JawaPos.Com - Kelahiran bayi prematur acapkali membuat orang tua baru merasa khawatir dan cemas.
Pasalnya, bayi prematur diketahui lahir sebelum usia kandungan menginjak usia 37 minggu.
Selain itu, bayi yang lahir secara prematur biasanya juga memiliki komplikasi kondisi kesehatan lainnya.
Beberapa diantaranya seperti, sesak napas, gangguan jantung, otak, metabolisme, atau daya tahan tubuh.
Semakin dini bayi lahir dari hari perkiraan lahir (HPL), risiko terjadinya komplikasi kesehatan pun semakin tinggi.
Meski demikian, ibu tidak perlu khawatir, sebab faktor risiko yang meningkatkan peluang bayi lahir prematur bisa dikendalikan.
Melansir Kid’sHealth pada Senin (27/11), berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol dan mencegah bayi lahir prematur:
1. Rutin Kontrol
Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin selama kehamilan. Pemeriksaan yang rutin tentu dapat mendeteksi komplikasi kehamilan dan masalah kesehatan pada ibu dan janin di dalam kandungan.
2. Deteksi Dini Masalah Kesehatan
Deteksi masalah kesehatan selama mengandung buah hati cukup penting untuk dilakukan ibu hamil.
Terutama untuk ibu hamil yang memiliki masalah diabetes, tekanan darah tinggi, dan depresi.
3. Terapkan Gaya Hidup Sehat
Konsumsi makanan sehat dengan nutrisi lengkap sepanjang kehamilan. Selain itu, konsumsi suplemen yang disarankan oleh dokter.
4. Jaga Berat Badan
Atur berat badan selama mengandung buah hati. Pastikan bobot tubuh ideal agar mencegah komplikasi kehamilan
5. Hindari Merokok
Ibu hamil pastikan untuk tidak merokok atau minum minuman beralkohol selama hamil
6. Atur Jarak Kehamilan
Atur jarak kehamilan setidaknya 12 bulan untuk mengurangi risiko bayi lahir prematur
Kendati demikian, apabila ibu hamil atau calon ibu hamil memiliki kekhawatiran di luar faktor risiko penyebab bayi lahir prematur yang bisa dikendalikan di atas, ada baiknya pasangan intens berkonsultasi ke dokter yang menangani.
***