JawaPos.com - Tidur sering kali dianggap sebagai kebutuhan dasar yang kerap disepelakan. Padahal, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu istirahat agar bisa kembali segar keesokan harinya.
Sayangnya, tidak semua orang bisa dengan mudah terlelap di malam hari. Ada sebagian orang yang justru berjuang melawan gangguan tidur yang disebut insomnia.
Menurut Dr Yudish Herlambang yang dilansir pada kanal YouTube SKWAD Health pada (10/5), ia mengatakan bahwa kondisi ini membuat seseorang sulit tidur, mudah terbangun di tengah malam, atau bahkan tidak bisa tidur kembali setelah terbangun.
Akibatnya, tubuh terasa lelah, konsentrasi menurun, dan aktivitas sehari-hari pun ikut terganggu.
Insomnia bisa terjadi dalam jangka pendek, hanya beberapa hari atau minggu, biasanya dipicu oleh stres atau pengalaman traumatis.
Namun, pada sebagian orang, insomnia berlangsung dalam jangka panjang hingga berbulan-bulan.
Kondisi ini seringkali berkaitan dengan masalah kesehatan tertentu atau pengobatan yang sedang dijalani.
Penyebab Insomnia
Ada banyak faktor yang bisa memicu munculnya insomnia, antara lain:
-
Stres dan kekhawatiran
Pikiran yang terlalu aktif membuat tubuh sulit untuk rileks dan akhirnya sulit tidur.
-
Gangguan ritme sirkadian (circadian rhythm)
Circadian rhythm adalah jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Gangguan pada ritme ini sering dialami oleh orang yang sering bepergian lintas zona waktu (jetlag) atau pekerja dengan sistem shift.
-
Kebiasaan tidur yang buruk
Misalnya tidur siang terlalu lama, jam tidur yang tidak teratur, atau lingkungan tidur yang tidak nyaman.
-
Gangguan kesehatan mental
Kondisi seperti stres pascatrauma, depresi, atau kecemasan dapat membuat seseorang sulit tidur atau sering terbangun di malam hari.
-
Obat-obatan
Beberapa obat, seperti antidepresan, obat asma, dan obat tekanan darah, dapat mengganggu tidur.
Bahkan obat bebas seperti pereda nyeri atau obat alergi seringkali mengandung kafein atau stimulan.
-
Kondisi medis tertentu
Penyakit seperti parkinson, alzheimer, gangguan tiroid, masalah jantung, paru-paru, pencernaan, hingga kanker bisa memicu insomnia.
-
Konsumsi nikotin, kafein, dan alkohol
Kafein dan nikotin adalah stimulan yang membuat tubuh tetap terjaga.
Sementara alkohol mungkin membuat seseorang cepat tertidur, tapi kualitas tidurnya buruk karena sering terbangun di malam hari.
Cara Mengatasi Insomnia
Salah satu cara paling efektif adalah dengan menerapkan pola tidur sehat atau sleep hygiene.
Konsep ini berarti menciptakan kebiasaan tidur yang lebih teratur dan lingkungan yang kondusif untuk istirahat.
Beberapa langkah sleep hygiene yang bisa dicoba:
-
Batasi makan dan minum sebelum tidur.
-
Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
-
Batasi tidur siang.
-
Buat ritual khusus sebelum tidur, misalnya membaca atau meditasi ringan.
-
Ciptakan kamar tidur yang nyaman, tenang, dan minim cahaya.
-
Lakukan olahraga secara rutin, namun hindari terlalu dekat dengan jam tidur.
Jika perubahan pola tidur belum cukup membantu, penggunaan obat tidur bisa menjadi pilihan terakhir.
Namun, obat ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter karena dapat menimbulkan efek samping seperti kecemasan di siang hari, risiko jatuh, hingga ketergantungan.
Insomnia bukan sekadar sulit tidur, tetapi bisa berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental jika dibiarkan berlarut-larut.
Dengan memahami penyebabnya dan mulai memperbaiki kebiasaan tidur melalui sleep hygiene, kualitas tidur dapat meningkat secara bertahap.
Jika gangguan tetap berlanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Ingat, tidur yang cukup bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat.