JawaPos.com - Fenomena Warga Negara Indonesia (WNI) memilih berobat ke luar negeri terus menjadi sorotan. Apalagi baru-baru ini, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut angkanya mencapai jutaan pasien.
"Kalau kita lihat dari data-data yang kita dapatkan beberapa tahun terakhir Bapak Presiden, kita bisa lihat 2 juta masyarakat Indonesia berobat di luar negeri," ujar Erick dalam sambutannya di acara peresmian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur di Badung, Bali, (25/6).
Jika dinominalkan, dua juta WNI yang berobat di luar negeri bisa diprediksi menghabiskan biaya hingga Rp 50 triliun per tahun. Fantastis.
Mengenai fenomena ini, JawaPos.com menghubungi Kementerian Kesehatan untuk mengetahui data terbaru.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi tidak secara eksplisit menyatakan data tersebut. Namun jika diperkirakan, kebocoran devisa triliunan rupiah itu bisa terjadi jika didasarkan pada data yang dipaparkan Erick Thohir.
"Data pasti tentang jumlah masyarakat yang berobat keluar negeri belum tersedia. Angka potensi ini berdasarkan estimasi perkiraan masyarakat yang berobat keluar negeri," ujar Nadia saat dihubungi wartawan JawaPos.com Tazkia Royyan Hikmatiar, Jumat (15/8).
Lantas, bagaimana kesiapan rumah sakit di Indonesia mengantisipasi fenomena pasien kabur ke luar negeri?
Reporter JawaPos.com Novia Herawati di Surabaya dan Dimas Choirul di Jakarta menghubungi dua rumah sakit berstandar internasional, Mayapada Healthcare dan Ciputra Hospital, untuk mengetahui apa saja strategi yang telah diresepkan dua rumah sakit populer itu.
- Kolaborasi Institusi dan Targetkan Pasien Kelas Atas
President Director & CEO Mayapada Healthcare, Navin Sonthalia, melihat tren ini bukan semata sebagai tantangan, melainkan peluang untuk melakukan lompatan besar dalam pelayanan kesehatan dalam negeri.
“Kami optimistis bisa menjadi game changer dalam meningkatkan standar layanan kesehatan di Indonesia sehingga dapat mengurangi kecenderungan berobat ke luar negeri," ujarnya saat wawancara khusus dengan JawaPos.com, Jumat (15/8).
Untuk mewujudkan target tersebut, Mayapada Healthcare menyiapkan strategi menyeluruh. Fokusnya adalah menghadirkan layanan kesehatan berstandar internasional, didukung teknologi canggih dan tim medis profesional.
“Kami mendorong kolaborasi bersama institusi layanan kesehatan ternama di dunia untuk terus menguatkan patient safety, quality of care, dan operational excellence untuk patient experience yang lebih baik," imbuh Navin Sonthalia. |
Adapun langkah strategis yang telah dijalankan, antara lain bermitra dengan Apollo Hospitals India, National University Hospital (NUH) Singapura, dan mitra global lain. Kolaborasi ini mencakup pelatihan berkelanjutan, transfer knowledge, dan sinergi keahlian untuk menangani kasus kompleks, pembedahan tingkat lanjut, hingga transplantasi organ.
Di samping itu, juga melakukan Inovasi teknologi medis seperti bedah robotik ortopedi (Johnson & Johnson MedTech), teknologi diagnostik PET CT dan SPECT CT (Siemens Healthineers), hingga diagnostik presisi berbasis AI untuk skrining jantung dan diabetes.
Kedepan, teknologi 3D printing akan dihadirkan untuk mendukung pelatihan bedah pada prosedur kompleks.
Selanjutnya, penguatan riset medis melalui pembangunan Clinical Research Unit bekerja sama dengan Syneos Health untuk peningkatan mutu layanan yang dibuktikan dengan akreditasi internasional Joint Commission International (JCI) untuk Mayapada Hospital Jakarta Selatan.
Serta ekspansi jaringan rumah sakit termasuk pembangunan Tower 3 MHJS sebagai kompleks rumah sakit swasta terbesar di Indonesia, topping off unit ke-8 di Jakarta Timur, dan groundbreaking Mayapada International Hospital (MABIH) di KEK Kesehatan Batam yang bekerja sama dengan Apollo Hospitals India.
Untuk meningkatkan kualitas tenaga medis, Mayapada mengirim dokter, perawat, dan tenaga penunjang ke mitra internasional guna mendapatkan transfer pengetahuan dan teknologi.
Kehadiran MABIH di Batam juga diharapkan menjadi solusi karena status kawasan ekonomi khusus memberi kelonggaran impor obat dan alat kesehatan, sehingga harga bisa lebih terjangkau.
Selain itu, MABIH akan menghadirkan dokter senior asing dengan keahlian khusus untuk membimbing tim medis lokal dalam praktik berbasis bukti.
Navin menegaskan, langkah ini tidak hanya mengurangi kecenderungan pasien berobat ke luar negeri, tetapi juga berpotensi menarik pasien dari luar negeri, termasuk Singapura.
Tidak hanya membidik pasien kelas premium, Mayapada Healthcare juga menggencarkan kerja sama dengan badan penjaminan kesehatan seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kerja sama ini mencakup layanan rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, hingga perawatan kasus kompleks seperti kanker.
“Di salah satu unit kami, Mayapada Hospital Tangerang, kami memiliki layanan radioterapi modern sehingga pasien BPJS juga bisa mendapatkan terapi tepat, efektif, dan berkualitas, tanpa hambatan biaya,” pungkas Navin.
Di Surabaya, Medical Director Ciputra Hospital, Lily Lidya, menilai fenomena pasien berobat ke luar negeri bukan ancaman, melainkan sebuah peluang bagi rumah sakitnya untuk menangkap pasar dalam negeri.
"Ciputra Hospital melihat fenomena ini adalah peluang untuk menangkap pasar, karena memang Ciputra Hospital ini (berstandar) internasional dan targetnya (masyarakat) menengah ke atas," ujar Lily kepada JawaPos.com, Senin (11/8).
Rumah sakit yang terletak di kawasan Sambikerep, Surabaya ini berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang prima, dengan didukung teknologi medis terkini.
"Ciputra Hospital saat ini dilengkapi peralatan canggih, seperti MRI 3 Tesla, CT Scan Dual Source, Automated Breast Ultrasound (ABUS), dan Cathlab Biplane. Dalam waktu dekat kami juga akan segera memiliki PET Scan, satu-satunya di Indonesia Timur," imbuh Lily Lidya. |
Sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Indonesia Timur, Ciputra Hospital memiliki empat layanan unggulan (Centre of Excellence), yakni Dian Woman and Children Centre, Neuroscience Centre, Cardiology Centre, dan Oncology Centre.
Layanan terbaru yang dimiliki Ciputra Hospital adalah Ciputra Comprehensive Cancer Center (CCC), yang secara eksklusif bekerja sama dengan Curie Oncology Singapore. CCC didukung oleh Multidisciplinary Tumor Board (MDT), yang terdiri dari para dokter spesialis dan subspesialis.
"Kami berkomitmen memberikan pengobatan kanker terbaik dengan menggunakan obat-obatan lokal berkualitas tinggi yang belum tersedia secara luas di Indonesia, melalui jalur SAS (Special Access Scheme). Jadi saya rasa secara teknologi, SDM, obat-obatan, hingga layanan kesehatan itu tidak kalah dengan pemerintah," pungkas mantan dokter gigi di RS. Dr. Soetomo Surabaya ini.
View this post on Instagram
(*)
Artikel ini merupakan seri pertama dari lima tulisan Liputan Khusus JawaPos.com yang membahas tantangan ekosistem kesehatan Indonesia untuk mengantisipasi maraknya pasien dalam negeri yang berobat ke luar negeri.
Selanjutnya, bagaimana tanggapan pasien Indonesia yang sempat merasakan berobat ke luar negeri? Simak cerita dua pasien dan liputan selengkapnya di Topik Khusus JawaPos.com.
Tentang penulis:
Lulusan Fakultas Ekonomi (FE) di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tahun 2018. Sejak mahasiswa sudah aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus dan pers. Dimas mengawali karir sebagai wartawan sejak 2019 dan saat ini fokus menggarap isu ekonomi dan bisnis di JawaPos.com.
Mengawali karier sebagai wartawan politik dan metropolitan di JawaPos.com sejak 2022. Lulusan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan dan Lulusan Pers Mahasiswa Poros ini sekarang meliput di desk Kesehatan dan sebagai SEO Writer.
Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2019. Sejak mahasiswa, sudah aktif di dunia broadcasting. Mengawali karier sebagai wartawan pada 2018 di Humas Kampus. Saat ini, fokus menggarap isu politik dan kota Surabaya di JawaPos.com.