Dalam melakukan aksi bejatnya, Sinaga terlebih dahulu melumpuhkan korban. Dia menggunakan modus yang sama yakni dengan mendekati perlahan para calon mangsa, mengajak ke flatnya, lalu diberi minuman keras yang dicampur cairan hingga korbannya tak sadarkan diri.
Kasus pelecehan seksual menyimpang tersebut jelas menjadi perhatian Indonesia. Kepada JawaPos.com, Selasa (7/1), Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dan RS Siloam Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ ikut menanggapi kekerasan seksual yang dilakukan Reynhard Sinaga. Menurutnya, kekerasan seksual pada laki-laki dapat memberikan dampak fisik dan psikologis yang kurang lebih sama dengan perempuan.
Dampak fisik pada laki-laki di antaranya luka pada tubuh, anal yang berpotensi munculnya infeksi, penularan penyakit menular seksual termasuk HIV AIDS, hingga gangguan kesadaran pada penggunaan obat bius. Lalu dampak psikologis seperti rape trauma syndrome, Post Traumatic stress disorder (PTSD), depresi, Social Phobia, ansietas (gangguan cemas), perilaku bunuh diri, penyalahgunaan narkoba, gangguan emosi, gangguan relasi, dan gangguan seksual.
Secara khusus pada laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual, mereka akan merasa khawatir dan berpikir mengenai maskulinitas, seksualitas, khawatir pendapat orang yang akan menganggap mereka homoseksual, fakta bahwa mereka tidak bisa mencegah kekerasan seksual tersebut. Sementara pada seluruh korban Reynhard Sinaga umumnya mengaku tidak sadar begitu terbangun dalam kondisi telanjang, pusing, dan mual.
Reynhard Sinaga juga menggunakan modus dengan menampilkan dirinya yang polos, manis, dan menarik seperti pria baik-baik. Sehingga korbannya tak menyangka dan tak sadar bahwa mereka sudah diperkosa.
Cara Menangani Korban Kekerasan Seksual pada Laki-laki
1. Konseling
2. Psikoterapi suportif, reedukatif, psikodinamik psikoanalitik
3. Psikofarmaka: obat obatan sesuai dengan gejala gangguan yg muncul seperti anti ansietas, anti depresan, anti psikotik, mood stabilizer
4. Rehabilitasi psikososial
5. Komunitas dukungan psikologis (community support group)
6. Psikoedukasi mengenai pola hidup sehat
7. Pendampingan dari keluarga, teman teman, masyarakat, spiritual/keagamaan