← Beranda
Melompati Hambatan Hidup Tanpa Terlalu Terbebani, Lakukan 5 Trik Ketangguhan Diri Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 16 Oktober 2026 | 03.21 WIB
seseorang yang melompati hambatan hidup./Magnific/dotshock

JawaPos.com - Hidup tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ada masa ketika semuanya terasa mudah, tetapi ada pula saat ketika masalah datang bertubi-tubi. Kegagalan, kehilangan, tekanan pekerjaan, konflik hubungan, masalah keuangan, hingga ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang merasa seolah-olah sedang berjalan di jalan yang penuh rintangan.

Menariknya, dua orang yang menghadapi masalah yang hampir sama belum tentu memberikan respons yang sama.

Seseorang mungkin langsung menyerah ketika mengalami kegagalan. Sementara orang lain justru menganggap kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Ada yang membutuhkan waktu sangat lama untuk bangkit setelah menghadapi masalah, tetapi ada pula yang perlahan mampu menata kembali kehidupannya.

Perbedaannya bukan selalu karena seseorang lebih kuat sejak lahir.

Salah satu faktor yang berperan adalah ketangguhan psikologis atau resilience.

Dalam psikologi, resiliensi secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bertahan, dan kembali menjalankan kehidupan setelah menghadapi tekanan atau kesulitan. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, takut, kecewa, atau lelah.

Justru sebaliknya.

Orang yang tangguh tetap bisa merasa hancur. Mereka tetap bisa menangis, kecewa, bahkan kehilangan arah. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk secara perlahan menemukan kembali pijakan dan melanjutkan hidup.

Karena itu, melompati hambatan hidup bukan berarti membuat semua masalah menghilang. Yang lebih realistis adalah belajar agar masalah tidak mengambil alih seluruh kehidupan kita.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (15/10), ada beberapa kebiasaan psikologis yang dapat membantu membangun ketangguhan tersebut. Berikut lima di antaranya.

1. Berhenti Bertanya, “Mengapa Ini Terjadi Kepadaku?”

Ketika mengalami masalah, pikiran manusia sering mencari penjelasan.

“Kenapa saya yang mengalami ini?”

“Kenapa hidup saya tidak seperti orang lain?”

“Kenapa semuanya harus terjadi sekarang?”

Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi. Namun, jika terus-menerus dipikirkan tanpa menghasilkan tindakan, kita bisa terjebak dalam pola pemikiran yang membuat masalah terasa semakin besar.

Bukan berarti kita tidak boleh mencari penyebab.

Memahami penyebab masalah penting. Tetapi setelah memahami situasinya, kita perlu mengubah pertanyaan.

Alih-alih terus bertanya:

“Mengapa ini terjadi kepadaku?”

cobalah bertanya:

“Apa yang masih bisa saya lakukan dari situasi ini?”

Perubahan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah arah perhatian.

Pertanyaan pertama membuat perhatian tertuju pada sesuatu yang mungkin tidak bisa dikendalikan. Pertanyaan kedua mengarahkan perhatian kepada tindakan yang masih mungkin dilakukan.

Dalam kehidupan, ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.

Kita tidak selalu bisa mengendalikan keputusan orang lain. Kita tidak dapat mengubah masa lalu. Kita tidak bisa memastikan bahwa semua usaha akan menghasilkan sesuatu sesuai harapan.

Namun, kita masih bisa mengendalikan sebagian respons kita.

Kita bisa memilih apakah akan mencoba lagi.

Kita bisa memilih siapa yang akan kita mintai bantuan.

Kita bisa memilih bagaimana menggunakan waktu hari ini.

Kita bisa memilih apakah akan belajar dari kesalahan atau terus menghukum diri sendiri karena kesalahan tersebut.

Ketangguhan sering kali dimulai dari kemampuan membedakan apa yang dapat dikendalikan dan apa yang tidak.

Bayangkan seseorang kehilangan pekerjaan.

Ia tentu boleh merasa kecewa. Bahkan sangat wajar jika ia takut terhadap masa depan. Tetapi setelah emosi mulai lebih stabil, ia dapat bertanya:

“Langkah apa yang bisa saya lakukan minggu ini?”

Mungkin jawabannya adalah memperbarui CV, menghubungi beberapa kenalan, mempelajari keterampilan baru, atau mencari peluang kerja lain.

Masalahnya belum tentu langsung selesai.

Namun, orang tersebut sudah berpindah dari posisi pasif menjadi aktif.

Dan sering kali, ketangguhan tidak muncul karena kita memiliki jawaban atas semua masalah. Ketangguhan muncul karena kita bersedia mengambil satu langkah kecil meskipun belum mengetahui seluruh jalan di depan.

2. Jangan Menuntut Diri Selalu Kuat

Ada kesalahpahaman yang cukup umum mengenai ketangguhan.

Banyak orang mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh menangis, tidak boleh takut, tidak boleh mengeluh, dan harus selalu terlihat baik-baik saja.

Padahal, menekan emosi bukanlah satu-satunya bentuk kekuatan.

Manusia memiliki emosi karena emosi memiliki fungsi. Kesedihan dapat menunjukkan bahwa kita kehilangan sesuatu yang berarti. Ketakutan dapat memberi sinyal bahwa kita menghadapi ancaman. Kekecewaan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Karena itu, ketika mengalami kesulitan, jangan langsung memarahi diri sendiri hanya karena merasa lemah.

Katakan:

“Saya sedang mengalami masa sulit, dan wajar jika saya merasa berat.”

Kalimat ini bukan bentuk menyerah.

Justru ini adalah bentuk penerimaan terhadap kondisi yang sedang terjadi.

Setelah menerima emosi, kita dapat mulai mengelolanya.

Misalnya, seseorang mengalami kegagalan dalam sebuah proyek. Ia mungkin merasa malu dan kecewa. Jika ia langsung mengatakan kepada dirinya, “Saya memang tidak berguna,” masalah yang sebenarnya terjadi—yaitu kegagalan sebuah proyek—berubah menjadi penilaian menyeluruh terhadap harga dirinya.

Ini berbahaya.

Kegagalan dalam satu hal tidak sama dengan menjadi manusia yang gagal.

Pisahkan kejadian dari identitas.

“Saya gagal dalam ujian” berbeda dengan “Saya orang bodoh.”

“Saya kehilangan pekerjaan” berbeda dengan “Saya tidak memiliki masa depan.”

“Hubungan saya berakhir” berbeda dengan “Tidak ada orang yang akan mencintai saya.”

Bahasa yang kita gunakan kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara kita memandang situasi.

Karena itu, ketika hidup sedang berat, cobalah memperlakukan diri sendiri seperti kita memperlakukan seorang teman yang sedang menghadapi masalah.

Bayangkan sahabat Anda baru saja gagal.

Apakah Anda akan berkata:

“Dasar bodoh. Memang kamu tidak mampu.”

Kemungkinan besar tidak.

Anda mungkin akan mengatakan:

“Tidak apa-apa. Memang menyakitkan, tetapi kamu masih bisa belajar dari ini.”

Cobalah memberikan perlakuan yang sama kepada diri sendiri.

Bukan berarti mencari alasan untuk kesalahan. Melainkan memberikan ruang yang cukup agar kita dapat memperbaiki kesalahan tanpa menghancurkan harga diri sendiri.

3. Pecah Masalah Besar Menjadi Langkah Kecil

Salah satu alasan masalah terasa sangat menakutkan adalah karena kita melihat semuanya sekaligus.

Ketika menghadapi masalah besar, pikiran bisa mulai memikirkan berbagai kemungkinan buruk:

“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau keadaan semakin buruk?”

“Bagaimana kalau saya tidak mampu?”

“Bagaimana kalau semuanya tidak pernah membaik?”

Akhirnya, kita bukan hanya menghadapi masalah hari ini.

Kita juga menghadapi puluhan kemungkinan masalah yang sebenarnya belum terjadi.

Akibatnya, kita merasa kewalahan sebelum melakukan apa pun.

Salah satu cara yang lebih membantu adalah memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan konkret.

Misalnya, seseorang sedang mengalami masalah keuangan.

Daripada terus memikirkan:

“Saya harus memperbaiki seluruh kondisi keuangan saya.”

pecah menjadi beberapa langkah:

Catat seluruh pengeluaran selama satu minggu.

Identifikasi pengeluaran yang bisa dikurangi.

Pisahkan kebutuhan dan keinginan.

Tentukan jumlah minimum yang harus disisihkan.

Cari satu peluang tambahan untuk meningkatkan pendapatan.

Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun, masalah besar menjadi lebih mudah didekati ketika diubah menjadi tindakan yang jelas.

Prinsip yang sama dapat diterapkan pada banyak masalah.

Jika sedang mencari pekerjaan, fokuslah pada satu atau dua lamaran berkualitas setiap hari.

Jika sedang belajar, jangan berpikir harus menguasai seluruh materi sekaligus. Tentukan satu topik untuk dipelajari.

Jika rumah terasa berantakan, jangan berpikir harus membersihkan semuanya. Mulailah dari satu meja.

Jika hubungan sedang bermasalah, jangan langsung memikirkan apakah hubungan itu akan bertahan sepuluh tahun lagi. Fokuslah pada percakapan yang perlu dilakukan hari ini.

Ketangguhan tidak selalu terlihat seperti tindakan besar.

Kadang-kadang ketangguhan terlihat seperti bangun dari tempat tidur ketika kita sedang tidak bersemangat.

Kadang terlihat seperti mengirim satu email.

Kadang seperti meminta bantuan.

Kadang hanya seperti menyelesaikan satu pekerjaan kecil.

Tetapi langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan rasa bahwa kita masih memiliki kemampuan untuk bergerak.

Dan rasa mampu bergerak itu sangat penting ketika hidup terasa tidak terkendali.

4. Latih Diri untuk Melihat Kegagalan sebagai Informasi

Kegagalan sering dianggap sebagai akhir.

Padahal, dalam banyak situasi, kegagalan juga dapat menjadi informasi.

Jika sebuah strategi tidak berhasil, kita mendapatkan informasi bahwa strategi tersebut perlu diperbaiki.

Jika sebuah keputusan menghasilkan konsekuensi yang buruk, kita memperoleh pelajaran mengenai keputusan tersebut.

Jika suatu kebiasaan membuat hidup semakin kacau, kita memiliki kesempatan untuk mengenali pola tersebut.

Tentu saja, tidak semua kegagalan langsung menghasilkan pelajaran yang indah.

Ada kegagalan yang memang menyakitkan.

Ada keputusan yang memiliki konsekuensi serius.

Ada kehilangan yang tidak bisa sekadar disebut sebagai “pengalaman berharga”.

Karena itu, kita tidak perlu memaksa diri mengatakan:

“Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.”

Kalimat tersebut kadang terasa terlalu sederhana ketika seseorang sedang berada dalam masa yang sangat sulit.

Lebih realistis jika kita mengatakan:

“Saya belum tentu bisa melihat maknanya sekarang, tetapi saya dapat mencoba memahami apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini.”

Perbedaan kalimat tersebut cukup penting.

Kita tidak memaksa diri untuk langsung menemukan makna.

Kita hanya membuka kemungkinan bahwa pengalaman tersebut dapat memberikan informasi untuk langkah berikutnya.

Misalnya, seseorang gagal dalam wawancara kerja.

Daripada berhenti pada:

“Saya memang tidak cocok bekerja di bidang ini.”

ia bisa mengevaluasi:

Apakah saya kurang mempersiapkan diri?

Apakah saya kesulitan menjelaskan pengalaman?

Apakah saya perlu meningkatkan keterampilan tertentu?

Apakah posisi tersebut memang sesuai dengan kemampuan saya?

Apa yang akan saya lakukan secara berbeda pada wawancara berikutnya?

Dengan cara tersebut, kegagalan tidak lagi menjadi vonis terhadap diri sendiri.

Ia menjadi data.

Dan data dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Inilah salah satu karakter penting dari orang yang tangguh: mereka tidak selalu berhasil, tetapi mereka berusaha membuat kegagalan menjadi informasi untuk percobaan berikutnya.

5. Jangan Berjuang Sendirian

Ada anggapan bahwa orang kuat adalah orang yang mampu menyelesaikan semuanya sendiri.

Padahal, manusia adalah makhluk sosial.

Dukungan dari orang lain dapat menjadi salah satu sumber daya penting ketika menghadapi tekanan hidup.

Masalahnya, ketika sedang mengalami kesulitan, seseorang justru bisa menarik diri.

Ia merasa malu.

Takut merepotkan orang lain.

Takut dianggap lemah.

Atau merasa bahwa tidak ada seorang pun yang akan memahami dirinya.

Akibatnya, masalah yang sebenarnya sudah berat menjadi semakin berat karena harus ditanggung sendirian.

Meminta bantuan bukan tanda kegagalan.

Justru kemampuan untuk mengenali kapan kita membutuhkan bantuan merupakan bagian dari ketangguhan.

Bantuan juga tidak selalu berarti meminta seseorang menyelesaikan masalah kita.

Kadang kita hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Kadang kita membutuhkan teman untuk menemani.

Kadang kita membutuhkan nasihat.

Pada masalah tertentu, kita mungkin membutuhkan bantuan profesional.

Yang penting adalah menyadari bahwa ketangguhan tidak selalu berarti berdiri sendirian.

Pohon yang kuat pun tidak tumbuh tanpa tanah, air, cahaya, dan lingkungan yang mendukung.

Begitu juga manusia.

Kita membutuhkan hubungan yang sehat, lingkungan yang aman, waktu untuk beristirahat, dan kesempatan untuk berbicara mengenai apa yang kita alami.

Karena itu, ketika hidup terasa terlalu berat, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana saya bisa menjadi lebih kuat?”

Tambahkan pertanyaan:

“Siapa yang bisa saya ajak berjalan bersama melewati masa ini?”

Pertanyaan tersebut dapat membuka pintu yang sebelumnya tertutup.

Ketangguhan Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Tujuan membangun ketangguhan bukanlah membuat seseorang kebal terhadap masalah.

Tidak ada manusia yang kebal terhadap kehilangan, kegagalan, kesedihan, atau ketidakpastian.

Orang yang tangguh pun bisa mengalami hari buruk.

Mereka bisa kehilangan motivasi.

Mereka bisa menangis.

Mereka bisa merasa takut.

Mereka bahkan bisa mengatakan, “Saya tidak tahu harus melakukan apa.”

Perbedaannya adalah mereka tidak menjadikan satu momen buruk sebagai kesimpulan permanen mengenai seluruh hidup mereka.

Mereka memberi kesempatan kepada dirinya untuk mencoba lagi.

Mereka menerima bahwa proses pemulihan tidak selalu cepat.

Mereka mencari bantuan ketika diperlukan.

Dan mereka belajar membedakan antara sesuatu yang benar-benar tidak bisa dikendalikan dengan sesuatu yang masih dapat diperjuangkan.

Jadi, jika saat ini Anda sedang menghadapi hambatan hidup, jangan menuntut diri untuk langsung menjadi kuat.

Mulailah lebih sederhana.

Terima apa yang sedang Anda rasakan.

Kemudian tanyakan:

Apa yang masih bisa saya kendalikan?

Setelah itu:

Apa satu langkah kecil yang bisa saya lakukan hari ini?

Dan jika langkah tersebut terasa terlalu berat, jangan malu untuk mengatakan:

“Saya membutuhkan bantuan.”

Itulah ketangguhan yang lebih realistis.

Bukan kemampuan untuk melewati hidup tanpa terluka, tetapi kemampuan untuk tetap mencari jalan meskipun pernah terluka.

Bukan tidak pernah jatuh, tetapi perlahan belajar bagaimana bangkit.

Bukan selalu mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi bersedia mengambil satu langkah ketika masa depan belum terlihat jelas.

Pada akhirnya, hambatan hidup mungkin tidak selalu bisa kita lompati.

Sebagian harus kita lewati perlahan.

Sebagian harus kita hadapi dengan sabar.

Dan sebagian mungkin mengharuskan kita berhenti sejenak untuk memulihkan diri.

Namun, selama kita masih mampu belajar, beradaptasi, meminta bantuan, dan mengambil satu langkah kecil ke depan, sebuah masalah tidak harus menjadi akhir dari perjalanan.

Kita mungkin tidak bisa memilih semua hal yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana kita meresponsnya.

Dan dari ruang kecil itulah ketangguhan sering kali tumbuh.

EDITOR: Hanny Suwindari