JawaPos.com - Hubungan yang tidak sehat atau red flag jarang menunjukkan tanda-tandanya sejak awal.
Pada masa pendekatan, pasangan mungkin terlihat perhatian, penuh kasih sayang, dan selalu berusaha membuat Anda merasa istimewa.
Namun, seiring berjalannya waktu, sikap tersebut bisa berubah menjadi perilaku red flag, merendahkan, mengatur, atau membatasi kebebasan pasangan.
Perubahan perilaku red flag sering terjadi secara perlahan, mulai dari komentar yang dianggap sebagai candaan, rasa cemburu berlebihan dianggap sebagai bukti cinta, atau sikap mengontrol dianggap sebagai bentuk kepedulian.
Ketika sudah terbiasa dengan perilaku red flag, seseorang terkadang tidak menyadari bahwa batasan pribadinya mulai diabaikan.
Hubungan yang awalnya terasa menyenangkan dapat membuat seseorang kelelahan secara emosional.
Mengenali tanda-tanda red flag dalam hubungan yang tidak sehat sejak dini dapat membantu seseorang memahami situasi yang sedang dihadapi dan menentukan langkah untuk melindungi diri.
Melihat pola perilaku red flag yang berulang, serta tidak langsung menilai seseorang berdasarkan satu kejadian.
Melansir dari laman YourTango pada Senin (19/10), menyebutkan 16 red flag yang patut diwaspadai dalam hubungan, terutama tanda-tanda yang dapat berkaitan dengan pola kepribadian tertentu.
Berikut 16 red flag yang perlu diwaspadai dalam hubungan:
1. Merasa lebih unggul dan merendahkan Anda.
2. Mengaku membenci Anda, atau hubungan yang putus nyambung berulang.
3. Tidak pernah bertanggung jawab, menyebut kesalahannya lelucon atau salah paham.
4. Memberikan pasangan perhatian dan hadiah bersyarat.
5. Banyak mantan pasangan, kadang tumpang tindih atau berselingkuh.
6. Sangat sensitif saat dikritik, tetapi tidak peka pada orang lain.
7. Harus selalu menjadi pemenang.
8. Membuat Anda merasa gila, dengan memori dan konsentrasi terasa terganggu.
9. Senang merendahkan, mempermalukan, atau mendominasi.
10. Berbohong dan memanipulasi.
11. Moral meragukan, seperti curang, mencuri, atau menguntit.
12. Emosi dangkal.
13. Menjadikan diri korban agar dimaklumi.
14. Membandingkan Anda dengan mantan.
15. Perlu diajari dasar kebaikan, kepercayaan, dan rasa hormat.
16. Membuat Anda merasa selalu salah, dan permintaan wajar dianggap mengontrol.
Perlakuan dan perilaku pasangan tersebut ternyata memiliki dapat berdampak pada kesehatan mental.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Partner Abuse pada 2025, menemukan bahwa gaslighting berkaitan dengan depresi, sementara ghosting dan paksaan berkaitan dengan munculnya pikiran paranoid.
Studi tersebut juga menemukan bahwa pelaku gaslighting cenderung melakukan kontrol koersif, yaitu perilaku mengendalikan dan membatasi kebebasan pasangan, serta menguntit.
Hal ini menunjukkan bahwa berbagai bentuk perilaku berbahaya dapat muncul secara bersamaan.
Meski demikian, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pasangan Anda berbahaya atau memiliki gangguan kepribadian.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku yang terus berulang dan dampaknya terhadap kondisi emosional serta kehidupan Anda.
Jika Anda merasa takut, terisolasi, atau terancam dalam hubungan, jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang terpercaya, psikolog, atau lembaga layanan korban kekerasan setempat.
Jika Anda berada dalam bahaya, prioritaskan keselamatan diri dan segera cari bantuan.