JawaPos.com - Pernahkah kamu memperhatikan si kecil setelah seharian beraktivitas, tiba-tiba mengalami kesulitan bernapas saat malam hari? Atau mungkin anak kamu sering terbangun di tengah malam karena batuk yang tidak kunjung reda dan napas yang terasa berat?
Kondisi ini tentu membuat orangtua khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada buah hati mereka. Jika anak menunjukkan gejala-gejala tersebut, kemungkinan anak terkena serangan asma.
Asma merupakan kondisi kronis yang menyerang saluran pernapasan, di mana saluran bronkus mengalami peradangan dan penyempitan sehingga menyulitkan aliran udara masuk dan keluar dari paru-paru.
Pada anak-anak, asma menjadi salah satu penyakit kronis yang paling umum ditemui dan dapat muncul pada usia berapa pun, bahkan sejak bayi. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas menjadi sensitif terhadap berbagai pemicu seperti debu, asap, udara dingin, atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Meskipun asma tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, kondisi ini dapat dikendalikan dengan baik melalui penanganan yang tepat dan konsisten.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui gejala apa saja yang mungkin muncul ketika anak mengalami asma.
Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat beberapa gejala utama asma pada anak. Gejala dapat muncul secara bertahap atau tiba-tiba tergantung pada tingkat keparahan yang dialami anak. Gejala asma di antaranya:
- Suara siulan atau mengi saat menghembuskan napas.
- Sesak napas.
- Sesak di dada seperti perasaan tertekan atau berat di area dada
- Batuk yang bertambah ketika sedang tidur, terutama di malam hari atau udara dingin.
Selain gejala utama tersebut, asma pada anak-anak juga dapat menimbulkan dampak lain yang mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Kondisi ini sering kali mengganggu aktivitas normal anak dan dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius jika tidak ditangani dengan baik.
Bahkan asma pada anak dapat menyebabkan kesulitan tidur akibat sesak napas, batuk, atau suara mengi yang mengganggu istirahat malam.
Namun, sayangnya terdapat tantangan dalam mendiagnosis asma pada anak karena sering kali gejalanya hanya muncul secara parsial atau tidak lengkap.
Asma pada anak sering kali hanya menampilkan satu gejala saja, seperti batuk berkepanjangan tanpa disertai mengi, atau sesak napas yang hanya muncul setelah beraktivitas tertentu. Hal ini membuat orangtua kesulitan untuk mengetahui apakah kondisi tersebut benar-benar asma atau penyakit lain.
Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter menjadi sangat penting, terutama jika anak mengalami batuk berkepanjangan yang tidak kunjung membaik atau mengeluh dadanya sesak dalam jangka waktu yang lama.
Baca Juga: 8 Cara Turunkan Demam pada Anak, Panduan Aman Tanpa Obat Berlebihan
Adapun penanganan asma pada anak memerlukan tindakan yang berbeda dan disesuaikan kembali dengan kondisi individual masing-masing anak.
Dilansir dari Hello Sehat, terdapat berbagai jenis obat yang dapat digunakan untuk mengendalikan asma pada anak, yang terbagi dalam beberapa kategori berdasarkan tujuan dan durasi penggunaannya.
1. Obat Pereda atau Obat Jangka Pendek
- Bronkodilator: Jenis obat yang berfungsi membuka saluran bronkus (saluran menuju paru-paru) sehingga anak dapat bernapas lebih leluasa. Obat ini bekerja dengan cepat untuk meredakan gejala asma yang muncul secara mendadak dan biasanya digunakan melalui inhaler untuk efek yang lebih cepat.
- Kortikosteroid Oral atau Cairan: Prednisone dan methylprednisolone merupakan jenis obat kortikosteroid oral yang paling umum diresepkan dokter untuk mengatasi serangan asma yang parah. Biasanya dokter akan meresepkan obat steroid oral ini hanya untuk 1-2 minggu karena penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping.
2. Obat Pengendali atau Obat Asma Jangka Panjang
- Kortikosteroid Inhalasi: Beberapa obat seperti fluticasone, budesonide, mometasone, ciclesonide, dan beclomethasone diberikan untuk membantu anak bernapas lebih lega dalam jangka panjang. Obat ini bekerja dengan mengurangi peradangan di saluran napas dan harus digunakan secara rutin meskipun anak tidak sedang mengalami serangan asma.
- Leukotriene Modifiers: Obat seperti montelukast, zafirlukast, dan zileuton dapat membantu mencegah gejala asma kambuh hingga 24 jam. Obat ini bekerja dengan memblokir zat kimia yang menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran napas, serta dapat dikonsumsi dalam bentuk tablet.
- Long-acting Beta 2 Agonist: Salmeterol dan formoterol merupakan jenis obat yang paling sering diresepkan dalam kategori ini dengan efek yang dapat bertahan hingga 12 jam. Obat ini membantu menjaga saluran napas tetap terbuka dalam waktu lama dan biasanya dikombinasikan dengan kortikosteroid inhalasi.
- Inhaler Kombinasi: Mengandung kortikosteroid inhalasi yang dikombinasikan dengan long-acting beta agonist (LABA) dalam satu alat inhaler. Contoh obat ini termasuk fluticasone dan salmeterol (Advair Diskus), budesonide dan formoterol (Symbicort), serta mometasone dan formeterol (Dulera) yang memberikan efek ganda dalam mengendalikan asma.
- Teofilin: Obat ini merupakan pil harian yang membantu menjaga saluran udara tetap terbuka sepanjang hari. Obat ini memerlukan pemantauan kadar dalam darah secara berkala untuk memastikan dosis yang tepat dan menghindari efek samping.
3. Obat untuk Asma Akibat Alergi
- Omalizumab: Obat yang dapat digunakan untuk mengurangi reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat penyebab alergi seperti serbuk sari, debu, atau bulu hewan. Obat ini diberikan melalui suntikan dan biasanya direkomendasikan untuk kasus asma berat yang dipicu oleh alergi tertentu.
- Obat Alergi: Obat seperti antihistamin dan dekongestan serta kortikosteroid, cromolyn, dan ipratropium dapat membantu mengurangi reaksi alergi. Obat-obat ini bekerja dengan cara menghambat pelepasan histamin dan zat lain yang menyebabkan reaksi alergi pada saluran napas.
- Imunoterapi: Terapi ini biasanya diberikan seminggu sekali selama beberapa bulan pertama, kemudian dilanjutkan sebulan sekali untuk jangka waktu 3-5 tahun. Imunoterapi bertujuan untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar tidak bereaksi berlebihan terhadap alergen tertentu yang memicu asma.
Mengingat asma pada anak sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya yang samar dan bisa menyerupai penyakit lain, maka orang tua perlu lebih waspada dan peka terhadap kondisi kesehatan si kecil.
Ketika anak sudah menunjukkan salah satu gejala asma seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau suara mengi, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Apalagi jika gejala-gejala tersebut sudah berlangsung terus-menerus atau semakin sering muncul, penundaan diagnosis dan pengobatan dapat memperburuk kondisi anak serta menimbulkan komplikasi yang lebih serius. (*)