JawaPos.com - |Kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT telah mengubah cara pelajar dan mahasiswa mencari informasi, mengerjakan tugas, memahami materi, hingga menulis berbagai jenis karya akademik. Dengan hanya memberikan beberapa kalimat perintah, seseorang dapat memperoleh penjelasan, rangkuman, ide tulisan, bahkan jawaban atas berbagai pertanyaan dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, dari perspektif psikologi pendidikan dan psikologi kognitif, penggunaan AI yang terlalu sering atau tanpa kontrol juga dapat menimbulkan persoalan. Masalah utamanya bukan semata-mata pada teknologi, melainkan pada pola ketergantungan manusia terhadap teknologi tersebut.
Belajar pada dasarnya bukan sekadar memperoleh jawaban yang benar. Belajar merupakan proses mental yang melibatkan perhatian, ingatan, penalaran, pemecahan masalah, kreativitas, pengambilan keputusan, serta kemampuan menghadapi kesulitan.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (1/10), jika sebagian besar proses tersebut terus-menerus dialihkan kepada mesin, perkembangan kemampuan kognitif dan psikologis seseorang dapat ikut berubah.
Karena itu, terdapat setidaknya tujuh alasan psikologis mengapa pelajar dan mahasiswa sebaiknya menghindari penggunaan ChatGPT secara berlebihan, terutama ketika teknologi tersebut menggantikan proses belajar yang seharusnya dilakukan sendiri.
1. ChatGPT Dapat Membuat Otak Terlalu Bergantung pada Bantuan Eksternal
Salah satu konsep penting dalam psikologi kognitif adalah cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian beban proses berpikir ke lingkungan atau alat bantu eksternal.
Contoh sederhananya adalah penggunaan kalkulator. Kalkulator sangat membantu manusia melakukan perhitungan dengan cepat. Namun, jika seseorang selalu menggunakan kalkulator bahkan untuk operasi matematika yang sangat sederhana, kemampuan untuk melakukan perhitungan mental tidak akan banyak terlatih.
Hal serupa dapat terjadi ketika ChatGPT digunakan untuk hampir semua aktivitas akademik.
Seorang mahasiswa mungkin awalnya menggunakan ChatGPT untuk mencari ide. Lama-kelamaan ia menggunakannya untuk membuat kerangka tulisan. Setelah itu, ia meminta AI membuat paragraf. Berikutnya, ia meminta AI menyelesaikan seluruh tugas. Akhirnya, proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa justru sebagian besar dilakukan oleh sistem AI.
Secara psikologis, persoalannya adalah berkurangnya kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir secara mandiri.
Belajar membutuhkan usaha mental. Ketika seseorang menghadapi soal yang sulit, membaca teks yang kompleks, atau mencoba menyusun argumentasi, otaknya dipaksa untuk membangun hubungan antarinformasi. Proses tersebut mungkin terasa lambat dan melelahkan, tetapi justru di situlah pembelajaran terjadi.
Jika setiap kali mengalami kesulitan seseorang langsung meminta AI memberikan jawaban, maka ia kehilangan sebagian kesempatan untuk mengalami proses tersebut.
Dengan demikian, masalahnya bukan bahwa menggunakan alat bantu selalu salah. Masalah muncul ketika alat bantu berubah dari pendukung proses berpikir menjadi pengganti proses berpikir.
2. Ketergantungan pada Jawaban Instan Dapat Mengurangi Kesabaran terhadap Proses Belajar
Belajar tidak selalu menyenangkan.
Ada materi yang sulit dipahami. Ada buku yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibaca. Ada soal yang harus dicoba berkali-kali sebelum menemukan jawabannya. Ada tulisan yang harus direvisi berulang kali.
Psikologi belajar menunjukkan bahwa usaha dan keterlibatan aktif merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.
ChatGPT menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda. Jawaban dapat muncul dalam beberapa detik.
Kondisi tersebut berpotensi membentuk ekspektasi baru: semua masalah seharusnya memiliki jawaban cepat.
Misalnya, seorang mahasiswa mendapatkan tugas membuat esai. Alih-alih membaca beberapa jurnal, mencatat gagasan utama, menyusun argumen, dan menulis draf, ia cukup memasukkan instruksi ke ChatGPT dan mendapatkan tulisan yang hampir selesai.
Dalam jangka pendek, cara tersebut terasa efisien.
Namun, jika menjadi kebiasaan, seseorang dapat semakin sulit mentoleransi proses akademik yang lambat. Ketika harus membaca buku yang panjang atau menyelesaikan persoalan tanpa bantuan AI, ia mungkin merasa proses tersebut terlalu melelahkan atau tidak efisien.
Padahal, kemampuan untuk bertahan menghadapi kesulitan intelektual merupakan bagian penting dari perkembangan akademik.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan menemukan jawaban. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk tetap berpikir ketika jawaban belum ditemukan.
3. Penggunaan Berlebihan Dapat Mengurangi Deep Learning
Ada perbedaan antara mengetahui sebuah jawaban dan benar-benar memahami sesuatu.
Misalnya, seseorang bertanya:
"Apa penyebab terjadinya inflasi?"
ChatGPT dapat memberikan penjelasan yang sangat baik mengenai inflasi. Pengguna kemudian membaca jawaban tersebut dan merasa sudah memahami materi.
Tetapi memahami penjelasan bukan selalu sama dengan mampu menjelaskan konsep menggunakan pemikiran sendiri.
Dalam pembelajaran mendalam (deep learning), seseorang tidak hanya menerima informasi. Ia menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, menguji pemahamannya, menemukan contoh, mempertanyakan asumsi, dan menggunakan konsep tersebut dalam situasi baru.
Jika ChatGPT selalu memberikan penjelasan yang sudah jadi, pelajar dapat menjadi lebih sering berada dalam posisi penerima informasi daripada pembangun pengetahuan.
Contohnya, mahasiswa yang sedang belajar psikologi mungkin meminta AI menjelaskan teori tertentu. Ia membaca jawabannya dan merasa mengerti.
Namun ketika dosen memberikan studi kasus baru dan meminta mahasiswa menerapkan teori tersebut, ia mungkin kesulitan.
Mengapa?
Karena sebelumnya ia lebih banyak berlatih mengenali penjelasan daripada menghasilkan penjelasan sendiri.
Ini merupakan perbedaan penting dalam psikologi kognitif.
Kemampuan akademik tidak hanya dibangun melalui membaca jawaban, tetapi juga melalui usaha untuk mengingat, menjelaskan, membandingkan, menerapkan, dan memecahkan masalah.
4. ChatGPT Dapat Mengurangi Kesempatan Mengembangkan Kemampuan Memecahkan Masalah
Kemampuan memecahkan masalah tidak terbentuk secara otomatis hanya karena seseorang sering melihat solusi.
Seseorang perlu mengalami proses:
memahami masalah,
mengidentifikasi informasi yang relevan,
membuat hipotesis,
mencoba strategi,
menemukan kesalahan,
memperbaiki strategi,
dan mengevaluasi hasil.
Proses tersebut terkadang penuh dengan kegagalan.
Namun justru kegagalan dapat menjadi bagian penting dari pembelajaran.
Bayangkan seorang mahasiswa mendapatkan soal yang sulit. Ia mencoba menyelesaikannya selama tiga puluh menit tetapi gagal. Ia kemudian memeriksa kembali materi, mencoba pendekatan lain, dan akhirnya menemukan solusi.
Pengalaman tersebut memberikan lebih dari sekadar jawaban.
Mahasiswa tersebut belajar bagaimana menghadapi masalah.
Sebaliknya, jika setiap soal sulit langsung diberikan kepada ChatGPT, mahasiswa mungkin memperoleh jawaban benar tanpa pernah mengalami proses pemecahan masalah secara utuh.
Dalam jangka panjang, seseorang dapat menjadi sangat terbiasa dengan pertanyaan:
"Apa jawabannya?"
Padahal pertanyaan yang lebih penting dalam pendidikan adalah:
"Bagaimana saya bisa menemukan jawabannya?"
Perbedaan kecil tersebut memiliki konsekuensi besar terhadap perkembangan kemampuan berpikir.
5. Terlalu Sering Menggunakan AI Dapat Menghambat Perkembangan Rasa Percaya Diri Akademik
Ada konsep psikologis yang penting dalam pendidikan, yaitu self-efficacy atau keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menyelesaikan suatu tugas.
Self-efficacy tidak muncul hanya karena seseorang mendapatkan hasil yang bagus. Salah satu cara penting untuk membangunnya adalah melalui pengalaman berhasil menyelesaikan tantangan dengan kemampuan sendiri.
Bayangkan seorang mahasiswa berhasil membuat makalah setelah menggunakan ChatGPT.
Nilainya bagus.
Namun kemudian ia bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apakah sebenarnya saya mampu menulis ini tanpa ChatGPT?"
Jika pertanyaan semacam itu muncul terus-menerus, keberhasilan tersebut mungkin tidak sepenuhnya meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan pribadi.
Sebaliknya, mahasiswa dapat mulai mengembangkan keyakinan:
"Saya bisa mengerjakan tugas kalau ada AI."
Ini berbeda dengan:
"Saya mampu mengerjakan tugas."
Perbedaan tersebut penting.
Ketergantungan yang terlalu kuat pada teknologi dapat membuat seseorang merasa kurang yakin ketika teknologi tersebut tidak tersedia.
Situasi ini dapat terlihat ketika mahasiswa menghadapi ujian tertulis, presentasi spontan, wawancara akademik, diskusi kelas, atau tugas yang harus dikerjakan tanpa bantuan AI.
Karena itu, pelajar tetap perlu memiliki pengalaman menyelesaikan masalah menggunakan kemampuan sendiri.
6. ChatGPT Dapat Membuat Seseorang Kurang Terbiasa Menghadapi Kesalahan
Kesalahan memiliki fungsi psikologis dan pendidikan yang penting.
Ketika seorang siswa menulis jawaban yang salah, ia memiliki kesempatan untuk mengetahui bagian mana dari pemahamannya yang perlu diperbaiki.
Ketika mahasiswa membuat argumen yang lemah, ia dapat menerima kritik dari dosen atau teman dan memperbaiki cara berpikirnya.
Proses seperti ini disebut sebagai bagian dari feedback loop dalam pembelajaran.
Masalah dapat muncul ketika AI digunakan untuk menghilangkan hampir seluruh kemungkinan kesalahan sebelum seseorang menghasilkan pekerjaannya sendiri.
Misalnya, seorang mahasiswa menulis satu halaman esai lalu langsung meminta ChatGPT memperbaikinya. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus, ia mungkin jarang mengetahui seperti apa kualitas tulisan yang benar-benar ia hasilkan tanpa bantuan.
Padahal, mengetahui kelemahan diri merupakan bagian penting dari perkembangan keterampilan.
Dalam psikologi pendidikan, proses belajar bukan hanya tentang mendapatkan hasil yang benar. Belajar juga melibatkan mengenali kesalahan dan memperbaiki strategi.
Jika teknologi terus-menerus menyembunyikan kesalahan sebelum seseorang sempat menyadarinya, kesempatan belajar tersebut dapat berkurang.
7. Penggunaan ChatGPT Secara Berlebihan Dapat Mengurangi Kemandirian Intelektual
Alasan terakhir mungkin merupakan persoalan yang paling luas.
Pendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan menghasilkan orang yang mampu memperoleh jawaban. Pendidikan juga bertujuan membentuk individu yang mampu berpikir secara mandiri.
Kemandirian intelektual berarti seseorang mampu:
menentukan pertanyaan yang penting,
mencari informasi,
menilai kualitas sumber,
mempertimbangkan berbagai perspektif,
membangun argumentasi,
mengakui ketidakpastian,
dan mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika ChatGPT digunakan sebagai sumber utama untuk hampir semua aktivitas tersebut, kemampuan tersebut berpotensi kurang terlatih.
Ada pula persoalan epistemik: jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu benar.
AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau terlalu menyederhanakan persoalan. Karena itu, pengguna tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memeriksa informasi yang diberikan.
Ironisnya, semakin seseorang bergantung pada AI, semakin penting pula kemampuan untuk mengevaluasi AI.
Jika seorang mahasiswa tidak memiliki pengetahuan dasar yang cukup, ia bahkan mungkin kesulitan mengetahui apakah jawaban AI masuk akal atau tidak.
Karena itu, pendidikan tidak seharusnya menghasilkan mahasiswa yang hanya pandai menggunakan AI.
Pendidikan seharusnya menghasilkan mahasiswa yang cukup memahami bidangnya sehingga mampu menilai apakah keluaran AI dapat dipercaya.
Jadi, Apakah Pelajar dan Mahasiswa Harus Berhenti Menggunakan ChatGPT?
Tidak sesederhana itu.
Mengatakan bahwa ChatGPT harus sepenuhnya dihindari juga tidak tepat. Teknologi AI dapat menjadi alat pembelajaran yang berguna apabila digunakan secara terkontrol.
Persoalan utamanya adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Ada perbedaan besar antara:
"ChatGPT, kerjakan tugas saya."
dan:
"Saya sudah mencoba menyelesaikan soal ini. Berikut langkah saya. Tolong tunjukkan bagian mana yang keliru dan berikan petunjuk agar saya dapat memperbaikinya sendiri."
Pada penggunaan pertama, AI menggantikan proses berpikir.
Pada penggunaan kedua, AI dapat berfungsi sebagai alat bantu belajar.
Perbedaan tersebut sangat penting.
Pelajar dapat menggunakan AI untuk meminta contoh, mendapatkan pertanyaan latihan, menerima umpan balik terhadap tulisan, membandingkan perspektif, atau meminta penjelasan mengenai konsep yang belum dipahami.
Namun, proses utama seperti membaca, berpikir, mengingat, menganalisis, menulis, dan memecahkan masalah sebaiknya tetap dilakukan oleh pelajar sendiri.
Prinsip "AI Membantu, Bukan Menggantikan"
Cara yang lebih sehat dalam menggunakan ChatGPT untuk pendidikan adalah menjadikannya asisten belajar, bukan pengganti belajar.
Salah satu prinsip sederhana yang dapat digunakan adalah:
Berpikir sendiri → mencoba → menggunakan AI untuk mendapatkan umpan balik → memperbaiki → memeriksa sumber → menghasilkan jawaban akhir sendiri.
Dengan pola tersebut, teknologi tetap memberikan manfaat tanpa mengambil alih seluruh proses kognitif.
Misalnya, ketika mendapatkan tugas esai, mahasiswa dapat terlebih dahulu:
membaca literatur,
menentukan pendapat sendiri,
membuat kerangka,
menulis draf,
meminta AI memberikan kritik,
memeriksa kembali fakta dan sumber,
melakukan revisi,
kemudian menghasilkan versi akhir dengan pemahaman sendiri.
Dalam pola ini, ChatGPT berperan sebagai alat bantu refleksi, bukan sebagai penulis utama.
Kesimpulan
Dari perspektif psikologi, alasan untuk membatasi penggunaan ChatGPT di kalangan pelajar dan mahasiswa bukan karena AI secara otomatis merusak kemampuan manusia.
Persoalannya terletak pada ketergantungan.
Penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir mandiri, menghadapi kesulitan, memecahkan masalah, belajar dari kesalahan, membangun self-efficacy, dan mengembangkan kemandirian intelektual.
Belajar memang sering kali membutuhkan waktu, usaha, kebingungan, bahkan kegagalan. Justru melalui proses itulah berbagai kemampuan kognitif berkembang.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
"Apakah pelajar boleh menggunakan ChatGPT?"
Melainkan:
"Bagian mana dari proses belajar yang boleh dibantu AI, dan bagian mana yang harus tetap dilakukan oleh manusia?"
Teknologi yang baik bukan teknologi yang membuat manusia berhenti berpikir.
Teknologi yang baik adalah teknologi yang membuat manusia mampu berpikir lebih baik tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri..