← Beranda
Terungkap! 7 Mitos Paru-Paru Basah yang Sering Menyesatkan Masyarakat
Sukma AyuSabtu, 24 Mei 2025 | 16.37 WIB
ilustrasi Terungkap! 7 Mitos Paru-Paru Basah yang Sering Menyesatkan Masyarakat / freepik

JawaPos.com - Paru-paru basah menjadi istilah yang kerap memunculkan kekhawatiran dan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Penyakit ini sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki dasar ilmiah.

Dilansir dari laman YouTube Kunci Sehat, banyak beredar mitos seputar paru-paru basah yang perlu diluruskan agar tidak menyesatkan.

Mengetahui kebenarannya sangat penting agar kita dapat memahami cara pencegahan dan pengobatan yang tepat.

Meluruskan informasi keliru bukan hanya bermanfaat bagi penderita, tetapi juga membantu masyarakat dalam mencegah penularan.

Berikut tujuh mitos dan fakta tentang paru-paru basah yang perlu Anda ketahui secara mendalam.

1. Tidur di Lantai Menyebabkan Paru-Paru Basah

Banyak orang percaya bahwa tidur di lantai secara langsung menyebabkan paru-paru basah.

Faktanya, tidur di lantai bukanlah penyebab langsung, melainkan hanya faktor yang bisa memicu risiko lain.

Yang sebenarnya perlu dikhawatirkan adalah kebersihan lantai. Jika lantai dipenuhi debu, kotoran, atau jamur, maka saat seseorang tidur di atasnya tanpa alas yang cukup, partikel-partikel ini bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.

Debu dan kotoran yang masuk ke paru-paru dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki alergi atau asma, meskipun tidak menyebabkan infeksi langsung.

Jadi, kebersihan lingkungan jauh lebih penting daripada sekadar posisi tidur.

2. Mandi Malam Menyebabkan Paru-Paru Basah

Mandi malam sering dianggap sebagai penyebab paru-paru basah karena suhu udara yang dingin setelah matahari terbenam.

Padahal, paru-paru basah terjadi akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur, bukan karena suhu air.

Paparan udara dingin mungkin bisa membuat seseorang merasa menggigil, tetapi tidak serta-merta menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru.

Bahkan, mandi malam dengan air hangat justru dapat membantu meredakan ketegangan otot dan memperlancar pernapasan.

Yang perlu diperhatikan adalah kondisi tubuh. Jika tubuh sedang dalam keadaan lemah atau sistem imun menurun, paparan suhu ekstrem memang bisa memicu gangguan pernapasan, tetapi bukan sebagai penyebab utama infeksi paru.

3. Tidur Menggunakan Kipas Angin Sebabkan Paru-Paru Basah

Tidur dengan kipas angin sering kali dituduh sebagai penyebab paru-paru basah karena anggapan bahwa angin dingin dapat menembus tubuh dan menyebabkan infeksi.

Faktanya, tidak ada bukti medis yang menunjukkan bahwa kipas angin secara langsung menyebabkan infeksi paru-paru.

Namun, penggunaan kipas angin yang diarahkan langsung ke tubuh dalam waktu lama bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan atau memperburuk kondisi sinus.

Ini biasanya terjadi pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap udara kering atau dingin.

Penting untuk memastikan sirkulasi udara tetap baik dan menjaga kelembapan ruangan, terutama saat menggunakan kipas semalaman.

Jika ruangan terlalu dingin dan kering, risiko infeksi saluran napas atas bisa meningkat, namun bukan berarti langsung menyebabkan paru-paru basah.

4. Cuaca Dingin Menjadi Penyebab Utama

Sering kali, paru-paru basah dikaitkan dengan musim hujan atau cuaca dingin. Padahal, cuaca hanya menjadi faktor pendukung yang membuat tubuh lebih mudah terserang penyakit, bukan penyebab langsung dari infeksi paru.

Di musim dingin, sistem imun tubuh cenderung melemah, sehingga lebih mudah bagi bakteri atau virus untuk menyerang saluran pernapasan.

Selain itu, orang cenderung berada di dalam ruangan tertutup, yang mempermudah penularan penyakit.

Namun, tanpa keberadaan mikroorganisme penyebab infeksi seperti Streptococcus pneumoniae, virus influenza, atau jamur tertentu, cuaca dingin sendiri tidak akan menyebabkan seseorang terkena paru-paru basah.

5. Hanya Anak-Anak yang Bisa Terkena

Mitos ini muncul karena anak-anak memiliki sistem imun yang belum sempurna sehingga lebih rentan terhadap infeksi.

Namun faktanya, paru-paru basah bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia.

Lansia, penderita penyakit kronis seperti diabetes atau gagal ginjal, dan individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh juga memiliki risiko tinggi.

Bahkan orang dewasa yang sering terpapar polusi, asap rokok, atau tinggal di lingkungan padat juga rentan.

Risiko meningkat jika tubuh dalam kondisi lemah atau mengalami stres berkepanjangan, karena hal itu dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Maka dari itu, menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh penting untuk mencegah infeksi paru di segala usia.

6. Minum Air Dingin Menyebabkan Paru-Paru Basah

Minum air dingin sering kali dianggap dapat membuat tenggorokan meradang lalu berkembang menjadi infeksi paru-paru.

Sebenarnya, tidak ada hubungan langsung antara suhu air dengan infeksi paru.

Yang perlu diwaspadai adalah kualitas air yang diminum. Jika air yang dikonsumsi mengandung bakteri atau virus, maka kemungkinan besar infeksi bisa terjadi, terlebih jika sistem imun sedang lemah.

Jadi, selama air yang dikonsumsi bersih dan aman, tidak masalah meminumnya dalam kondisi dingin. Pastikan juga tidak mengonsumsi air es secara berlebihan saat tubuh sedang dalam kondisi tidak fit.

7. Paru-Paru Basah Mudah Menular

Banyak orang mengira paru-paru basah menular seperti flu biasa. Padahal, sebagian besar jenis paru-paru basah tidak menular dengan mudah, kecuali yang disebabkan oleh virus atau bakteri tertentu.

Penularan hanya terjadi melalui droplet (percikan air liur) saat penderita batuk atau bersin, dan itu pun tidak semua jenis pneumonia bisa menular.

Resiko penularan meningkat di tempat-tempat tertutup atau padat seperti rumah sakit, panti jompo, atau sekolah.

Orang sehat dengan sistem imun yang baik jarang terinfeksi meski berada dekat dengan penderita, kecuali mereka memiliki kontak erat dalam waktu lama. Karena itu, kebersihan dan vaksinasi menjadi perlindungan terbaik terhadap penyakit ini.

Paru-paru basah bukan penyakit yang bisa dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu ditakuti secara berlebihan karena banyak informasi keliru yang justru menyesatkan.

Edukasi yang tepat sangat penting agar masyarakat bisa mengambil langkah preventif yang benar dan tidak terjebak dalam mitos.

Dengan menjaga gaya hidup sehat, menghindari rokok, mencuci tangan secara teratur, dan mendapatkan vaksinasi yang sesuai, kita dapat menekan risiko infeksi paru-paru.

Kesehatan pernapasan adalah bagian penting dari kualitas hidup, dan itu dimulai dari pengetahuan yang benar.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho