← Beranda
7 Alasan Mengapa Beberapa Teman Menghilang Tanpa Kabar Saat Kamu Bercerai dengan Pasangan
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 24 September 2026 | 03.33 WIB
seseorang yang kesepian setelah bercerai / foto: Magnific/primagefactory
 
JawaPos.com - Perceraian bukan hanya tentang berakhirnya sebuah hubungan antara dua orang. Dalam banyak kasus, perceraian juga mengubah lingkaran sosial, kebiasaan, pertemanan, bahkan cara seseorang dipandang oleh orang-orang di sekitarnya.

Salah satu pengalaman yang cukup menyakitkan setelah perceraian adalah ketika beberapa teman yang sebelumnya terasa dekat tiba-tiba menghilang.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pesan yang mengatakan bahwa mereka ingin menjaga jarak. Mereka hanya perlahan berhenti bertanya, berhenti menghubungi, berhenti mengajak bertemu, sampai akhirnya hubungan yang dulu terasa akrab menjadi sunyi.

Situasi seperti ini dapat membuat seseorang bertanya:

"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"

"Mengapa mereka pergi justru ketika aku sedang membutuhkan dukungan?"

"Apakah selama ini mereka sebenarnya bukan teman yang tulus?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Namun, dari sudut pandang psikologi, menghilangnya seseorang dari kehidupan kita tidak selalu memiliki satu penyebab sederhana.

Ada orang yang menjauh karena tidak tahu harus berkata apa. Ada yang merasa tidak nyaman berada di tengah konflik. Ada yang takut kehilangan hubungan dengan mantan pasangan. Ada pula yang sebenarnya peduli, tetapi tidak memiliki kemampuan emosional untuk menghadapi situasi perceraian.

Jadi, sebelum menyimpulkan bahwa semua teman yang pergi berarti tidak peduli, ada beberapa hal psikologis yang perlu dipahami.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (23/9), terdapat tujuh alasan mengapa beberapa teman bisa menghilang tanpa kabar ketika kamu bercerai dengan pasangan.

1. Mereka Tidak Tahu Bagaimana Harus Bersikap di Tengah Situasi yang Rumit

Perceraian sering membawa banyak emosi sekaligus.

Ada kesedihan, kemarahan, rasa kecewa, rasa bersalah, kebingungan, ketakutan terhadap masa depan, bahkan kelegaan. Setiap orang dapat merasakan kombinasi emosi yang berbeda.

Bagi seorang teman, menghadapi seseorang yang sedang mengalami begitu banyak emosi bisa terasa membingungkan.

Mereka mungkin berpikir:

"Aku harus mengatakan apa?"

"Kalau aku bertanya terlalu banyak, apakah dia akan merasa terganggu?"

"Kalau aku memberi nasihat, apakah dia akan menganggap aku menghakimi?"

"Kalau aku diam, apakah dia akan menganggap aku tidak peduli?"

Ketika seseorang tidak tahu bagaimana harus merespons situasi emosional yang kompleks, salah satu respons yang mungkin muncul adalah menghindar.

Dalam psikologi, penghindaran dapat menjadi cara seseorang mengurangi ketidaknyamanan emosionalnya sendiri.

Masalahnya, dari sisi orang yang sedang bercerai, perilaku tersebut dapat terasa seperti penolakan.

Padahal, dalam beberapa kasus, teman tersebut mungkin bukan tidak peduli. Mereka hanya tidak memiliki keterampilan komunikasi atau kapasitas emosional yang cukup untuk menghadapi situasi tersebut.

Itulah sebabnya menghilangnya seseorang tidak selalu berarti:

"Aku tidak peduli kepadamu."

Kadang pesan yang sebenarnya adalah:

"Aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini."

Perbedaannya memang sangat besar.

2. Mereka Takut Terseret ke Dalam Konflik Perceraian

Perceraian sering kali tidak hanya melibatkan dua orang.

Ada keluarga, anak, mertua, saudara, rekan kerja, dan tentu saja teman-teman yang selama bertahun-tahun mengenal pasangan tersebut.

Ketika hubungan berakhir dengan konflik, teman-teman dapat merasa berada di posisi yang sulit.

Mereka mungkin mengenal kamu sekaligus mengenal mantan pasanganmu.

Jika mereka berkomunikasi denganmu, mereka mungkin takut dianggap memihak.

Jika mereka berkomunikasi dengan mantan pasanganmu, mereka takut kamu merasa dikhianati.

Akhirnya, mereka memilih jalan yang menurut mereka paling aman: menjauh dari keduanya.

Dalam kondisi seperti ini, seorang teman mungkin berpikir:

"Aku tidak ingin terlibat dalam masalah rumah tangga mereka."

Ini terutama mungkin terjadi ketika perceraian melibatkan pertengkaran, tuduhan, masalah keluarga, atau konflik yang berlangsung lama.

Bagi orang yang berada di luar hubungan, menjaga jarak kadang terasa seperti cara paling sederhana untuk menghindari tekanan.

Sayangnya, bagi orang yang sedang mengalami perceraian, jarak tersebut dapat terasa sangat menyakitkan.

Kamu mungkin sedang kehilangan pasangan, kemudian merasa kehilangan teman sekaligus.

Namun penting untuk membedakan antara tidak mau terlibat dalam konflik dan tidak peduli kepada dirimu.

Keduanya tidak selalu sama.

Seorang teman mungkin tetap menyayangimu tetapi tidak ingin menjadi mediator, penyampai pesan, atau hakim dalam konflik rumah tanggamu.

3. Mereka Merasa Lebih Dekat dengan Pasanganmu

Ini adalah salah satu alasan yang paling menyakitkan.

Selama bertahun-tahun menjalani hubungan, kamu mungkin memperkenalkan pasanganmu kepada teman-temanmu.

Lama-kelamaan, teman-teman tersebut bukan hanya mengenalmu, tetapi juga membangun hubungan dengan pasanganmu.

Mereka mungkin pernah pergi bersama, makan bersama, menghadiri acara keluarga bersama, atau berbagi pengalaman dengan pasanganmu.

Ketika perceraian terjadi, mereka juga kehilangan sebuah hubungan.

Dalam situasi tertentu, mereka mungkin merasa lebih dekat dengan mantan pasanganmu daripada denganmu.

Hal ini dapat terjadi tanpa berarti bahwa mereka membencimu.

Hubungan sosial tidak selalu terbentuk berdasarkan siapa yang secara formal "seharusnya" menjadi teman seseorang.

Kedekatan emosional berkembang melalui pengalaman, komunikasi, kesamaan minat, dan waktu yang dihabiskan bersama.

Karena itu, setelah perceraian, seseorang mungkin tetap berhubungan dengan mantan pasanganmu.

Dan ketika kamu melihat hal tersebut, wajar jika muncul rasa sakit.

Kamu mungkin berpikir:

"Setelah semua yang kita lalui, mengapa dia memilih tetap dekat dengan mantanku?"

Namun hubungan sosial sering kali tidak sesederhana memilih satu pihak.

Bagi teman tersebut, mempertahankan hubungan dengan mantan pasanganmu mungkin bukan bentuk pengkhianatan terhadapmu.

Mereka mungkin hanya sedang mempertahankan hubungan yang memang sudah terbentuk sebelumnya.

Tentu saja, jika mereka menyebarkan cerita pribadi, merendahkanmu, atau sengaja menggunakan informasi yang kamu berikan untuk menyakiti kamu, situasinya berbeda.

Tetapi sekadar tetap berteman dengan mantan pasangan tidak otomatis berarti mereka tidak menghargaimu.

4. Perceraianmu Membuat Mereka Menghadapi Ketakutan tentang Hubungan Mereka Sendiri

Ini adalah alasan yang sering tidak terlihat.

Ketika seseorang yang dekat dengan kita bercerai, pengalaman tersebut dapat membuat kita memikirkan hubungan kita sendiri.

Teman yang sudah menikah mungkin mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

"Bagaimana kalau hubungan kami juga berakhir seperti itu?"

"Apakah masalah yang mereka alami sebenarnya juga ada dalam hubungan kami?"

"Apakah pernikahan benar-benar sekuat yang selama ini aku pikirkan?"

Melihat perceraian orang lain dapat menjadi pengingat bahwa hubungan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Bagi sebagian orang, kesadaran tersebut bisa terasa menakutkan.

Akibatnya, mereka mungkin secara tidak sadar menjaga jarak.

Bukan karena kamu melakukan kesalahan.

Bukan pula karena mereka membencimu.

Mereka mungkin sedang berusaha menjaga jarak dari sesuatu yang membuat mereka merasa cemas terhadap kehidupan mereka sendiri.

Dalam psikologi, manusia terkadang menggunakan penghindaran ketika menghadapi sesuatu yang memicu kecemasan.

Perceraian teman dapat menjadi salah satu pemicu tersebut.

Terlebih jika kehidupan rumah tangga mereka sendiri sedang menghadapi masalah.

Melihat pengalamanmu mungkin membuat mereka terlalu dekat dengan ketakutan yang selama ini mereka coba abaikan.

Karena itu, menjauh bisa menjadi cara mereka untuk mengurangi kecemasan.

Ironisnya, orang yang sedang membutuhkan dukungan justru bisa dijauhi karena keberadaannya mengingatkan orang lain pada sesuatu yang ingin mereka hindari.

5. Mereka Tidak Nyaman dengan Perubahan dalam Dinamika Pertemanan

Perceraian sering mengubah kehidupan sosial seseorang.

Dulu kalian mungkin sering pergi bersama sebagai pasangan.

Ada makan malam bersama, liburan bersama, acara keluarga, atau pertemuan dengan teman-teman lain.

Ketika kamu bercerai, dinamika tersebut berubah.

Teman-teman yang sebelumnya terbiasa melihat kalian sebagai satu unit kini harus menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Bagi sebagian orang, perubahan tersebut tidak mudah.

Mereka mungkin tidak tahu apakah harus mengundangmu sendiri.

Mereka mungkin tidak tahu apakah mantan pasanganmu juga akan hadir.

Mereka mungkin takut membuat suasana canggung.

Akhirnya, daripada menghadapi ketidaknyamanan tersebut, mereka memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Masalahnya, "tidak melakukan apa-apa" lama-kelamaan bisa berubah menjadi hilangnya hubungan.

Pesan tidak dibalas.

Undangan semakin jarang.

Pertemuan semakin sedikit.

Kemudian jarak sosial terbentuk dengan sendirinya.

Padahal, sering kali yang dibutuhkan hanyalah komunikasi sederhana:

"Sekarang keadaan sudah berubah, tapi aku tetap ingin berteman denganmu."

Sayangnya, tidak semua orang cukup dewasa atau cukup nyaman untuk melakukan percakapan seperti itu.

Sebagian memilih diam karena menganggap waktu akan menyelesaikan semuanya.

Padahal, diam juga merupakan bentuk komunikasi.

Dan bagi seseorang yang sedang melewati masa sulit, diam dari orang-orang terdekat dapat terasa sangat keras.

6. Mereka Merasa Kamu Berubah Setelah Perceraian

Perceraian dapat mengubah cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan.

Hal tersebut sangat wajar.

Seseorang yang sedang melalui perceraian mungkin menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, lebih pendiam, lebih sering membicarakan masalahnya, atau justru menghindari orang lain.

Kadang-kadang seseorang juga membutuhkan banyak dukungan dan perhatian.

Dalam beberapa situasi, perubahan tersebut dapat membuat teman merasa kesulitan berinteraksi.

Misalnya, dahulu kalian sering bercanda.

Sekarang setiap pertemuan berubah menjadi pembicaraan tentang mantan pasangan.

Dahulu kamu mudah diajak pergi.

Sekarang kamu sering membatalkan rencana karena kondisi emosionalmu.

Dahulu komunikasi terasa ringan.

Sekarang setiap percakapan terasa berat.

Teman yang tidak memahami proses tersebut mungkin akhirnya merasa kewalahan.

Namun ada hal penting yang perlu diingat:

Perubahan setelah perceraian tidak otomatis berarti kamu menjadi orang yang buruk.

Kamu sedang beradaptasi terhadap kehilangan dan perubahan besar dalam hidup.

Tetapi pada saat yang sama, memahami perasaan teman juga penting.

Dukungan sosial akan lebih sehat jika hubungan tidak hanya menjadi tempat untuk mencurahkan semua rasa sakit, tetapi juga tetap memberikan ruang untuk percakapan yang ringan, humor, aktivitas bersama, dan kehidupan masing-masing.

Kamu boleh membutuhkan dukungan.

Namun temanmu juga tetap manusia dengan keterbatasan emosionalnya sendiri.

7. Tidak Semua Hubungan Pertemanan Memiliki Kedalaman yang Sama Seperti yang Kamu Bayangkan

Ini mungkin alasan yang paling sulit diterima.

Kadang-kadang sebuah hubungan terlihat dekat karena keadaan.

Kalian sering bertemu karena pekerjaan.

Kalian sering berkumpul karena pasangan masing-masing berteman.

Kalian sering melakukan aktivitas bersama karena berada dalam lingkungan sosial yang sama.

Selama semuanya berjalan normal, hubungan tersebut terasa sangat dekat.

Tetapi ketika kehidupan berubah, hubungan itu ikut berubah.

Perceraian dapat menjadi salah satu peristiwa yang memperlihatkan struktur sebenarnya dari sebuah pertemanan.

Bukan berarti semua orang yang menjauh sejak awal adalah orang yang palsu.

Hubungan manusia memang memiliki tingkat kedekatan yang berbeda-beda.

Ada teman yang hadir ketika hidup sedang menyenangkan.

Ada teman yang mampu hadir ketika keadaan sulit.

Ada teman yang hanya cocok untuk aktivitas tertentu.

Dan ada beberapa orang yang hubungan dengannya memang hanya bertahan selama keadaan sosial mendukung.

Menyadari hal tersebut mungkin menyakitkan.

Tetapi ada pelajaran penting di dalamnya.

Kita tidak selalu bisa mengendalikan siapa yang bertahan.

Kita hanya bisa menentukan bagaimana kita memperlakukan orang lain dan bagaimana kita merespons ketika hubungan berubah.

Jadi, Apakah Teman yang Menghilang Berarti Mereka Tidak Peduli?

Belum tentu.

Inilah bagian yang sering terlupakan ketika seseorang sedang terluka.

Kita cenderung mencari satu penjelasan yang sederhana:

"Dia pergi karena tidak pernah benar-benar peduli."

Padahal, manusia jauh lebih kompleks.

Seseorang dapat peduli kepadamu sekaligus tidak mampu memberikan dukungan yang kamu butuhkan.

Seseorang dapat menyayangimu sekaligus merasa tidak nyaman dengan situasimu.

Seseorang dapat menghargaimu sekaligus memilih menjaga jarak karena ingin menghindari konflik.

Seseorang bahkan dapat merasa bersalah karena menjauh, tetapi tetap tidak tahu bagaimana cara kembali mendekat.

Karena itu, jangan terlalu cepat menerjemahkan kepergian seseorang sebagai bukti bahwa dirimu tidak layak dicintai atau dihargai.

Perilaku orang lain lebih banyak berbicara tentang pilihan, batasan, kebutuhan, dan kapasitas mereka daripada nilai dirimu sebagai manusia.

Jika Teman Menghilang, Apa yang Sebaiknya Kamu Lakukan?

Hal pertama adalah jangan langsung mengejar semua orang.

Ketika merasa ditinggalkan, kita sering memiliki dorongan untuk mencari penjelasan.

"Kenapa kamu berubah?"

"Apa salahku?"

"Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku lagi?"

Pertanyaan tersebut memang wajar.

Tetapi tidak semua orang mampu memberikan jawaban yang memuaskan.

Jika hubungan tersebut penting bagimu, kamu bisa melakukan satu langkah sederhana: menghubungi mereka dengan jujur tanpa menuduh.

Misalnya:

"Aku merasa kita akhir-akhir ini semakin jarang berkomunikasi. Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, aku terbuka untuk membicarakannya."

Kalimat seperti ini memberikan ruang untuk percakapan tanpa langsung menempatkan mereka sebagai pihak yang bersalah.

Setelah itu, lihat responsnya.

Jika mereka ingin menjelaskan, dengarkan.

Jika mereka membutuhkan jarak, hormati.

Jika mereka tidak memberikan respons sama sekali, mungkin kamu perlu menerima bahwa tidak semua hubungan dapat diselamatkan.

Dan menerima bukan berarti kamu tidak peduli.

Menerima berarti kamu berhenti memaksa sesuatu yang sudah tidak berada dalam kendalimu.

Jangan Menjadikan Perceraian sebagai Bukti Bahwa Kamu Sendirian

Salah satu jebakan psikologis setelah kehilangan hubungan adalah menggeneralisasi pengalaman.

Satu teman menghilang.

Kemudian kamu berpikir semua orang akan meninggalkanmu.

Satu orang tidak menghubungi.

Kemudian kamu berpikir tidak ada seorang pun yang peduli.

Padahal, kehilangan beberapa hubungan tidak berarti kamu kehilangan seluruh jaringan sosialmu.

Perhatikan orang-orang yang masih hadir.

Mungkin ada satu teman yang tidak banyak bicara tetapi selalu menjawab pesanmu.

Mungkin ada saudara yang bersedia mendengarkan.

Mungkin ada rekan kerja yang sesekali menanyakan keadaanmu.

Mungkin ada seseorang yang tidak memberikan nasihat apa pun, tetapi tetap bersedia duduk bersamamu.

Jangan hanya menghitung siapa yang pergi.

Perhatikan juga siapa yang tetap tinggal.

Terkadang perceraian membuat kita melihat hubungan sosial dengan cara yang lebih jujur.

Kita mulai memahami bahwa jumlah teman tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.

Satu orang yang hadir dengan tulus mungkin jauh lebih berarti daripada sepuluh orang yang hanya hadir ketika keadaan mudah.

Pada Akhirnya, Kehilangan Teman Tidak Selalu Berarti Kehilangan Nilai Dirimu

Perceraian memang dapat mengubah banyak hal.

Status berubah.

Rutinitas berubah.

Tempat tinggal mungkin berubah.

Hubungan dengan keluarga dapat berubah.

Lingkungan sosial juga bisa berubah.

Dan terkadang, pertemanan ikut berubah.

Itu semua bisa terasa seperti kehilangan yang berlapis-lapis.

Namun jangan menjadikan keputusan orang lain untuk menjauh sebagai ukuran harga dirimu.

Ada teman yang pergi karena takut konflik.

Ada yang pergi karena tidak tahu bagaimana membantu.

Ada yang merasa lebih dekat dengan mantan pasanganmu.

Ada yang takut menghadapi perubahan.

Ada yang merasa kewalahan dengan perubahan dinamika pertemanan.

Dan ada pula hubungan yang memang ternyata tidak sedalam yang selama ini kamu kira.

Tidak semua alasan tersebut menyenangkan untuk diterima.

Tetapi memahami kemungkinan-kemungkinannya dapat membantumu berhenti menyalahkan diri sendiri.

Perceraian bukan hanya tentang melepaskan seseorang.

Kadang-kadang, perceraian juga mengajarkan kita siapa yang mampu berjalan bersama kita ketika hidup tidak lagi terlihat seperti yang direncanakan.

Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang lebih sehat bukanlah:

"Mengapa mereka pergi?"

Melainkan:

"Siapa yang tetap hadir, siapa yang ingin aku pertahankan, dan hubungan seperti apa yang ingin aku bangun setelah ini?"

Karena hidup setelah perceraian bukan hanya tentang kehilangan.

Ada ruang untuk membangun kembali.

Ada ruang untuk mengenal dirimu sendiri.

Ada ruang untuk membentuk pertemanan yang lebih sehat.

Dan ada ruang untuk menemukan bahwa meskipun beberapa orang memilih pergi tanpa penjelasan, perjalanan hidupmu tetap dapat dilanjutkan.

Kadang-kadang, penutupan tidak datang dari penjelasan orang lain.

Kadang-kadang, penutupan datang ketika kita berhenti menunggu orang yang pergi untuk kembali dan mulai memberikan perhatian kepada kehidupan yang masih ada di depan kita.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho