← Beranda
Senyum Manis Belum Tentu Tulus, Ini 10 Tanda Seseorang Menyimpan Rasa Tak Suka
Mohammad Maulana Iqbal• Minggu, 27 September 2026 | 23.44 WIB
ciri perilaku orang berpura-pura menyukai, tapi sebenarnya membenci. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang menunjukkan perasaan sebenarnya secara terbuka. Ada kalanya seseorang tetap tersenyum, berbicara dengan sopan, dan terlihat ramah meski sebenarnya merasa tidak nyaman dengan orang di sekitarnya.

Perbedaan antara ucapan dan perilaku tersebut terkadang dapat terlihat melalui berbagai kebiasaan kecil. Ekspresi wajah, cara berkomunikasi, bahasa tubuh, hingga seberapa besar seseorang memberikan perhatian bisa menjadi bagian yang patut diamati.

Dilansir dari geediting.com, terdapat sejumlah perilaku yang kerap dikaitkan dengan seseorang yang tidak benar-benar menikmati sebuah interaksi. Meski demikian, satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan perasaan seseorang karena kondisi, kepribadian, dan situasi sosial juga dapat memengaruhi perilaku.

Berikut 10 tanda yang bisa menjadi bahan pertimbangan:

1. Senyumnya terlihat kurang alami

Senyuman yang tulus biasanya melibatkan lebih dari sekadar gerakan bibir. Ekspresi mata dan bagian wajah lainnya juga cenderung ikut berubah.

Sebaliknya, senyuman yang dibuat-buat terkadang tampak kaku atau cepat menghilang. Namun, ekspresi seperti ini tidak selalu berarti seseorang membenci atau tidak menyukai kita karena rasa canggung maupun kelelahan juga dapat memberikan ekspresi serupa.

2. Jawabannya selalu singkat

Ketika seseorang tertarik mengikuti percakapan, biasanya mereka memberikan respons yang lebih berkembang, bertanya balik, atau menambahkan cerita.

Jika seseorang terus-menerus hanya memberikan jawaban pendek seperti “iya”, “oh”, atau “oke” tanpa berusaha melanjutkan pembicaraan, hal tersebut bisa menunjukkan bahwa ia kurang tertarik terlibat dalam interaksi.

3. Sering menjaga jarak

Bahasa tubuh terkadang memberikan petunjuk mengenai tingkat kenyamanan seseorang. Misalnya, ia lebih sering bersandar menjauh, menyilangkan tangan, atau menjaga jarak ketika berbicara denganmu.

Meski begitu, bahasa tubuh harus dilihat secara keseluruhan karena sebagian orang memang memiliki kebiasaan menjaga jarak ketika berkomunikasi.

4. Jarang sekali menghubungi lebih dulu

Hubungan yang berjalan dua arah biasanya melibatkan usaha dari kedua pihak. Jika seseorang hampir selalu hanya merespons ketika kamu menghubunginya dan nyaris tidak pernah memulai percakapan, bisa jadi ia tidak terlalu ingin mempererat hubungan tersebut.

Namun, kebiasaan ini juga dapat dipengaruhi oleh kesibukan atau karakter seseorang yang memang tidak terbiasa memulai komunikasi.

5. Sering menyelipkan sindiran

Candaan bisa menjadi bagian dari interaksi yang sehat. Masalahnya muncul ketika lelucon terus-menerus mengarah pada merendahkan, menyindir, atau mengecilkan pencapaian seseorang.

Jika pola tersebut terjadi berulang kali dan membuatmu merasa tidak dihargai, perilaku tersebut layak diperhatikan, terutama bila selalu muncul dalam interaksi dengan orang yang sama.

6. Tidak menunjukkan keselarasan dalam berinteraksi

Dalam percakapan yang nyaman, seseorang terkadang secara tidak sadar mengikuti tempo bicara, ekspresi, atau gerakan lawan bicaranya.

Sebaliknya, ketika interaksi terasa kaku, keselarasan tersebut mungkin tidak terlihat. Ada pula kemungkinan seseorang sengaja meniru gerakan secara berlebihan untuk bercanda atau mengejek. Karena itu, perilaku ini tidak sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk membaca perasaan seseorang.

7. Kerap mencari alasan untuk pergi

Setiap orang tentu memiliki kesibukan. Namun, jika seseorang berulang kali mempersingkat percakapan, mencari alasan untuk meninggalkan tempat, atau terlihat ingin segera mengakhiri interaksi ketika bersamamu, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa ia kurang nyaman.

Perhatikan apakah pola itu terjadi secara konsisten dan apakah sikapnya berbeda ketika berinteraksi dengan orang lain.

8. Tidak benar-benar memperhatikan pembicaraanmu

Orang yang terlibat dalam sebuah percakapan biasanya berusaha mengikuti cerita dan mengingat beberapa hal penting yang pernah disampaikan.

Sebaliknya, seseorang yang kurang memberikan perhatian mungkin sering lupa terhadap informasi yang baru saja dibicarakan, mengulang pertanyaan yang sudah dijawab, atau terlihat tidak mengikuti percakapan. Meski demikian, kelupaan juga bisa disebabkan oleh banyak faktor lain.

9. Kontak matanya terasa tidak wajar

Menghindari tatapan mata terkadang dapat menunjukkan rasa tidak nyaman atau keinginan untuk mengurangi interaksi. Sebaliknya, tatapan yang terlalu intens dan kaku juga bisa membuat percakapan terasa tidak natural.

Karena kontak mata dipengaruhi budaya, kepribadian, dan situasi, tanda ini sebaiknya dipertimbangkan bersama perilaku lainnya.

10. Sikapnya berubah ketika bersama orang lain

Perubahan perilaku yang paling mudah diperhatikan terkadang muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan sosial yang berbeda.

Misalnya, ia terlihat dingin, pasif, atau kurang bersemangat ketika bersamamu, tetapi menjadi jauh lebih ekspresif dan antusias ketika berbicara dengan orang lain. Perbedaan tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa tingkat kenyamanannya memang berbeda dalam setiap hubungan.

Pada akhirnya, membaca perilaku seseorang tidak semudah mencocokkan satu tanda dengan satu kesimpulan. Seseorang yang jarang melakukan kontak mata atau tidak banyak berbicara belum tentu membenci kita.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho