JawaPos.com – Bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Kesadaran Kanker Payudara. Menurut WHO, setiap penyintas maupun penderita kanker payudara memiliki kisah unik masing-masing. Itulah yang menjadi tema utama peringatan tahun ini.
Tema tersebut menekankan bahwa kanker payudara bukan hanya memengaruhi kehidupan seorang perempuan, tetapi juga orang-orang terdekat di sekelilingnya. Harapannya, semua kisah tersebut bisa didengar dan menjadi pengingat bersama.
Namun sebelum itu, penting juga untuk memahami latar belakang dari peringatan ini.
Sejarah
Berdasarkan catatan National Breast Cancer Awareness Month, organisasi dengan nama yang sama pertama kali berdiri pada 1985, dengan dukungan American Cancer Society dan divisi farmasi dari Imperial Chemical Industries.
Tujuan utama pendirian organisasi ini adalah mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mammografi, yang sejak lama dianggap sebagai cara paling efektif melawan kanker payudara.
Walaupun Oktober dijadikan sebagai bulan khusus kesadaran kanker payudara, aktivitas organisasi ini tidak berhenti hanya di bulan itu, melainkan terus berjalan sepanjang tahun.
Simbol pita merah muda sendiri mulai digunakan secara luas pada 1993 oleh Evelyn Lauder, Wakil Presiden Senior Estee Lauder, ketika ia mendirikan Breast Cancer Research Foundation. Meski begitu, penggunaan pita merah muda sebenarnya sudah lebih dulu dilakukan.
Minggu Kesadaran Kanker Payudara Pria (17–23 Oktober)
Mengutip Breast Cancer, meskipun kasus kanker payudara lebih dominan terjadi pada perempuan, pria juga tetap memiliki risiko terkena penyakit ini.
American Cancer Society memperkirakan sekitar 2.800 pria di Amerika Serikat akan terdiagnosis kanker payudara pada 2025, dengan sekitar 510 di antaranya diperkirakan meninggal dunia.
Sebagai bentuk perhatian, pada 2021 Presiden Joe Biden menetapkan tanggal 17–23 Oktober setiap tahun sebagai Minggu Kesadaran Kanker Payudara Pria.
Perubahan yang Ada
Data tahun 2022 menunjukkan sebanyak 2,3 juta perempuan di seluruh dunia terdiagnosis kanker payudara, dan 670 ribu di antaranya meninggal akibat penyakit tersebut.
Di negara berpendapatan tinggi, angka harapan hidup penyintas kanker payudara bisa mencapai 90%. Namun di India menurun menjadi 66%, dan di Afrika Selatan hanya sekitar 40%.
Ketidakmerataan akses terhadap fasilitas diagnosis dan pengobatan menjadi penyebab utama perbedaan angka tersebut. Banyak orang tidak mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan maupun perawatan.
Jika situasi ini terus berlanjut, angka kematian akibat kanker payudara diperkirakan akan meningkat hingga 40% pada 2050.
Strategi 60-60-80
WHO melalui Global Breast Cancer Initiative merekomendasikan tiga pilar strategi untuk negara-negara di dunia.
1. Promosi kesehatan dan deteksi dini. Mendorong masyarakat dan komunitas untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan, sebab 60% kasus kanker payudara invasif masih bisa ditemukan pada stadium I atau II.
2. Periode diagnosis. Menjamin layanan pemeriksaan yang cepat dan efisien, dengan target setiap pasien menerima hasil diagnosis maksimal 60 hari sejak pemeriksaan awal.
3. Pengobatan komprehensif. Memberikan perawatan yang menyeluruh, berkelanjutan, dan tanpa hambatan. Targetnya, 80% pasien dapat menuntaskan seluruh rangkaian pengobatan yang direkomendasikan. (*)