Namun, jika dilihat dari sudut pandang psikologi, aktivitas tersebut sebenarnya bisa menjadi jauh lebih bermakna.
Menulis fanfiksi melibatkan imajinasi, emosi, kemampuan berbahasa, pengambilan perspektif, pemecahan masalah, hingga proses memahami diri sendiri. Dengan kata lain, ketika kamu duduk di depan laptop dan mulai menulis, kamu tidak hanya sedang "bermain-main dengan karakter". Kamu juga sedang melatih berbagai kemampuan psikologis dan kognitif.
Tentu saja, menulis fanfiksi bukan terapi psikologis dan tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih sehat secara mental. Manfaatnya juga bisa berbeda pada setiap orang. Namun, sejumlah konsep dalam psikologi dapat membantu menjelaskan mengapa aktivitas kreatif seperti menulis cerita bisa terasa begitu memuaskan dan bermanfaat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (13/10), terdapat tujuh alasannya.
1. Fanfiksi bisa menjadi ruang aman untuk mengekspresikan emosi
Pernahkah kamu menulis sebuah adegan yang sebenarnya sangat emosional, lalu menyadari bahwa perasaan karakter tersebut ternyata mirip dengan apa yang sedang kamu rasakan?
Ini bukan sesuatu yang aneh.
Salah satu kekuatan aktivitas menulis adalah kemampuannya memberikan jarak antara seseorang dan pengalaman emosionalnya. Kamu tidak harus mengatakan, "Aku sedang sedih," secara langsung. Perasaan tersebut bisa kamu salurkan melalui karakter.
Misalnya, kamu sedang mengalami kekecewaan terhadap seseorang. Daripada menuliskan pengalaman tersebut secara autobiografis, kamu bisa menciptakan karakter yang kehilangan kepercayaan kepada sahabatnya. Karakter tersebut kemudian menghadapi konflik, marah, kecewa, dan akhirnya mencoba berdamai dengan keadaan.
Secara tidak langsung, kamu sedang memberikan bentuk pada emosi yang sebelumnya mungkin terasa abstrak.
Dalam psikologi, kemampuan memberi nama dan bentuk pada pengalaman internal dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya. Menulis juga dapat menjadi salah satu bentuk emotional processing, yaitu proses mengolah pengalaman dan emosi melalui refleksi.
Menariknya, fanfiksi memberikan keuntungan tambahan: kamu tidak harus menggunakan dirimu sendiri sebagai tokoh utama.
Kamu bisa "meminjam" karakter lain untuk membicarakan sesuatu yang sulit dibicarakan secara langsung.
Itulah sebabnya terkadang seseorang bisa menulis adegan fiksi yang sangat emosional tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia sedang mengeksplorasi perasaannya sendiri.
Fanfiksi bukan sekadar pelarian
Namun, ada perbedaan antara menggunakan cerita untuk mengolah emosi dan menggunakan cerita untuk terus-menerus menghindari masalah.
Jika setelah menulis kamu merasa lebih mampu memahami apa yang kamu rasakan, aktivitas tersebut bisa menjadi bentuk refleksi yang konstruktif.
Sebaliknya, jika fanfiksi digunakan untuk menghindari seluruh persoalan nyata tanpa pernah menghadapinya, manfaatnya tentu berbeda.
Jadi, kekuatan fanfiksi bukan karena ia bisa "menyembuhkan" semua masalah, tetapi karena ia dapat menyediakan ruang untuk mengenali dan mengekspresikan pengalaman emosional.
2. Menulis fanfiksi melatih empati melalui pengambilan perspektif
Bayangkan kamu menulis cerita dari sudut pandang karakter yang sama sekali berbeda dengan dirimu.
Karakter tersebut mungkin memiliki kepribadian berbeda, latar belakang berbeda, tujuan berbeda, bahkan cara berpikir yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu miliki.
Untuk membuat cerita terasa masuk akal, kamu harus bertanya:
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Apa yang sebenarnya dia takutkan?"
"Kenapa dia marah?"
"Kalau aku berada di posisinya, apa yang mungkin kurasakan?"
Pertanyaan semacam ini berkaitan dengan kemampuan perspective-taking, yaitu kemampuan membayangkan pengalaman atau sudut pandang orang lain.
Perspective-taking merupakan salah satu proses yang berkaitan dengan empati.
Menulis karakter antagonis, misalnya, bisa menjadi latihan yang menarik. Penulis tidak harus membenarkan tindakan tokoh tersebut. Namun, ia perlu memahami bagaimana karakter itu sampai mengambil keputusan tertentu.
Seorang penjahat dalam cerita yang hanya "jahat karena jahat" biasanya terasa datar.
Sebaliknya, karakter yang mempunyai ketakutan, kebutuhan, pengalaman masa lalu, konflik batin, dan alasan tertentu terasa lebih manusiawi.
Ketika kamu berusaha memahami karakter seperti itu, kamu sedang melatih kemampuan untuk melihat bahwa perilaku seseorang sering kali memiliki konteks.
Dari karakter ke kehidupan nyata
Kemampuan ini juga dapat berguna di kehidupan sehari-hari.
Kita sering melihat tindakan orang lain hanya dari hasil akhirnya:
"Dia tidak membalas pesanku."
"Dia bersikap kasar."
"Dia mengambil keputusan yang menurutku bodoh."
Namun, latihan menulis karakter dapat membiasakan kita bertanya:
"Apa yang mungkin terjadi di balik perilaku tersebut?"
Tentu saja, memahami seseorang bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Tetapi kemampuan melihat lebih dari satu perspektif dapat membantu seseorang menjadi lebih fleksibel dalam memahami konflik sosial.
Dengan demikian, fanfiksi bisa menjadi semacam "laboratorium sosial" kecil di dalam imajinasi.
3. Fanfiksi melatih kreativitas sekaligus kemampuan memecahkan masalah
Banyak orang menganggap kreativitas sebagai kemampuan untuk mendapatkan ide yang benar-benar baru.
Padahal, kreativitas tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol.
Sering kali kreativitas justru muncul dari kemampuan menggabungkan sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru.
Dan fanfiksi adalah contoh yang sangat jelas.
Dunia, karakter, atau aturan dasar mungkin sudah tersedia. Tetapi kamu harus menemukan cara untuk membuat cerita baru dari bahan tersebut.
Misalnya:
Bagaimana jika dua karakter yang tidak pernah bertemu dalam cerita asli menjadi sahabat?
Bagaimana jika seorang karakter mengambil keputusan berbeda?
Bagaimana jika konflik utama terjadi sepuluh tahun lebih awal?
Bagaimana jika dunia fantasi tersebut berada di zaman modern?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memaksa otak untuk menghasilkan kemungkinan.
Namun, menulis cerita bukan hanya menghasilkan ide.
Kamu juga harus memecahkan masalah.
Jika karakter melakukan A pada bab pertama, konsekuensinya harus masuk akal pada bab kelima.
Jika kamu menciptakan sebuah konflik, kamu harus menemukan bagaimana konflik tersebut berkembang.
Jika karakter mempunyai tujuan tertentu, kamu harus menentukan apa yang menghalanginya.
Dengan demikian, menulis cerita sebenarnya melibatkan proses berpikir yang cukup kompleks.
Kamu belajar berpikir dalam hubungan sebab-akibat
Cerita yang menarik membutuhkan konsekuensi.
Karakter mengambil keputusan → sesuatu terjadi → keputusan berikutnya muncul → konflik berkembang → karakter berubah.
Tanpa sadar, penulis belajar memikirkan hubungan antara tindakan dan konsekuensi.
Kemampuan tersebut tidak hanya relevan untuk menulis.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga terus membuat keputusan berdasarkan kemungkinan akibatnya.
Jadi, ketika kamu mencoba mencari cara agar plot fanfiksi tidak berantakan, sebenarnya kamu sedang melakukan latihan pemecahan masalah dalam bentuk yang menyenangkan.
4. Menulis cerita dapat membantu membangun rasa kompetensi dan percaya diri
Ada kepuasan tertentu ketika akhirnya kamu berhasil menyelesaikan sebuah cerita.
Mungkin awalnya kamu hanya mempunyai satu ide sederhana:
"Bagaimana kalau mereka ternyata bertemu lagi setelah bertahun-tahun?"
Kemudian ide itu berubah menjadi satu paragraf.
Paragraf menjadi satu halaman.
Satu halaman menjadi satu bab.
Dan tiba-tiba kamu memiliki sebuah cerita lengkap.
Pengalaman seperti ini berkaitan dengan perasaan bahwa kita mampu melakukan sesuatu—sering disebut sebagai sense of competence.
Dalam psikologi motivasi, pengalaman merasa mampu mengerjakan sesuatu dapat menjadi sumber motivasi yang penting.
Menulis juga memungkinkan adanya kemajuan yang terlihat.
Bab pertama mungkin terasa buruk.
Dialogmu mungkin masih kaku.
Deskripsinya mungkin belum bagus.
Tetapi setelah berlatih selama beberapa bulan, kamu bisa membaca tulisan lama dan menyadari:
"Wow, ternyata sekarang aku jauh lebih bagus."
Kemajuan seperti ini penting.
Tidak harus langsung menjadi penulis hebat
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah menganggap tulisan pertama harus sempurna.
Padahal, keterampilan menulis berkembang melalui latihan.
Fanfiksi bisa menjadi tempat latihan yang relatif nyaman karena kamu tidak perlu memulai dari dunia yang sepenuhnya kosong. Karakter dan latar dasarnya sudah tersedia.
Dengan begitu, kamu bisa memusatkan perhatian pada hal-hal seperti:
membangun konflik,
membuat dialog,
menggambarkan emosi,
mengatur ritme cerita,
menciptakan karakter,
dan menyusun alur.
Setiap cerita yang selesai menjadi bukti bahwa kamu mampu menciptakan sesuatu.
Dan terkadang, bukti kecil seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengatakan kepada diri sendiri bahwa "aku harus percaya diri."
5. Fanfiksi dapat menjadi sarana mengenali diri sendiri
Ini mungkin salah satu manfaat yang paling menarik.
Coba perhatikan karakter seperti apa yang sering kamu sukai.
Apakah kamu selalu tertarik pada karakter yang pendiam?
Apakah kamu menyukai karakter yang berani?
Apakah kamu sering membuat karakter yang kesepian tetapi sebenarnya ingin dimengerti?
Atau mungkin kamu berkali-kali menulis cerita tentang persahabatan, kehilangan, keluarga, pengkhianatan, kebebasan, atau kesempatan kedua?
Pilihan cerita kita kadang-kadang mencerminkan tema yang kita anggap menarik secara emosional.
Bukan berarti setiap karakter favorit adalah cerminan langsung kepribadian kita. Jangan sampai kita menganggap bahwa "aku suka karakter X berarti aku pasti memiliki masalah X."
Psikologi manusia jauh lebih kompleks dari itu.
Namun, aktivitas kreatif dapat memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi.
Kamu bisa bertanya kepada diri sendiri:
"Kenapa aku suka cerita seperti ini?"
"Kenapa aku selalu membuat karakter mengalami konflik yang sama?"
"Kenapa akhir cerita seperti ini terasa memuaskan bagiku?"
Pertanyaan tersebut dapat membuka percakapan dengan diri sendiri.
Cerita sebagai cermin, bukan diagnosis
Ini penting.
Fanfiksi tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis kondisi psikologis seseorang.
Kalau kamu sering menulis cerita sedih, bukan berarti kamu mengalami depresi.
Kalau kamu suka menulis karakter antagonis, bukan berarti kamu memiliki kepribadian tertentu.
Namun, tulisan bisa menjadi bahan refleksi pribadi.
Ia seperti cermin yang memperlihatkan pola-pola tertentu yang mungkin sebelumnya tidak kamu sadari.
6. Menulis bisa memberikan rasa memiliki dan koneksi sosial
Fanfiksi memiliki satu keunikan yang tidak selalu ditemukan dalam bentuk tulisan lain: ia biasanya memiliki komunitas.
Seseorang bisa menulis cerita tentang karakter favoritnya, mengunggahnya, lalu menemukan orang lain yang menyukai karakter yang sama.
Kemudian muncul komentar.
Ada yang mengatakan mereka menyukai adegan tertentu.
Ada yang memberikan teori.
Ada yang menunggu bab berikutnya.
Ada pula yang akhirnya menjadi teman.
Dari sudut pandang psikologi sosial, manusia mempunyai kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain.
Komunitas fanfiksi dapat menyediakan ruang bagi orang-orang dengan minat yang sama untuk berinteraksi.
Dan menariknya, interaksi tersebut tidak selalu dimulai dari percakapan pribadi.
Kadang-kadang semuanya dimulai dari sebuah cerita.
"Aku juga suka pasangan karakter ini."
"Aku suka cara kamu menggambarkan karakter tersebut."
"Aku punya teori yang sama!"
Kesamaan minat menciptakan titik awal yang sangat kuat untuk hubungan sosial.
Dari pembaca menjadi bagian dari komunitas
Ketika kamu menulis fanfiksi, kamu bukan hanya konsumen sebuah cerita.
Kamu menjadi bagian dari ekosistem kreatif.
Kamu membaca karya orang lain.
Kamu memberikan komentar.
Kamu menerima kritik.
Kamu berdiskusi.
Kamu mungkin berkolaborasi.
Semua aktivitas tersebut dapat memberikan pengalaman sosial yang bermakna.
Tentu saja, komunitas daring juga memiliki sisi negatif seperti kritik berlebihan, konflik, atau tekanan untuk mendapatkan perhatian. Karena itu, pengalaman sosial yang sehat tetap membutuhkan batasan dan kemampuan memilih lingkungan yang positif.
Namun, dalam kondisi yang sehat, komunitas fanfiksi dapat menjadi tempat seseorang merasa, "Ada orang lain yang memahami kenapa aku menyukai hal ini."
Dan rasa dipahami bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga.
7. Menulis fanfiksi dapat memberikan ruang untuk bermain dan bersenang-senang
Alasan terakhir mungkin terdengar paling sederhana.
Tetapi justru sering dilupakan.
Kita tidak selalu harus melakukan sesuatu karena aktivitas tersebut menghasilkan uang, nilai, prestasi, atau sertifikat.
Manusia juga membutuhkan aktivitas yang dilakukan karena aktivitas itu sendiri menyenangkan.
Dalam psikologi, aktivitas yang dilakukan karena memang menarik atau memuaskan secara internal berkaitan dengan konsep intrinsic motivation.
Dan fanfiksi bisa menjadi bentuk permainan kreatif bagi orang dewasa maupun remaja.
Kamu bisa membuat karakter favoritmu masuk ke situasi absurd.
Kamu bisa mengubah genre serius menjadi komedi.
Kamu bisa menciptakan alternate universe yang sama sekali berbeda.
Kamu bisa bereksperimen dengan gaya bahasa.
Tidak semuanya harus sempurna.
Tidak semuanya harus diterbitkan.
Tidak semuanya harus mendapat ribuan pembaca.
Kadang-kadang, menulis hanya karena kamu ingin melihat apa yang terjadi pada karakter tersebut sudah cukup.
Bermain bukan berarti tidak produktif
Kita sering memiliki definisi produktivitas yang sangat sempit.
Belajar dianggap produktif.
Bekerja dianggap produktif.
Menghasilkan uang dianggap produktif.
Tetapi aktivitas kreatif yang membuat kita merasa senang sering dianggap sebagai "buang-buang waktu".
Padahal, waktu untuk bermain dan bereksperimen juga memiliki fungsi psikologis.
Aktivitas kreatif dapat memberikan kesempatan untuk beristirahat dari tuntutan sehari-hari, mengeksplorasi ide, dan menikmati proses tanpa harus selalu mengejar hasil.
Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa menghabiskan berjam-jam menulis fanfiksi tanpa merasa sedang "bekerja".
Karena bagi mereka, menulis adalah bentuk permainan.
Jadi, apakah menulis fanfiksi benar-benar bermanfaat?
Jawabannya: bisa, terutama jika dilakukan secara sehat dan seimbang.
Fanfiksi bukan obat untuk masalah psikologis dan tidak bisa menggantikan bantuan profesional ketika seseorang membutuhkan psikoterapi atau perawatan kesehatan mental.
Namun, sebagai aktivitas kreatif, fanfiksi memiliki banyak karakteristik yang secara psikologis menarik.
Ia dapat memberikan ruang untuk:
mengekspresikan dan mengolah emosi,
melatih pengambilan perspektif dan empati,
mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah,
membangun rasa kompetensi melalui latihan dan pencapaian,
melakukan refleksi dan mengenali pola diri,
terhubung dengan komunitas melalui minat yang sama,
dan menikmati aktivitas kreatif tanpa selalu mengejar hasil.
Jadi, kalau kamu selama ini menulis fanfiksi dan pernah berpikir, "Ini sebenarnya cuma hobi," mungkin definisi itu tidak sepenuhnya salah.
Tetapi juga tidak sepenuhnya lengkap.
Di balik sebuah cerita tentang dua karakter favoritmu yang akhirnya bertemu, ada proses berpikir, berimajinasi, merasakan, memilih, menyusun, dan menciptakan.
Kamu mungkin sedang belajar bagaimana memahami karakter.
Kamu mungkin sedang belajar bagaimana memahami konflik.
Kamu mungkin sedang belajar bagaimana membuat sebuah dunia terasa hidup.
Dan tanpa sadar, kamu juga mungkin sedang belajar sesuatu tentang dirimu sendiri.
Pada akhirnya, nilai sebuah fanfiksi tidak selalu ditentukan oleh jumlah pembaca, jumlah komentar, atau seberapa populer fandom-nya.
Kadang-kadang, nilai sebuah cerita terletak pada fakta sederhana bahwa kamu berhasil mengubah sesuatu yang hanya ada di kepalamu menjadi sesuatu yang bisa dibaca dan dirasakan orang lain.