JawaPos.com – Perempuan yang pernah menyusui disebut memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara dibandingkan dengan yang tidak menikah atau tidak menyusui. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Radiologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Nina I.S.H. Supit, Sp.Rad, PRP (K).
“Bukan berarti tidak akan kena (kanker payudara), tapi dia punya kesempatan jadi istilahnya lebih kurang dibandingkan yang tidak menyusui atau tidak menikah,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/9).
dr. Nina menambahkan, literatur medis memang menyebutkan bahwa perempuan yang tidak menikah atau tidak menyusui memiliki kemungkinan lebih besar terserang kanker payudara. Faktor hormonal menjadi alasan utamanya.
“Semua kelainan di payudara itu dipengaruhi oleh hormonal,” tegasnya.
Menurut dr. Nina, perbedaan risiko ini menunjukkan pentingnya faktor reproduksi dan menyusui dalam menjaga kesehatan payudara. Namun, ia tetap mengingatkan agar perempuan melakukan deteksi dini secara rutin, karena kanker payudara bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang memiliki gaya hidup sehat sekalipun.
“Jangan menunggu ada gejala. Pemeriksaan sejak dini sangat penting, karena semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh,” tegasnya.
Adapun deteksi dini kanker payudara juga bisa dilakukan dengan SADARI (periksa payudara sendiri). Pemeriksaan bisa dilakukan tujuh hingga sepuluh hari setelah menstruasi, dengan menggunakan tiga jari untuk meraba payudara.
“Tujuan SADARI bukan mencari benjolan, tapi menghafalkan bentuk payudara. Jadi kalau tiba-tiba ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada, kita bisa segera waspada,” pungkas dr. Nina.