JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa gatal-gatal atau bersin-bersin di pagi hari padahal tidak sedang flu? Atau mungkin hidung tersumbat setiap kali bangun tidur tanpa sebab yang jelas? Bisa jadi, kasur yang kamu gunakan setiap hari menyimpan jutaan makhluk kecil yang menjadi biang keladi masalah tersebut. Kondisi ini sering kali diabaikan karena gejalanya mirip dengan alergi biasa, padahal penyebabnya ada di tempat yang paling dekat dengan kita, yaitu tempat tidur.
Kasur, bantal, dan selimut yang tampak bersih ternyata bisa menjadi rumah bagi makhluk mikroskopis yang dapat memicu berbagai reaksi alergi. Meski tidak terlihat oleh mata telanjang, keberadaan mereka sangat nyata dan dapat memengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Apalagi bagi orang-orang yang memiliki sistem imun sensitif atau riwayat alergi, paparan terhadap makhluk ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup mengganggu.
Tungau kasur atau tungau debu (dust mites) adalah hewan kecil berukuran mikroskopis yang termasuk dalam keluarga laba-laba (arachnida). Makhluk berukuran sekitar 0,2-0,3 milimeter ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun dapat hidup dan berkembang biak dengan sangat cepat di lingkungan rumah, terutama di kasur, bantal, karpet, dan furnitur berlapis kain. Tungau debu memakan sel-sel kulit mati yang rontok dari tubuh manusia dan hewan peliharaan setiap harinya.
Lingkungan yang hangat dan lembab menjadi habitat ideal bagi tungau kasur untuk berkembang biak. Suhu ruangan sekitar 20-25 derajat Celsius dengan kelembaban tinggi menciptakan kondisi sempurna bagi mereka untuk hidup dan berkembang. Dalam satu gram debu rumah, bisa terdapat ratusan hingga ribuan tungau beserta kotorannya yang menjadi pemicu utama reaksi alergi pada manusia.
Namun fakta menariknya, tungau kasur sebenarnya tidak menggigit atau menyebabkan penyakit secara langsung. Namun, protein yang terkandung dalam kotoran dan tubuh tungau yang sudah mati inilah yang menjadi alergen kuat bagi sistem kekebalan tubuh manusia. Partikel-partikel ini sangat ringan sehingga mudah terbang di udara saat kita bergerak di tempat tidur atau membersihkan rumah, lalu terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan.
Gejala alergi tungau kasur paling sering menyerang sistem pernapasan dan dapat berlangsung sepanjang tahun, bukan hanya musiman seperti alergi serbuk sari. Penderita biasanya mengalami bersin-bersin berulang, terutama di pagi hari saat bangun tidur atau saat membersihkan kamar. Hidung tersumbat atau meler dengan cairan bening, gatal pada hidung, langit-langit mulut, atau tenggorokan juga menjadi keluhan yang umum dialami.
Selain gejala pada hidung, mata juga dapat terkena dampaknya dengan menunjukkan tanda-tanda seperti mata merah, berair, dan gatal. Beberapa orang juga mengalami batuk-batuk, terutama di malam hari atau dini hari yang dapat mengganggu kualitas tidur. Pada kasus yang lebih serius, alergi tungau kasur dapat memicu atau memperburuk kondisi asma dengan gejala seperti sesak napas, mengi (bunyi ngik-ngik saat bernapas), dan dada terasa sesak atau nyeri.
Adapun gejala pada kulit yang juga bisa muncul, terutama pada orang yang memiliki kondisi eksim atau dermatitis atopik. Kulit menjadi gatal, kemerahan, dan kering, terutama di area yang sering bersentuhan dengan kasur atau bantal seperti wajah, leher, dan lengan. Intensitas gejala biasanya meningkat saat berada di dalam ruangan tertutup, terutama kamar tidur, dan membaik saat berada di luar rumah atau di lingkungan dengan sirkulasi udara yang baik.
Untuk itu, Mayo Clinic menyoroti beberapa jenis obat yang dapat membantu meredakan gejala alergi tungau kasur. Namun, penanganan ini harus disesuaikan lagi dengan tingkat keparahan gejala dan respons tubuh.
1. Obat Antihistamin
Antihistamin bekerja dengan cara memblokir histamin, zat kimia yang dilepaskan tubuh saat terjadi reaksi alergi, sehingga efektif mengurangi gatal, bersin, dan hidung meler.
Tersedia antihistamin tablet yang bisa dibeli tanpa resep dokter seperti fexofenadine (Allegra Allergy), loratadine (Alavert, Claritin), dan cetirizine (Zyrtec Allergy), juga tersedia dalam bentuk sirup untuk anak-anak.
Antihistamin jenis semprot hidung dengan resep dokter seperti azelastine dan olopatadine (Patanase) memberikan efek langsung pada area yang bermasalah.
2. Semprotan Hidung Kortikosteroid
Obat ini sangat efektif untuk mengurangi peradangan dan mengendalikan gejala alergi seperti hidung tersumbat dan berair.
Beberapa jenis dapat dibeli bebas tanpa resep seperti fluticasone (Flonase Allergy Relief), mometasone (Nasonex 24HR Allergy), triamcinolone (Nasacort Allergy 24HR), dan ciclesonide (Omnaris, Zetonna).
Penggunaan rutin sesuai petunjuk memberikan hasil yang lebih baik dibanding penggunaan sesekali saat gejala muncul.
3. Dekongestan
Dekongestan membantu mengecilkan jaringan yang bengkak di dalam hidung sehingga memudahkan pernapasan.
Beberapa obat alergi yang dijual bebas menggabungkan antihistamin dengan dekongestan untuk efek ganda.
Perlu diperhatikan bahwa dekongestan dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga tidak disarankan untuk penderita hipertensi, glaukoma, penyakit kardiovaskular, atau pembesaran prostat tanpa konsultasi dokter terlebih dahulu.
Dekongestan semprot hidung hanya boleh digunakan maksimal tiga hari berturut-turut karena penggunaan lebih lama justru dapat memperparah hidung tersumbat.
4. Leukotriene Modifiers
Obat ini bekerja dengan memblokir zat kimia tertentu dalam sistem kekebalan tubuh yang memicu reaksi alergi.
Dokter dapat meresepkan montelukast (Singulair) dalam bentuk tablet untuk mengendalikan gejala alergi.
Efek samping yang mungkin terjadi termasuk infeksi saluran pernapasan atas, sakit kepala, dan demam, sementara efek samping yang lebih jarang meliputi perubahan perilaku atau suasana hati seperti kecemasan atau depresi.
Baca Juga: Diabetes Tipe 5: Bentuk Baru yang Lama Terlupakan, Kini Resmi Diakui Dunia Medis
Dilansir dari Mayo Clinic, selain obat-obatan, ada beberapa terapi lain yang dapat membantu mengatasi alergi tungau kasur, terutama bagi penderita yang tidak merespons baik terhadap pengobatan standar. Terapi-terapi ini bertujuan untuk mengurangi sensitivitas tubuh terhadap alergen atau membersihkan alergen dari saluran pernapasan.
1. Imunoterapi (Terapi Desensitisasi)
Imunoterapi bertujuan melatih sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi berlebihan terhadap alergen tungau debu.
Terapi ini dilakukan melalui serangkaian suntikan alergi atau tablet yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) dengan dosis alergen yang sangat kecil.
Dosisnya akan ditingkatkan secara bertahap selama 3-6 bulan pertama dengan frekuensi 1-2 kali per minggu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian setiap empat minggu selama 3-5 tahun.
Imunoterapi biasanya direkomendasikan ketika pengobatan lain tidak memberikan hasil yang memuaskan atau ketika gejala sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. Irigasi Hidung (Nasal Irrigation)
Metode ini menggunakan air garam untuk membilas lendir dan alergen dari sinus, membantu membersihkan saluran pernapasan secara alami.
Alat yang digunakan bisa berupa neti pot (teko hidung) atau botol semprot khusus yang dirancang untuk irigasi hidung.
Air yang digunakan harus steril, suling (distilled), direbus lalu didinginkan, atau disaring dengan filter berukuran pori absolut 1 mikron atau lebih kecil untuk menghindari infeksi.
Setelah setiap penggunaan, alat irigasi harus dibilas dengan air bersih yang sama jenisnya dan dibiarkan kering di udara terbuka untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
Meskipun kondisi alergi tungau kasur dapat diobati dengan berbagai cara, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk menghindari munculnya gejala yang mengganggu. Mengurangi paparan terhadap tungau debu jauh lebih efektif dan aman dibandingkan harus bergantung pada obat-obatan dalam jangka panjang. Dilansir dari Alodokter, ada beberapa langkah praktis yang dapat membantu kamu terhindar dari gatal-gatal dan alergi lain akibat tungau kasur.
1. Rutin Mengganti dan Mencuci Sprei dengan Air Panas
Ganti dan cuci seprai, sarung bantal, serta selimut minimal seminggu sekali menggunakan air panas bersuhu minimal 60 derajat Celsius. Suhu panas ini efektif membunuh tungau debu dan menghilangkan alergen yang menempel pada kain. Setelah dicuci, keringkan dengan pengering mesin atau jemur di bawah sinar matahari langsung untuk hasil maksimal.
2. Menjemur Kasur, Bantal, dan Guling di Bawah Sinar Matahari
Lakukan penjemuram secara rutin, idealnya seminggu sekali atau minimal dua minggu sekali, terutama di pagi hari saat sinar matahari sedang cerah. Sinar ultraviolet (UV) dari matahari dapat membunuh tungau debu dan mengurangi kelembaban yang menjadi tempat hidupnya. Pukul-pukul kasur dan bantal saat menjemur untuk mengeluarkan debu dan tungau yang bersembunyi di dalam.
3. Melakukan Vakum pada Kasur dan Karpet Secara Berkala
Gunakan vacuum cleaner dengan filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) untuk membersihkan kasur, sofa, karpet, dan permukaan kain lainnya setidaknya dua kali seminggu. Filter HEPA mampu menangkap partikel-partikel kecil termasuk tungau debu dan kotorannya sehingga tidak kembali ke udara. Fokuskan pada area-area yang sering digunakan seperti permukaan kasur, celah-celah sofa, dan sudut-sudut karpet.
4. Menjaga Kelembaban Ruangan dengan Dehumidifier
Tungau debu berkembang biak di lingkungan dengan kelembaban tinggi di atas 50%, sehingga menjaga kelembaban ruangan di bawah 50% sangat penting. Gunakan dehumidifier atau penghilang kelembaban udara, terutama di kamar tidur dan ruangan yang kurang mendapat sinar matahari. Monitor kelembaban ruangan dengan hygrometer dan pastikan ventilasi udara berjalan baik dengan membuka jendela secara rutin.
5. Menggunakan Pelindung Kasur dan Bantal Anti Tungau
Pertimbangkan untuk menggunakan sarung kasur dan sarung bantal khusus anti tungau (allergen-proof covers) yang terbuat dari bahan dengan pori-pori sangat kecil. Pelindung ini mencegah tungau debu dan alergennya keluar dari kasur atau bantal dan bersentuhan dengan kulit atau terhirup. Pastikan pelindung menutupi seluruh permukaan kasur dan bantal, serta cuci pelindung ini secara rutin sesuai petunjuk produsen.
Alergi tungau kasur memang kondisi yang mengganggu, namun bukan berarti tidak dapat diatasi atau dicegah. Dengan memahami apa itu tungau kasur, mengenali gejalanya, dan mengetahui berbagai pilihan pengobatan yang tersedia, kamu dapat mengelola kondisi ini dengan lebih baik.
Perlu diingat bahwa yang terpenting adalah menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten dan menjaga kebersihan lingkungan tidur akan sangat membantu mengurangi paparan terhadap alergen tungau debu.
Jika gejala alergi tetap berlanjut atau semakin memburuk meskipun sudah melakukan pencegahan dan pengobatan mandiri, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan efektif sesuai kondisi kamu. (*)