JawaPos.com - Neurorestorasi adalah metode medis yang berfokus pada pemulihan dan menjaga kesehatan sel-sel saraf (neuron) di otak menggunakan strategi neurorestoratif.
Tujuan dari neurorestorasi, yakni membantu otak memperbaiki fungsinya melalui beberapa proses alami. Hal itu mencakup pada perlindungan saraf supaya tidak semakin rusak, membentuk jalur saraf baru alias memperbaiki jaringan yang rusak, mengatur kembali kerja saraf, dan mendukung regenerasi atau pertumbuhan sel serta jaringan baru.
Metode medis dalam neurorestorasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya dari obat-obatan, teknologi, terapi biologis, sampai tahap pembedahan.
Dilansir Siloam hospitals, neurorestorasi selain sebagai metode medis juga dianggap sebagai terapi yang efektif untuk penderita stroke. Teruntuk pasien stroke, neurorestorasi dilakukan dengan tujuan, antara lain:
Baca Juga: Pemulihan Pasien Stroke Bisa Lebih Cepat dengan Neurorestorasi
- Mengurangi kerusakan lebih lanjut pada otak
- Mengembalikan aliran darah ke otak
- Membantu pemulihan fungsi tubuh dan otak, yang pada akhirnya pasien bisa kembali beraktivitas bahkan kualitas hidupnya meningkat.
Metode neurorestorasi sebagai pemulihan pasca stroke
Berikut beberapa jenis metode neurorestorasi yang bisa dilakukan untuk membantu pemulihan pasien pascastroke:
1. Stem Cell Therapy
Salah satu metode neurorestorasi pasca stroke yaitu stem cell therapy atau transplantasi sel punca.
Sel punca memiliki kemampuan untuk dapat membantu regenerasi sel dan pemulihan sel pada jaringan otak yang rusak. Terdapat beberapa jenis sel punca yang dikaitkan dengan stroke, yaitu embryonic stem cells atau sel embrio, sel saraf, sel mononuklear sumsum tulang, sel mesenkimal, dan induced pluripotent stem cells.
2. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS)
Metode ini adalah jenis terapi otak yang menggunakan kumparan tembaga yang dialiri arus listrik singkat dan kuat. Sehingga kumparan tersebut menghasilkan medan magnet yang bisa berubah dengan begitu cepat.
Medan listrik yang ada nantinya akan merangsang sel-sel saraf tertentu, yaitu sel piramidal dan inhibitory interneurons. Akibatnya, terjadi aktivasi saraf yang dapat mempengaruhi fungsi otak.
Jenis terapi otak dalam hal ini, tidak menimbulkan rasa nyeri dan tidak perlu adanya pembedahan. Adapun berdasar penelitian internasional tahun 2023, berjudul ‘Evidence of Rtms FOR Motor or Cognitive Stroke Recovery: Hype or Hope?’ menunjukkan rTMS berpotensi membantu pemulihan fungsi motorik maupun kognitif setelah stroke.
Baca Juga: Kenali Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mencegah Stroke Sebelum Terlambat
3. Deep Brain Stimulation (DBS)
Metode neurorestorasi satu ini dilakukan dengan cara yang menanamkan elektroda yang diletakkan pada posisi yang begitu dekat dengan sel saraf (neuron). Dengan demikian, stimulasi yang diberikan akan lebih tepat sasaran dan efisien.
Melalui cara tersebut, bagian saraf tertentu bisa diaktifkan kembali dan dilatih ulang sehingga otak memiliki peluang lebih besar untuk pulih. Sebagai contoh, stimulasi epidural pada perilesional yang dikombinasikan dengan rehabilitas untuk mendorong pemulihan motorik pasca stroke.
Pada penerapannya DBS bisa membantu meningkatkan aktivitas di sisi otak yang terkena stroke, memperkuat hubungan antara kedua belahan otak, dan menyeimbangkan interaksi antarbelahan otak.
4. Virtual Reality (VR)
Teknologi VR dimanfaatkan untuk rehabilitas klinis. Metode seperti ini, dapat memberikan pengalaman interaktif berbasis komputer dalam lingkungan simulasi, biasanya melibatkan umpan balik suara dan visual.
Penggunaan VR bisa menjadi terapi tambahan selain rehabilitasi konvensional dan membantu mengurangi durasi untuk rawat inap.
Baca Juga: Hati-hati! Ini 5 Tanda Stroke yang Bisa Terjadi di Usia Produktif
5. Music Therapy
Melalui terapi musik, ternyata bisa meningkatkan fungsi kognitif, karena melibatkan berbagai proses kognitif dan emosional.
Mendengarkan musik bukan hanya mengaktifkan area pendengaran tetapi juga area di kedua belahan otak, meliputi bagian temporal, frontal, parietal, dan subkortikal. Hal tersebut berhubungan dengan pemrosesan bahasa dan musik, memori, serta fungsi motorik.
6. Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS)
Metode neurorestorasi selanjutnya yaitu menggunakan ars listrik lemah untuk merangsang bagian otak tertentu, seperti area gerak atau sensorik, namun tergantung pada area yang terdampak ketika pasien stroke.
Adanya proses stimulasi dalam metode ini, yang dilakukan menggunakan dua elektroda, terdiri dari anoda dan katoda. Anoda berfungsi untuk mengalirkan arus positif yang bisa menginduksi depolarisasi sehingga membuat membran saraf lebih mudah teraktivasi.
Sedangkan katoda berfungsi untuk mengalirkan arus negatif yang menginduksi hiperpolarisasi. Metode tDCS ini dapat meningkatkan kemampuan otak untuk membentuk kembali koneksi saraf yang baru alias memperkuat koneksi yang sudah ada (neuroplastisitas).
Hal tersebut begitu penting untuk bisa memulihkan fungsi yang hilang karena stroke, cedera, atau penyakit saraf lainnya. Dengan mengetahui beberapa metode pemulihan pasca stroke di atas, seseorang bisa memperbaiki kesehatannya dengan pemulihan menggunakan metode neurorestorasi. Tentunya hal ini sesuai saran dari dokter terkait.