Mungkin Anda berpikir, “Bagus juga postingannya.” Namun setelah beberapa detik, Anda hanya menggulir layar dan melanjutkan ke unggahan berikutnya.
Sekilas, tindakan menekan tombol “like” tampak sangat sederhana. Hanya membutuhkan satu ketukan jari. Tetapi bagi sebagian orang, tindakan kecil ini ternyata bisa melibatkan berbagai pertimbangan psikologis: bagaimana mereka ingin dipersepsikan, seberapa nyaman mereka mengekspresikan apresiasi, sampai kekhawatiran bahwa sebuah “like” dapat disalahartikan.
Menariknya, tidak selalu berarti orang tersebut tidak menyukai konten yang dilihatnya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), dalam psikologi sosial, perilaku di media sosial dapat dipengaruhi oleh norma sosial, pengelolaan kesan, kecemasan terhadap penilaian orang lain, kebutuhan akan privasi, hingga kebiasaan seseorang dalam mengekspresikan emosi.
Lantas, mengapa bagi sebagian orang tombol “like” terasa begitu sulit untuk ditekan?
1. Mereka Terlalu Memikirkan Bagaimana Dirinya Akan Dipersepsikan
Salah satu alasan yang cukup umum adalah self-presentation, yaitu kecenderungan manusia untuk mengelola bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.
Media sosial pada dasarnya bukan hanya tempat untuk melihat konten. Ia juga merupakan ruang sosial. Setiap aktivitas yang terlihat orang lain—termasuk memberikan “like”—dapat menjadi bagian dari citra yang kita tampilkan.
Bayangkan seseorang melihat unggahan tentang suatu topik yang sedang ramai diperbincangkan. Ia sebenarnya menyukai unggahan tersebut. Namun kemudian muncul pikiran:
“Kalau saya like, orang lain akan mengira saya setuju dengan semuanya.”
Atau:
“Kalau teman saya melihat saya menyukai postingan ini, kira-kira mereka akan berpikir apa?”
Akhirnya, tombol “like” tidak lagi dianggap sebagai sekadar tanda apresiasi. Ia berubah menjadi semacam pernyataan sosial.
Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin sengaja menahan diri meskipun sebenarnya menikmati kontennya.
Hal ini berkaitan dengan konsep impression management, yakni usaha seseorang untuk mengontrol kesan yang diberikan kepada orang lain.
Kita melakukan hal serupa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang mungkin menyukai sebuah lelucon tetapi tidak tertawa terlalu keras karena khawatir dianggap berlebihan. Atau seseorang sebenarnya tertarik pada suatu topik, tetapi enggan mengatakannya dalam percakapan karena takut dinilai aneh.
Media sosial hanya memberikan bentuk digital terhadap perilaku tersebut.
Bagi orang yang sangat memperhatikan citra dirinya, satu klik kecil dapat terasa seperti memiliki konsekuensi sosial yang lebih besar daripada yang sebenarnya.
2. Mereka Takut “Like” Akan Dianggap Sebagai Persetujuan
Ada perbedaan antara menyukai sebuah konten dan menyetujui seluruh isi atau pandangan di balik konten tersebut.
Namun di media sosial, batas tersebut terkadang terasa kabur.
Seseorang bisa saja menyukai cara sebuah tulisan disampaikan, menyukai foto yang indah, atau menganggap sebuah video menarik tanpa sepenuhnya setuju dengan pandangan pembuatnya.
Masalahnya, orang tersebut mungkin khawatir bahwa orang lain tidak akan melihat perbedaan itu.
Misalnya, Anda melihat unggahan yang mengatakan:
“Menurut saya, orang seharusnya melakukan X.”
Anda mungkin berpikir, “Argumennya menarik.”
Tetapi Anda belum tentu berpikir, “Saya 100 persen setuju.”
Jika tombol “like” dianggap sebagai tanda persetujuan, seseorang yang berhati-hati mungkin memilih untuk tidak menekannya.
Kecenderungan ini dapat menjadi lebih kuat pada topik yang bersifat sensitif—politik, agama, hubungan pribadi, kesehatan, gaya hidup, atau isu kontroversial.
Di sinilah media sosial menjadi menarik secara psikologis. Sebuah tindakan yang secara teknis sederhana dapat memiliki makna sosial yang berbeda bagi setiap orang.
Orang yang sangat berhati-hati dalam berkomunikasi mungkin memilih prinsip:
“Kalau saya tidak yakin ingin diasosiasikan dengan pesan ini, lebih baik saya tidak memberikan like.”
Jadi, tidak memberikan “like” tidak selalu berarti tidak tertarik. Kadang justru menunjukkan bahwa orang tersebut sangat sadar terhadap makna sosial dari tindakannya.
3. Mereka Memiliki Kecemasan Sosial atau Terlalu Sadar terhadap Penilaian Orang Lain
Bagi sebagian orang, interaksi sosial merupakan sesuatu yang membutuhkan banyak energi mental.
Bahkan tindakan kecil seperti memberi komentar, mengirim pesan, atau menekan “like” bisa memunculkan pertanyaan:
“Apakah ini terlihat aneh?”
“Apakah dia akan tahu bahwa saya melihat postingannya?”
“Apakah orang lain akan memperhatikan bahwa saya menyukai ini?”
“Bagaimana kalau saya terlalu sering like postingannya?”
Kekhawatiran seperti ini dapat membuat tindakan sederhana terasa rumit.
Orang dengan tingkat self-consciousness yang tinggi—atau kesadaran berlebihan terhadap bagaimana dirinya dilihat—cenderung lebih banyak memikirkan konsekuensi sosial dari tindakannya.
Misalnya, seseorang melihat foto temannya yang menurutnya bagus.
Secara spontan, ia ingin memberikan “like”.
Namun beberapa detik kemudian ia mulai berpikir:
“Nanti dia tahu saya melihat fotonya.”
“Kalau saya selalu like postingannya, apakah saya terlihat terlalu perhatian?”
“Kalau kali ini saya like, apakah nanti dia berharap saya selalu memberikan like?”
Akhirnya, ia tidak melakukan apa-apa.
Padahal dari perspektif orang lain, mungkin tidak ada masalah sama sekali.
Inilah salah satu hal menarik dari psikologi media sosial: beban psikologis suatu tindakan tidak selalu sebanding dengan ukuran tindakan tersebut.
Satu klik bisa berlangsung kurang dari satu detik, tetapi proses berpikir di belakangnya dapat berlangsung jauh lebih lama.
4. Mereka Tidak Terbiasa Mengekspresikan Apresiasi Secara Terbuka
Ada orang yang sebenarnya sangat menghargai sesuatu, tetapi tidak terbiasa menunjukkan apresiasi secara eksplisit.
Mereka mungkin menikmati sebuah foto tanpa memberikan “like”. Mereka membaca tulisan sampai selesai tanpa memberikan komentar. Mereka menonton video seseorang sampai akhir tetapi tidak pernah berinteraksi.
Ini tidak selalu menunjukkan ketidakpedulian.
Setiap orang memiliki gaya ekspresi sosial yang berbeda.
Sebagian orang terbiasa mengatakan:
“Bagus banget!”
Sebagian lainnya cukup berpikir:
“Bagus.”
dan kemudian melanjutkan aktivitasnya.
Dalam kehidupan nyata pun kita dapat menemukan pola serupa.
Ada orang yang mudah memberikan pujian secara langsung. Ada pula yang merasa canggung mengucapkan pujian, meskipun sebenarnya mereka mengagumi orang tersebut.
Media sosial memperlihatkan perbedaan ini dengan sangat jelas.
Seseorang mungkin memiliki tingkat apresiasi yang tinggi tetapi tingkat ekspresi sosial yang rendah.
Dengan kata lain:
Apa yang dirasakan seseorang tidak selalu sama dengan apa yang ditampilkannya secara online.
Ini penting karena jumlah “like” sering kali dianggap sebagai ukuran popularitas atau penghargaan. Padahal tombol tersebut hanya merekam satu bentuk perilaku yang terlihat.
Orang yang tidak memberikan “like” bisa saja tetap membaca, menikmati, mengingat, atau bahkan terinspirasi oleh konten tersebut.
Tidak semua bentuk apresiasi meninggalkan jejak digital.
5. Mereka Menganggap “Like” sebagai Bentuk Komitmen Sosial
Alasan lainnya berkaitan dengan persepsi bahwa interaksi digital dapat menciptakan kewajiban sosial.
Contohnya sederhana.
Seseorang melihat temannya mengunggah banyak foto. Ia memberikan “like” pada beberapa unggahan.
Kemudian muncul kekhawatiran:
“Kalau saya mulai like postingannya, nanti saya harus konsisten.”
Atau:
“Kalau saya like postingannya, apakah dia akan merasa saya harus membalas ketika dia mengunggah sesuatu?”
Bagi sebagian orang, media sosial tidak hanya berisi interaksi satu arah. Ada semacam sistem timbal balik.
Jika seseorang memberikan perhatian kepada kita, kita merasa perlu memberikan perhatian kembali.
Jika kita mulai sering menyukai unggahan seseorang, kita mungkin merasa bahwa hubungan sosial tertentu sedang terbentuk atau diperkuat.
Karena itu, orang yang ingin menjaga batas sosial mungkin sengaja mengurangi interaksi digital.
Mereka tidak ingin setiap aktivitas kecil berkembang menjadi ekspektasi baru.
Fenomena ini juga dapat menjelaskan mengapa seseorang kadang lebih nyaman menjadi silent observer.
Ia ingin mengetahui apa yang terjadi, tetapi tidak ingin terlalu terlihat hadir.
Mereka membaca tanpa berkomentar.
Melihat tanpa memberikan reaksi.
Mengikuti tanpa banyak berinteraksi.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena mereka ingin mempertahankan jarak tertentu.
Dalam konteks ini, tidak menekan tombol “like” dapat menjadi bentuk pengaturan batas sosial.
6. Mereka Memiliki Kecenderungan untuk Overthinking dan Membuat Keputusan Kecil Menjadi Rumit
Pada akhirnya, ada satu faktor yang mungkin menggabungkan banyak alasan sebelumnya: overthinking.
Bagi orang yang cenderung banyak berpikir, keputusan kecil tidak selalu terasa kecil.
Sebuah unggahan muncul.
Jari hampir menyentuh tombol “like”.
Kemudian otak mulai bekerja:
“Bagus sih.”
“Tapi kalau saya like, dia tahu saya melihat.”
“Memangnya perlu saya like?”
“Nanti dikira apa?”
“Ah, tidak usah.”
Lalu unggahan tersebut terlewat.
Beberapa detik kemudian, orang tersebut bahkan mungkin sudah lupa mengapa ia tidak memberikan “like”.
Overthinking membuat seseorang memproses terlalu banyak kemungkinan dari sebuah tindakan yang sebenarnya sederhana.
Dalam psikologi, kecenderungan untuk memikirkan berbagai konsekuensi sosial dapat membuat keputusan menjadi lebih lambat atau bahkan membuat seseorang memilih untuk tidak bertindak sama sekali.
Ini bukan hanya terjadi di media sosial.
Orang yang banyak berpikir mungkin juga membutuhkan waktu lama untuk memilih pakaian, menentukan apakah harus membalas pesan, memutuskan apakah perlu menyapa seseorang, atau mempertimbangkan apakah sebuah komentar akan diterima dengan baik.
Media sosial hanya menyediakan begitu banyak kesempatan untuk melakukan evaluasi diri tersebut.
Setiap tombol dapat menjadi keputusan.
Setiap komentar dapat menjadi pernyataan.
Setiap interaksi dapat terasa seperti sesuatu yang berpotensi dinilai.
Tidak Memberikan “Like” Bukan Berarti Tidak Menyukai
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam memahami perilaku media sosial adalah menganggap bahwa aktivitas digital selalu mencerminkan perasaan seseorang secara akurat.
Padahal tidak demikian.
Seseorang dapat menyukai sebuah unggahan tetapi tidak menekan “like”.
Seseorang dapat memberikan “like” meskipun sebenarnya tidak terlalu menyukainya.
Seseorang dapat membaca semua unggahan seseorang tanpa pernah berinteraksi.
Sebaliknya, seseorang dapat memberikan banyak “like” bukan karena sangat menyukai kontennya, tetapi karena ingin menunjukkan dukungan, menjaga hubungan, atau sekadar melakukan kebiasaan.
Artinya, tombol “like” merupakan sinyal sosial, bukan alat pengukur perasaan yang sempurna.
Kita sebaiknya berhati-hati ketika menarik kesimpulan tentang seseorang hanya berdasarkan aktivitas media sosialnya.
Teman yang tidak pernah memberikan “like” belum tentu tidak menghargai kita.
Pasangan yang tidak menyukai unggahan kita belum tentu tidak peduli.
Pengikut yang jarang berinteraksi belum tentu tidak menikmati konten kita.
Bisa jadi mereka memiliki cara yang berbeda dalam menggunakan media sosial.
Mengapa Tombol Kecil Bisa Memiliki Makna Besar?
Secara teknis, tombol “like” hanyalah fitur.
Namun manusia memberikan makna sosial terhadap fitur tersebut.
Kita menggunakannya untuk menunjukkan dukungan, apresiasi, persetujuan, perhatian, kedekatan, bahkan terkadang ketertarikan.
Karena itu, keputusan untuk menekan atau tidak menekan tombol tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.
Bagi seseorang yang santai, “like” mungkin hanya berarti:
“Saya suka ini.”
Bagi orang lain, “like” bisa berarti:
“Saya ingin Anda tahu bahwa saya melihat ini.”
Bagi orang yang sangat berhati-hati:
“Saya bersedia diasosiasikan dengan konten ini.”
Dan bagi seseorang yang cenderung overthinking:
“Apa yang akan dipikirkan orang lain jika saya menekan tombol ini?”
Satu tombol, tetapi begitu banyak kemungkinan makna.
Kesimpulan
Jika Anda termasuk orang yang sering melihat sebuah unggahan tanpa memberikan “like”, tidak otomatis ada yang salah dengan diri Anda.
Bisa jadi Anda sangat menjaga privasi. Bisa jadi Anda tidak ingin terlalu terlihat. Bisa jadi Anda takut tindakan tersebut disalahartikan. Bisa juga Anda memang bukan tipe orang yang terbiasa mengekspresikan apresiasi secara terbuka.
Enam alasan yang mungkin menjelaskan hal tersebut adalah:
Terlalu memikirkan bagaimana diri akan dipersepsikan orang lain.
Takut “like” dianggap sebagai bentuk persetujuan.
Merasa cemas atau terlalu sadar terhadap penilaian sosial.
Tidak terbiasa mengekspresikan apresiasi secara terbuka.
Menganggap interaksi digital dapat menciptakan kewajiban sosial.
Cenderung overthinking terhadap keputusan-keputusan kecil.
Pada akhirnya, perilaku seseorang di media sosial tidak bisa dibaca hanya dari satu indikator.
Tidak adanya “like” bukan selalu penolakan.
Tidak adanya komentar bukan selalu ketidakpedulian.
Dan banyaknya “like” bukan selalu tanda bahwa seseorang benar-benar menyukai sesuatu.
Di balik satu ketukan jari terdapat konteks sosial, kebiasaan, kepribadian, dan cara seseorang memahami hubungan dengan orang lain.