JawaPos.com - Ada sesuatu yang menarik sekaligus membingungkan tentang hubungan manusia: semakin lama kita mengenal seseorang, semakin kita merasa mengenalnya. Tetapi pada saat yang sama, semakin lama pula kita menyadari bahwa ternyata masih ada bagian dari dirinya yang belum kita pahami.
Kita bisa hidup bertahun-tahun bersama seseorang, mengetahui makanan favoritnya, kebiasaannya ketika sedang marah, cara dia tertawa, hal-hal yang membuatnya cemas, bahkan mungkin mengetahui cerita masa kecilnya. Namun, pada suatu hari, dia bisa mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak kita duga. Dia bisa berubah pikiran. Bisa mengambil keputusan yang tidak pernah kita bayangkan. Bisa menunjukkan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi.
Lalu kita bertanya dalam hati:
"Bukankah aku sudah mengenalnya selama ini?"
Menurut psikologi, perasaan seperti itu sebenarnya sangat manusiawi. Mengenal seseorang bukanlah proses mengumpulkan semua informasi tentang dirinya sampai akhirnya kita memiliki "peta lengkap" tentang siapa dia. Manusia bukan benda statis yang sifatnya bisa dipelajari sekali lalu dipahami selamanya.
Kita terus berubah. Cara kita melihat diri sendiri berubah. Pengalaman hidup mengubah prioritas. Situasi tertentu memunculkan sisi kepribadian yang berbeda. Bahkan orang yang sama dapat bertindak sangat berbeda ketika berada dalam kondisi aman dibandingkan ketika sedang takut, tertekan, kehilangan, atau jatuh cinta.
Itulah sebabnya hubungan yang mendalam bukanlah tentang mencapai titik di mana kita akhirnya mengetahui segala sesuatu tentang seseorang.
Justru, mungkin kedekatan yang paling sehat adalah ketika kita menyadari bahwa masih akan selalu ada sesuatu yang perlu kita tanyakan, dengarkan, dan pahami.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (14/10), terdapat enam alasan mengapa kita tidak pernah benar-benar selesai mengenal orang-orang yang kita cintai.
1. Manusia Terus Berubah, Bahkan Ketika Kita Merasa Dia Masih Sama
Salah satu alasan paling sederhana adalah karena manusia tidak berhenti berkembang.
Orang yang kita kenal lima tahun lalu tidak sepenuhnya sama dengan orang yang berdiri di hadapan kita hari ini.
Pengalaman hidup dapat mengubah cara seseorang berpikir. Kegagalan bisa membuat seseorang lebih hati-hati. Kehilangan dapat membuatnya lebih sensitif. Kesuksesan dapat mengubah cara dia memandang dirinya sendiri. Menjadi orang tua, kehilangan pekerjaan, pindah kota, jatuh cinta, mengalami perpisahan, atau menghadapi krisis hidup dapat membuat seseorang menemukan bagian dirinya yang sebelumnya bahkan tidak dia kenal.
Dalam psikologi kepribadian, sifat manusia memang memiliki unsur yang relatif stabil. Tetapi stabil bukan berarti tidak berubah sama sekali.
Seseorang yang selama ini kita kenal sebagai pribadi yang sangat percaya diri, misalnya, bisa mengalami periode keraguan yang panjang setelah menghadapi kegagalan besar. Orang yang selama ini tampak sangat mandiri bisa tiba-tiba membutuhkan dukungan ketika menghadapi situasi tertentu.
Bukan berarti selama ini dia berpura-pura.
Dia hanya sedang menjadi manusia dalam kondisi yang berbeda.
Masalahnya, kita sering mengenali seseorang berdasarkan "versi" yang paling sering kita lihat.
Kita kemudian membuat kesimpulan:
"Dia memang orangnya seperti itu."
Padahal, kalimat tersebut sering kali merupakan penyederhanaan.
Dia bukan hanya orang yang pendiam.
Dia bisa pendiam ketika berada di lingkungan asing, tetapi sangat cerewet dengan orang yang dipercaya.
Dia bukan hanya orang yang keras.
Mungkin dia keras ketika merasa terancam, tetapi sangat lembut ketika merasa aman.
Dia bukan hanya orang yang tidak romantis.
Mungkin cara dia menunjukkan kasih sayang memang tidak melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan.
Dengan kata lain, seseorang memiliki banyak sisi yang muncul dalam konteks berbeda.
Dan semakin panjang perjalanan hidup seseorang, semakin banyak kemungkinan sisi tersebut muncul.
Itulah mengapa mengenal seseorang sebenarnya bukan seperti membaca buku yang memiliki halaman terakhir.
Lebih mirip seperti mengikuti sebuah cerita yang terus ditulis.
Kita mungkin mengetahui bab-bab sebelumnya, tetapi tidak pernah benar-benar bisa memastikan isi bab berikutnya.
2. Kita Sering Mengenal Orang Melalui "Versi" yang Mereka Tunjukkan kepada Kita
Alasan kedua jauh lebih dalam.
Kita tidak pernah benar-benar bertemu dengan seluruh diri seseorang.
Kita bertemu dengan bagian dirinya yang dia izinkan muncul dalam hubungan dengan kita.
Setiap manusia memiliki batas pribadi, rahasia, rasa takut, pengalaman yang belum selesai, dan pikiran-pikiran yang tidak selalu mereka bagikan kepada orang lain.
Bahkan orang yang sangat dekat dengan kita pun tetap memiliki dunia batin yang tidak sepenuhnya bisa kita akses.
Bayangkan seseorang yang terlihat sangat tenang.
Kita mungkin berpikir:
"Dia tidak pernah terlalu memikirkan sesuatu."
Padahal mungkin setiap malam dia memikirkan banyak hal, hanya saja dia tidak terbiasa mengungkapkannya.
Atau seseorang yang terlihat kuat.
Kita mungkin menganggap dia tidak membutuhkan bantuan.
Padahal bisa jadi dia hanya sudah terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri.
Dalam psikologi, konsep tentang self-disclosure menjelaskan bagaimana manusia secara bertahap membuka informasi pribadi kepada orang lain. Kedekatan biasanya membuat seseorang lebih bersedia membagikan pengalaman, perasaan, keyakinan, dan bagian dirinya yang lebih pribadi.
Tetapi keterbukaan tidak selalu terjadi sekaligus.
Ada orang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menceritakan pengalaman tertentu.
Ada pula yang bahkan tidak mampu menjelaskan dirinya sendiri dengan jelas.
Ini penting.
Karena terkadang kita mengira seseorang menyembunyikan sesuatu dari kita, padahal sebenarnya dia sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi di dalam dirinya.
Manusia bisa memiliki perasaan yang sulit diberi nama.
Bisa mencintai sekaligus merasa takut.
Bisa ingin dekat sekaligus ingin menjaga jarak.
Bisa bahagia tetapi juga sedih pada saat yang sama.
Bisa mengatakan "aku baik-baik saja" karena memang tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa sebenarnya dia sedang tidak baik-baik saja.
Jadi ketika seseorang akhirnya menunjukkan sisi dirinya yang selama ini belum pernah kita lihat, itu tidak selalu berarti dia berubah.
Bisa jadi kita hanya baru mendapatkan akses ke bagian dirinya yang sebelumnya belum pernah muncul dalam hubungan kita.
Dan di sinilah hubungan menjadi menarik.
Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin banyak pintu yang mungkin terbuka.
Tetapi selalu ada pintu yang tetap tertutup.
Bukan karena kurang cinta.
Melainkan karena setiap manusia tetap memiliki ruang batin yang menjadi miliknya sendiri.
3. Kita Sering Tidak Melihat Orang Apa Adanya, Melainkan Melalui Persepsi Kita
Ini mungkin salah satu alasan terbesar mengapa kita merasa "salah mengenal" seseorang.
Ketika kita mengenal seseorang, kita tidak hanya mengamati dirinya.
Kita juga menciptakan interpretasi tentang dirinya.
Otak manusia sangat suka membuat pola.
Kita melihat beberapa perilaku, lalu menghubungkannya menjadi sebuah cerita.
Misalnya, seseorang jarang membalas pesan.
Kita mungkin menyimpulkan:
"Dia tidak peduli."
Padahal ada banyak kemungkinan lain.
Mungkin dia sedang sibuk.
Mungkin dia kelelahan.
Mungkin dia memang tidak terlalu suka berkomunikasi lewat pesan.
Atau mungkin dia sedang menghadapi masalah pribadi yang tidak kita ketahui.
Tetapi otak kita sering tidak nyaman dengan ketidakpastian.
Karena itu kita mencari penjelasan.
Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menafsirkan perilaku orang lain dan mencari penyebab di baliknya. Salah satu kesalahan yang bisa muncul adalah kecenderungan terlalu cepat menganggap perilaku seseorang berasal dari sifat kepribadiannya, sementara kita kurang mempertimbangkan situasi yang sedang dia hadapi.
Inilah yang membuat kita terkadang berkata:
"Dia memang egois."
Padahal mungkin pada saat itu dia sedang berada dalam situasi yang membuatnya defensif.
Atau:
"Dia memang dingin."
Padahal mungkin dia sedang terluka.
Atau:
"Dia sudah tidak mencintaiku."
Padahal mungkin dia sedang mengalami tekanan yang membuatnya sulit menunjukkan kasih sayang.
Tentu saja, ini bukan berarti semua perilaku buruk harus dimaklumi.
Ada orang yang memang memiliki pola perilaku yang merugikan. Ada hubungan yang memang tidak sehat. Ada tindakan yang tidak boleh dibenarkan hanya karena kita mencoba memahami latar belakangnya.
Tetapi secara psikologis, memahami seseorang membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara:
apa yang benar-benar kita lihat
dan
cerita yang kita buat tentang apa yang kita lihat.
Ini bukan hal mudah.
Terutama ketika kita sangat mencintai seseorang.
Karena semakin besar perasaan kita, semakin besar pula kemungkinan kita membawa harapan, ketakutan, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pribadi ke dalam cara kita menafsirkan dirinya.
Kita bukan hanya melihat dia.
Kita melihat dia melalui mata kita sendiri.
4. Kita Sendiri Juga Berubah, Sehingga Cara Kita Melihat Mereka Ikut Berubah
Kadang-kadang kita berpikir bahwa orang lain berubah.
Padahal sebenarnya kita yang berubah.
Seseorang yang dulu kita anggap sangat menarik mungkin sekarang terasa biasa saja.
Seseorang yang dulu kita anggap menyebalkan mungkin sekarang justru kita pahami.
Seseorang yang dulu kita kagumi mungkin sekarang kita lihat dengan cara yang lebih kritis.
Mengapa?
Karena pengalaman kita bertambah.
Nilai-nilai kita berubah.
Prioritas kita berubah.
Kita menjadi orang yang berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Dan ketika kita berubah, cara kita membaca orang lain juga berubah.
Bayangkan dua orang yang sama-sama melihat seorang ayah yang jarang berbicara tentang perasaannya.
Ketika kita masih muda, kita mungkin menganggapnya dingin.
Tetapi setelah dewasa, setelah mengalami tekanan hidup sendiri, kita mungkin mulai memahami bahwa sebagian orang memang tidak pernah diajarkan bagaimana membicarakan emosi.
Orang yang sama.
Perilakunya mungkin tidak banyak berubah.
Tetapi interpretasi kita berubah.
Hal ini menunjukkan bahwa mengenal seseorang bukan hanya proses memahami dirinya.
Ini juga proses memahami diri kita sendiri.
Karena setiap kali kita mengatakan:
"Aku tahu dia seperti apa,"
sebenarnya ada pertanyaan lain yang perlu kita ajukan:
"Apa yang membuatku melihat dia seperti itu?"
Mungkin kita menganggap seseorang tidak peduli karena kita memiliki pengalaman masa lalu dengan orang-orang yang tidak peduli.
Mungkin kita menganggap seseorang akan meninggalkan kita karena kita memiliki ketakutan terhadap penolakan.
Mungkin kita menganggap seseorang tidak mencintai kita karena kita memiliki definisi tertentu tentang bagaimana cinta seharusnya ditunjukkan.
Artinya, hubungan bukan hanya pertemuan antara dua orang.
Hubungan adalah pertemuan antara dua dunia psikologis.
Dua sejarah hidup.
Dua cara berpikir.
Dua kumpulan pengalaman.
Dua sistem kepercayaan.
Dan semuanya ikut memengaruhi bagaimana kita melihat satu sama lain.
5. Situasi yang Berbeda Bisa Mengeluarkan Sisi Kepribadian yang Berbeda
Ada alasan lain mengapa seseorang terkadang tampak seperti "orang yang berbeda" dalam situasi tertentu.
Kita tidak berperilaku sama di semua keadaan.
Seseorang bisa sangat ramah bersama teman-temannya, tetapi sangat pendiam ketika berada di lingkungan baru.
Seseorang bisa sangat sabar kepada anak kecil, tetapi mudah frustrasi ketika sedang bekerja.
Seseorang bisa terlihat sangat percaya diri di depan orang lain, tetapi merasa tidak aman dalam hubungan romantis.
Ini menunjukkan bahwa perilaku manusia merupakan hasil interaksi antara karakter pribadi dan situasi yang sedang dihadapi.
Karena itu, kita sebenarnya membutuhkan banyak konteks untuk benar-benar memahami seseorang.
Kita perlu melihat bagaimana dia bertindak ketika sedang bahagia.
Bagaimana ketika kecewa.
Bagaimana ketika gagal.
Bagaimana ketika mendapatkan kekuasaan.
Bagaimana ketika kehilangan sesuatu.
Bagaimana ketika tidak ada orang yang melihat.
Bagaimana ketika dia merasa dicintai.
Dan bagaimana ketika dia merasa terancam.
Menariknya, terkadang kita baru benar-benar mengenal seseorang ketika keadaan tidak ideal.
Saat semuanya berjalan lancar, hampir semua orang bisa terlihat baik.
Tetapi tekanan dapat memperlihatkan pola yang sebelumnya tersembunyi.
Konflik dapat menunjukkan cara seseorang menghadapi perbedaan.
Kegagalan dapat menunjukkan cara seseorang menghadapi rasa malu.
Kehilangan dapat menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi ketidakberdayaan.
Kesuksesan dapat menunjukkan bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan.
Karena itu, bertahun-tahun mengenal seseorang tidak otomatis berarti kita memahami dirinya secara mendalam.
Yang lebih penting adalah berapa banyak pengalaman yang telah kita lalui bersamanya dan berapa banyak sisi dirinya yang telah kita lihat.
Seseorang mungkin kita kenal selama sepuluh tahun, tetapi kita belum pernah melihatnya menghadapi kehilangan besar.
Maka ada bagian dari dirinya yang belum kita kenal.
Dan mungkin kita tidak akan mengenalnya sampai kehidupan mempertemukan kita dengan situasi tersebut.
6. Cinta Tidak Menghapus Misteri, Justru Membuat Kita Menyadari Betapa Dalamnya Seseorang
Ini mungkin alasan yang paling indah.
Kita sering menganggap bahwa cinta yang dalam berarti mengetahui seseorang secara menyeluruh.
Padahal bisa jadi justru sebaliknya.
Semakin kita mencintai seseorang, semakin kita menyadari bahwa dia jauh lebih kompleks daripada gambaran sederhana yang dulu kita miliki tentangnya.
Pada awal hubungan, kita sering mengenal seseorang melalui kesan-kesan besar.
Dia baik.
Dia lucu.
Dia perhatian.
Dia menarik.
Dia membuat kita nyaman.
Tetapi seiring waktu, kita mulai melihat kontradiksi.
Dia baik, tetapi terkadang egois.
Dia kuat, tetapi terkadang takut.
Dia mandiri, tetapi terkadang membutuhkan kita.
Dia penyayang, tetapi bisa marah.
Dia percaya diri, tetapi memiliki rasa tidak aman tertentu.
Dan justru di situlah manusia menjadi manusia.
Kita bukan kumpulan sifat yang selalu konsisten.
Kita adalah kumpulan pengalaman, kebutuhan, emosi, ingatan, kebiasaan, nilai, ketakutan, harapan, dan pilihan yang terus berinteraksi.
Karena itu, mencintai seseorang bukan berarti akhirnya berhasil memecahkan teka-teki tentang siapa dia.
Cinta yang matang mungkin justru berarti menerima bahwa seseorang tidak pernah bisa sepenuhnya kita miliki atau pahami.
Ada bagian dirinya yang hanya bisa dia pahami sendiri.
Ada pengalaman yang tidak pernah kita alami.
Ada pikiran yang tidak pernah dia ucapkan.
Ada mimpi yang mungkin belum dia ceritakan.
Ada ketakutan yang bahkan baru dia sadari ketika hidup memaksanya berhadapan dengannya.
Dan itu bukan kegagalan dalam hubungan.
Itulah bagian dari menjadi manusia.
Lalu, Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?
Jika kita memang tidak pernah bisa selesai mengenal seseorang, apakah itu berarti kita harus selalu merasa tidak yakin terhadap orang yang kita cintai?
Tidak.
Ketidakpastian tidak selalu berarti ketidakamanan.
Justru ada perbedaan besar antara "aku tidak tahu segalanya tentangmu" dan "aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu."
Hubungan yang sehat tidak membutuhkan pengetahuan total.
Yang dibutuhkan adalah rasa aman untuk terus belajar satu sama lain.
Daripada berkata:
"Aku sudah tahu kamu seperti apa."
mungkin lebih sehat untuk mengatakan:
"Aku ingin terus memahami kamu."
Daripada langsung menyimpulkan:
"Kamu memang seperti ini."
kita bisa bertanya:
"Apa yang sedang terjadi sampai kamu merasa seperti ini?"
Daripada menganggap kita sudah mengetahui seluruh cerita seseorang, kita bisa menyisakan ruang untuk kemungkinan bahwa ada bagian yang belum kita pahami.
Sebab salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana sebenarnya adalah rasa ingin tahu.
Bukan rasa ingin tahu yang mengontrol.
Bukan keinginan untuk mengetahui semua rahasia seseorang.
Melainkan rasa ingin tahu yang berkata:
"Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu hari ini."
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Apakah ada sesuatu yang berubah dalam dirimu?"
"Apa yang belum pernah kamu ceritakan kepadaku?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat hubungan tetap hidup.
Karena hubungan bisa menjadi rapuh ketika kita berhenti mengenal dan mulai merasa sudah tahu semuanya.
Ketika kita berkata:
"Aku tahu dia."
mungkin saat itulah kita berhenti benar-benar mendengarkan.
Pada Akhirnya, Orang yang Kita Cintai Bukanlah Buku yang Harus Kita Tamatkan
Mungkin selama ini kita salah memahami makna "mengenal seseorang".
Kita membayangkan bahwa suatu hari nanti, setelah cukup lama bersama, kita akan sampai pada titik di mana tidak ada lagi kejutan.
Kita akan mengetahui semua kebiasaannya.
Semua pikirannya.
Semua ketakutannya.
Semua impiannya.
Semua reaksinya.
Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu.
Seseorang dapat menemukan sisi baru dirinya bahkan setelah puluhan tahun hidup.
Dan ketika itu terjadi, orang-orang terdekatnya pun berkesempatan mengenal sisi tersebut.
Mungkin itulah mengapa hubungan yang panjang tidak harus terasa seperti membaca buku yang sudah kita hafal.
Hubungan yang sehat lebih mirip membaca cerita yang terus berkembang.
Kita mengetahui halaman-halaman sebelumnya.
Kita memahami beberapa pola.
Kita mengenali tokoh utamanya.
Tetapi kita tetap membuka halaman berikutnya dengan rasa ingin tahu.
Karena orang yang kita cintai bukanlah sesuatu yang harus kita selesaikan.
Dia adalah seseorang yang terus kita temui dalam bentuk-bentuk baru.
Dan mungkin, salah satu bentuk cinta yang paling dewasa adalah menyadari bahwa:
kita tidak harus mengetahui seseorang sepenuhnya untuk mencintainya dengan tulus.
Kita hanya perlu bersedia untuk terus mendengarkan, terus bertanya, terus memahami, dan memberi ruang bagi orang tersebut untuk tumbuh menjadi versi dirinya yang berikutnya.
Sebab pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar selesai mengenal orang yang kita cintai.
Bukan karena kita kurang mengenal mereka.
Tetapi karena manusia memang tidak pernah selesai menjadi dirinya sendiri.