dari waktu berbuka hingga sahur serta mengonsumsi makanan bergizi yang kaya antioksidan dan protein.
“Dengan menjaga hidrasi, nutrisi, dan pola hidup yang seimbang, kesehatan kulit tetap dapat terjaga selama menjalani puasa,” tutup dr. Maria.