← Beranda
Kulit Gatal dan Mengelupas Setelah Mencuci? Waspada Gejala Dermatitis Kontak, Kenali Pengobatannya
Zalfa Hanifatul WafaJumat, 19 September 2025 | 23.04 WIB
Ilustrasi ketika seseorang terkena dermatitis (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu mengalami gatal, kulit mengelupas, atau kemerahan setelah mencuci baju atau piring? Reaksi kulit ini menunjukkan adanya iritasi atau peradangan akibat kontak dengan bahan kimia dalam produk pembersih rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa menghindari kontak kulit dengan berbagai bahan kimia, mulai dari sabun, deterjen, kosmetik, hingga bahan-bahan di tempat kerja. Sayangnya, banyak orang mengabaikan gejala awal ini, padahal jika tidak ditangani dengan tepat, kondisinya bisa berkembang menjadi masalah kulit yang lebih serius.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dermatitis, yaitu peradangan kulit yang ditandai dengan kemerahan, bengkak, gatal, dan terkadang lepuh atau kulit mengelupas. Dermatitis bisa menyerang siapa saja dan dapat sangat mengganggu kenyamanan penderitanya.

Dermatitis memiliki beberapa jenis, tetapi dermatitis kontak adalah salah satu yang paling sering terjadi dan mudah dikenali karena gejalanya muncul setelah kulit bersentuhan dengan zat pemicu. Dermatitis kontak sendiri dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya. Melansir dari laman Hello Sehat, berikut penjelasan tentang kedua jenis tersebut.

1. Dermatitis Kontak Alergi

Dermatitis kontak alergi adalah peradangan kulit yang terjadi akibat kontak langsung antara kulit dengan suatu alergen. Alergen sendiri merupakan zat penyebab alergi yang sebenarnya tidak berbahaya bagi kesehatan, tetapi dianggap oleh sistem imun sebagai ancaman sehingga memicu reaksi berlebihan.

Kondisi ini dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi zat yang tidak berbahaya sebagai ancaman dan meresponsnya dengan reaksi peradangan. Penyebab umum dermatitis kontak alergi meliputi logam seperti nikel (pada perhiasan), bahan kimia dalam kosmetik, pewangi, karet lateks, dan tanaman tertentu seperti poison ivy.

Selain itu, gejala yang muncul biasanya berupa ruam merah, gatal intensif, bengkak, dan terkadang disertai lepuh kecil yang dapat pecah dan mengeluarkan cairan. Gejala ini umumnya muncul 12-72 jam setelah kontak pertama dengan alergen dan dapat berlangsung beberapa hari hingga minggu.

2. Dermatitis Kontak Iritan

Dermatitis kontak iritan adalah jenis dermatitis yang diakibatkan oleh kontak antara kulit dengan suatu iritan. Berbeda dengan alergen, iritan merupakan zat yang secara langsung merusak lapisan pelindung kulit dan memicu peradangan atau gejala iritasi tanpa melibatkan sistem imun.

Zat-zat yang paling sering menjadi iritan adalah bahan kimia dalam produk pembersih, deterjen, sabun keras, pelarut, asam, basa kuat, dan komposisi tertentu dalam kosmetik atau parfum. Penyebab lainnya juga dapat berupa gesekan berulang, suhu ekstrem, atau paparan terhadap bahan abrasif.

Gejala dermatitis kontak iritan ini biasanya muncul segera setelah kontak dengan iritan, yang mana berupa kulit kering, kemerahan, sensasi terbakar atau perih, kulit pecah-pecah, dan dalam kasus yang parah bahkan dapat terjadi luka terbuka. Adapun tingkat keparahan gejala bergantung kembali pada kekuatan iritan, durasi kontak, dan sensitivitas individu terhadap zat tersebut.

Namun, sebagian besar kasus dermatitis kontak biasanya akan hilang dengan sendirinya ketika tidak terjadi lagi kontak antara kulit dengan zat penyebabnya. Meski begitu, Alodokter memberikan beberapa penjelasan mengenai pengobatan yang dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan.

1. Perawatan Mandiri di Rumah

Sebagai langkah awal pengobatan dermatitis kontak, kamu dapat melakukan berbagai upaya perawatan mandiri yang sederhana namun efektif.

  • Mengompres dingin area yang terkena untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal.
  • Menghindari menggaruk area yang terkena untuk mencegah infeksi lainnya dan memperparah kondisi.
  • Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara teratur agar kulit yang terkena dermatitis terhindar dari kontaminasi bakteri.
  • Menggunakan pelembab kulit yang lembut dan bebas pewangi agar kulit tidak kering dan proses penyembuhan berjalan lebih cepat.

2. Pengobatan dengan Obat-obatan

Jika upaya perawatan mandiri tidak menunjukkan hasil yang memuaskan, dokter dapat meresepkan berbagai jenis obat-obatan untuk mengatasi gejala. Pilihan obat yang paling umum adalah kortikosteroid topikal dalam bentuk krim atau salep seperti alclometasone, flupredinidene, atau hydrocortisone yang dioleskan pada kulit dua kali sehari untuk mengurangi peradangan dan gatal. Sedangkan, untuk kasus dermatitis kontak yang meliputi area kulit yang cukup luas atau parah, dokter mungkin akan meresepkan kortikosteroid dalam bentuk tablet. Namun, perlu diingat bahwa kedua jenis obat ini harus digunakan sesuai dengan anjuran dokter karena penggunaan yang berlebihan dapat menurunkan efektivitas obat dan berisiko menyebabkan efek samping yang justru memperburuk kondisi kulit.

3. Terapi Lanjutan

Jika pemberian obat-obatan standar belum mampu meredakan gejala secara optimal, dokter dapat melakukan penanganan dengan metode terapi yang lebih spesifik. Terapi seperti imunosupresan dapat diberikan untuk mengurangi peradangan dengan cara menekan respons sistem imun tubuh yang berlebihan. Adapun, fototerapi atau terapi cahaya juga dapat dilakukan untuk membantu mengembalikan penampilan kulit seperti semula pada area yang terkena dermatitis kontak melalui paparan sinar UV terkontrol. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan obat alitretinoin dalam bentuk olesan yang berfungsi membantu regenerasi kulit baru dan mengurangi peradangan, terutama efektif untuk mengatasi dermatitis kontak yang terjadi di area tangan.

Dermatitis kontak merupakan kondisi kulit yang dapat diatasi dengan baik jika ditangani dengan tepat dan cepat. Kunci utama penanganannya adalah mengidentifikasi dan menghindari zat pemicu, serta menerapkan perawatan yang sesuai dengan jenis dan tingkat keparahan kondisi.

Dengan pemahaman yang baik tentang penyebab, gejala, dan pilihan pengobatan, penderita dermatitis kontak dapat mengelola kondisinya dengan lebih efektif dan mencegah kekambuhan di masa depan. Namun, kamu juga bisa melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan rencana pengobatan yang tepat, terutama jika gejala tidak kunjung membaik atau semakin parah.

EDITOR: Candra Mega Sari