← Beranda
Jangan Disepelekan, Ini yang Sebenarnya Dirasakan Seseorang Saat Depresi: Gejala Psikologis dan Fisik
Lavinia Tiara MalikaJumat, 29 Agustus 2025 | 04.02 WIB
Depresi bukan sekadar rasa sedih, tetapi kondisi serius yang memengaruhi pikiran, tubuh, dan kehidupan sosial seseorang./freepik.

JawaPos.com – Depresi merupakan salah satu gangguan mental paling umum di dunia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 280 juta orang di berbagai negara mengalami depresi.

Kondisi ini bukan sekadar rasa sedih sesaat, melainkan masalah serius yang dapat memengaruhi pikiran, tubuh, serta kehidupan sosial seseorang.

Apa yang Sebenarnya Dirasakan Saat Depresi?

National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa depresi membuat penderitanya merasakan kesedihan mendalam, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya menyenangkan, hingga munculnya rasa putus asa.

Gejala ini sering dibarengi dengan sulit berkonsentrasi, rasa tidak berharga, bahkan kehilangan energi yang berlarut-larut.

Baca Juga: Kunci Kekayaan: 9 Weton Ini Rezekinya Makin Menggunung Asal Tetap Rendah Hati dan Membumi

Namun, yang sering luput diperhatikan adalah gejala fisiknya. Medical News Today (2023) mengungkapkan bahwa depresi dapat menimbulkan sakit kepala, gangguan tidur, perubahan berat badan, hingga rasa lelah berkepanjangan.

Fenomena ini dikenal sebagai somatic symptoms, di mana kesehatan mental berdampak langsung pada kondisi tubuh.

Gejala Psikologis yang Membebani Pikiran

Mitra Keluarga menegaskan bahwa penderita depresi kerap terjebak dalam pikiran negatif berulang. Mereka merasa cemas, tidak berdaya, bahkan pada kasus berat muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.

Sementara itu, Siloam Hospitals menyebutkan bahwa depresi mayor biasanya berlangsung minimal dua minggu dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan, sekolah, hingga hubungan sosial.

Gejala Fisik yang Sering Terabaikan

Ciputra Medical Center menambahkan bahwa gejala depresi sering kali hadir dalam bentuk keluhan fisik, seperti nyeri otot, gangguan pencernaan, atau jantung berdebar.

Banyak pasien awalnya mengira itu hanya sakit biasa, padahal akarnya ada pada kondisi mental.

Halodoc juga mencatat, depresi dapat memperburuk penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan jantung sehingga memperlambat pemulihan.

Bagaimana Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-hari?

Baca Juga: Tinjau Terminal Purabaya dan UPPKB Trosobo, Dirjen Hubdar Aan Suhanan Minta Pelayanan Dasar Ditingkatkan 

Depresi sering membuat seseorang merasa hampa, hidup tanpa tujuan, atau seolah “berjalan tanpa warna.” WHO (2023) menegaskan bahwa isolasi sosial kerap memperburuk kondisi karena penderita kehilangan dukungan emosional.

Tidak jarang mereka memilih menarik diri dari pergaulan karena takut menjadi beban orang lain.

Selain itu, fenomena enclothed cognition yang dipublikasikan Medical News Today menjelaskan bahwa depresi bahkan bisa memengaruhi cara seseorang berpakaian dan berinteraksi.

Penderita cenderung tampil tanpa energi, yang secara tidak langsung menurunkan rasa percaya diri dan kualitas hubungan sosial.

WHO menekankan bahwa depresi tidak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Faktor pemicunya beragam, mulai dari trauma masa kecil, tekanan pekerjaan, kehilangan orang tercinta, hingga ketidakseimbangan zat kimia di otak.

Baca Juga: Mengapa Kamu Sulit Memutuskan Sesuatu? Ini Penjelasan Psikologi Analysis Paralysis dan Cara Keluar dari Jebakan

Karena itu, memahami gejalanya menjadi langkah awal untuk membantu diri sendiri maupun orang terdekat.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Menurut NIMH, penanganan depresi biasanya melibatkan kombinasi psikoterapi, obat antidepresan, serta perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Dukungan sosial juga sangat penting. Mendengarkan tanpa menghakimi, menemani saat dibutuhkan, atau sekadar hadir bisa membuat penderita merasa tidak sendirian.

Para ahli juga menekankan pentingnya deteksi dini. Semakin cepat seseorang mengenali tanda-tanda depresi, semakin besar peluang untuk pulih. Dengan pendekatan yang tepat, penderita bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Depresi bukan kelemahan, melainkan kondisi medis nyata yang membutuhkan perhatian serius. Gejalanya sering tidak terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat berat. Dengan mengenali tanda-tanda psikologis maupun fisiknya, masyarakat bisa lebih peduli dan berhenti menganggap depresi sekadar “sedih berkepanjangan.”

Yang dibutuhkan penderita adalah pemahaman, empati, serta bantuan tepat waktu. Karena di balik senyum yang tampak biasa, bisa saja seseorang sedang berjuang keras melawan rasa hampa yang tak terlihat. Menyadari hal itu, sudah saatnya kita menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan tidak menghakimi, agar jalan menuju pemulihan terasa lebih ringan.

EDITOR: Hanny Suwindari