← Beranda
3 Jenis Sayuran yang Sebaiknya Tidak Digoreng, Berisiko Picu Kanker hingga Penyakit Jantung
Nur Islami Rizki SyukrillahSabtu, 23 Agustus 2025 | 04.15 WIB
Potret kol goreng (Dok. USS Feed)

JawaPos.com - Makan sayur adalah hal yang sangat dianjurkan karena manfaatnya baik bagi tubuh.

Nutrisi pada sayur sangat berlimpah mulai dari vitamin, mineral, hingga serat yang menjadikan sayur berguna bagi proses metabolisme tubuh.

Namun, tidak selamanya makan sayur dapat memberikan manfaat yaitu ketika sayuran itu diolah dengan cara digoreng.

Lantas, sayuran apa saja yang sebaiknya tidak digoreng? Berikut daftarnya, seperti dikutip dari Instagram @healthi.id.

1. Kol atau Kubis

Kol yang digoreng dapat menimbulkan komposisi amina heterosiklik yang bersifat karsinogenik bagi tubuh.

Risiko penyakit yang dapat timbul akibat sering makan kol goreng adalah penyakit jantung, obesitas, hingga kanker. Sebaiknya kol diolah dengan cara direbus atau dimakan langsung.

2. Terong

Terong goreng memang nikmat untuk dimakan. Akan tetapi, proses menggoreng dapat membuat kandungan nitrit meningkat dan menjadi karsinogenik.

Risiko yang dapat timbul dari makan terong goreng berkepanjangan adalah hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan tersumbatnya aliran darah.

Akan lebih baik jika terong diolah dengan cara disayur, dimakan langsung, atau dijadikan sambal.

3. Brokoli

Brokoli goreng juga bisa berpotensi menimbulkan nitrit yang bersifat karsinogenik.

Bahaya dari seringnya makan brokoli goreng adalah menyebabkan kerusakan sel tubuh, peradangan dalam tubuh, hingga risiko penyakit degeneratif kanker.

Brokoli sebaiknya diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, atau dimakan langsung.

Pandangan Ahli

Dokter sekaligus influencer kesehatan, Dr. Tirta, melalui akun YouTube @TirtaPengPengPeng menjelaskan beberapa hal yang dapat terjadi ketika sayur digoreng.

"Sayur yang dimasak dengan cara digoreng, pertama, akan mengurangi angka nutrisinya," jelasnya.

Kemudian, sayur yang digoreng terlalu lama, apalagi menggunakan minyak yang sudah digunakan berulang kali, maka sifatnya menjadi seperti gorengan.

Hal itu dapat berpotensi meningkatkan low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat. LDL yang naik akan berpotensi meningkatkan plak pada pembuluh darah dan menyebabkan risiko penyakit jantung koroner.

"Sayur atau lalapan yang bagus adalah yang tidak mengalami proses masak atau direbus saja. Tetapi, perlu diingat, direbus terlalu lama pun akan mengurangi angka nutrisinya. Sayur lebih baik mengalami proses pemasakan paling minimal," terang dr. Tirta.

Perlu digarisbawahi bahwa risiko penyakit akibat makan sayur goreng adalah domino effect, dimana efeknya bisa dirasakan karena akumulasi jangka panjang.

Tidak masalah jika kamu ingin makan sayur goreng sekali-kali. Namun, perlu dipahami bahwa makan sayur goreng tidak sama dengan makan sayur segar atau sayur yang diolah dengan cara dikukus atau direbus.

EDITOR: Candra Mega Sari