JawaPos.com - Setiap organ dalam tubuh memiliki fungsi penting yang saling berkaitan. Jika ada satu organ yang tidak bekerja dengan baik, hal tersebut bisa menimbulkan gangguan atau bahkan komplikasi pada organ lainnya.
Perubahan hormon, peradangan, atau penyakit tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan organ tubuh secara keseluruhan. Karena itu, menjaga kesehatan organ sangatlah penting.
Baik laki-laki maupun perempuan memiliki organ reproduksi yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama bisa mengalami masalah ketika terjadi gangguan hormon.
Bagi perempuan, salah satu kondisi yang cukup sering terjadi adalah sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS).
Apa itu PCOS?
Dilansir dari Halodoc, PCOS adalah sebuah penyakit ketika ovum atau sel telur tidak berkembang dengan normal yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon.
Ketika seseorang mengalami PCOS, ovarium mereka menghasilkan hormon androgen yang berlebihan. Padahal androgen adalah hormon seks pria dan hanya dapat ditemukan pada perempuan dalam jumlah kecil.
Hormon androgen yang berlebih ini dapat menyebabkan ovarium memproduksi banyak kantong berisi cairan atau kista.
Karena itu, pada akhirnya sel-sel telur tidak dapat berkembang dengan baik hingga gagal untuk dilepaskan secara teratur. Akibatnya, hal ini akan membuat para perempuan sulit untuk hamil karena menstruasi yang tidak teratur..
Dilansir dari Cleveland Clinic, para perempuan dapat mengalami PCOS kapan saja setelah melewati masa puber mereka. Kebanyakan kasus ditemukan pada perempuan usia 20 hingga 30an, atau diketahui ketika mencoba hamil.
Para perempuan dengan obesitas atau memiliki anggota keluarga dengan permasalahan yang sama dapat memiliki resiko tinggi mengidap kondisi ini pula.
Gejala dan ciri-ciri
Dilansir dari Alodokter, PCOS sebenarnya dapat terjadi sejak haid pertama seorang perempuan. Tapi baru didiagnosa ketika mereka berkonsultasi ke dokter pada usia dewasa.
Walaupun begitu, ada beberapa gejala yang dapat kita perhatikan sebelum bertemu dengan dokter spesialis.
1. Menstruasi tidak teratur
Kondisi ini biasanya ditandai dengan periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan. Penderita PCOS bisa hanya mengalami haid kurang dari 8-9 kali dalam setahun. Jarak antara haid bisa kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, hingga darah menstruasi yang deras.
2. Pertumbuhan rambut secara abnormal
Seseorang dengan kondisi ini dapat tiba-tiba mengalami pertumbuhan rambut di lokasi-lokasi lain, seperti lengan, dada dan perut. Kondisi baru ini dapat disebut hirsutisme.
3. Jerawat
PCOS dapat menyebabkan jerawat, terutama di punggung, dada dan wajah. Kondisi ini dapat terus berlangsung dimulai usia remaja hingga dewasa, dan biasanya cenderung lebih sulit untuk diobati.
4. Kista pada ovarium
Penderita PCOS biasanya juga akan mengalami pembesaran ovarium. Kondisi ini juga biasanya akan dihadiri dengan banyaknya kista dalam ovarium. Hal ini terjadi karena saat menstruasi ovarium memproduksi beberapa kantung berisi cairan yang kemudian membesar. Tapi kantung-kantung tersebut tidak ada yang terseleksi untuk matang, sehingga tetap berada di ovarium.
5. Kulit menggelap
Penderita PCOS dapat menemukan area-area pada kulit mereka yang tiba-tiba menggelap. Terutama di area leher, ketiak, selakangan dan di bawah payudara. Kondisi ini bernama acanthosis nigricans.
Masih ada beberapa gejala lainnya yang dapat ditemukan pada orang-orang dengan PCOS. Tapi, ada pula orang-orang dengan PCOS yang tidak menunjukkan gejala-gejala apa pun.
Karena itu, banyak dari mereka tidak menyadari bahwa mereka memiliki PCOS hingga mencoba untuk hamil.
Penyebab
Sebenarnya penyebab pasti PCOS masih tidak diketahui pasti. Memang faktor genetik dapat memainkan peran, tapi ada pula kondisi-kondisi lain yang dapat ikut menyebabkan PCOS.
Penyebab paling umum adalah hormon androgen yang tinggi. Karena hormon ini, ovarium tidak dapat melepaskan sel-sel telur, sehingga juga menyebabkan menstruasi yang tidak rutin.
Ditemukan pula resistensi insulin yang tinggi juga dapat menyebabkan ovarium memproduksi hormon androgen. Insulin yang seharusnya membantu tubuh kita memproses glukosa dan menjadikannya energi.
Ketika tubuh kita melawan insulin, tubuh kita tidak dapat memproses insulin dengan baik, sehingga tingkat gula darah pun menjadi tinggi. Obesitas juga dapat menyebabkan resistensi terhadap insulin.
Orang-orang dengan PCOS cenderung mengalami peradangan kronis tingkat rendah pula. Hal ini dapat diperiksa melalui tes darah untuk mengukur kadar protein C-reaktif (CRP) dan sel darah putih, dari situ akan terlihat apabila ada peradangan dalam tubuh.
Konsultasi ke dokter
Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya sulit untuk hamil, di saat yang sama juga menyebabkan kelahiran prematur bagi mereka yang sudah hamil.
Selain itu, mereka juga dapat mengalami keguguran, menderita tekanan tinggi, dan diabetes gestasional. Sehingga, kontrol rutin ke dokter kandungan selama hamil sangat diwajibkan agar kondisi kesehatan ibu dan janin terus terpantau.
Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter perlu melakukan beberapa tes, seperti tes darah dan USG. Setelah itu, dokter dapat merekomendasikan beberapa hal sebagai pengobatan.
Dokter dapat merekomendasikan pasiennya untuk mengubah diet atau pola makannya. Dengan begitu akan mengurangi resiko obesitas dan mendukung kinerja insulin.
Dokter juga dapat memberikan resep obat untuk mengontrol menstruasi, perbaikan hormon, hingga obat diabetes. (*)