← Beranda
Hanya dalam Beberapa Menit, 5 Kebiasaan Ini Bisa Mengungkap Cara Seseorang Memandang Diri
Mohammad Maulana IqbalRabu, 23 September 2026 | 21.21 WIB
tanda kenali pria dengan ego dan mental lemah di lima menit pertama. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Kesan pertama sering kali terbentuk hanya dalam beberapa menit. Cara seseorang berbicara, mendengarkan, merespons perbedaan pendapat, hingga memperlakukan orang lain dapat memberikan gambaran awal mengenai karakter dan gaya interaksinya.

Namun, sikap percaya diri dan kebutuhan untuk terus mendapatkan pengakuan merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa terlihat sangat yakin pada dirinya, tetapi pada situasi tertentu justru menunjukkan sensitivitas terhadap kritik atau perbedaan pendapat.

Karena itu, beberapa perilaku kecil saat pertemuan pertama dapat menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Meski demikian, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan kepribadian seseorang secara keseluruhan.

Dilansir dari geediting.com, terdapat sejumlah tanda perilaku yang dapat diamati ketika seseorang menunjukkan kebutuhan tinggi akan pengakuan atau kesulitan menghadapi kritik. Berikut lima di antaranya.

Baca Juga: Jangan Disepelekan, 7 Kebiasaan Ini Dipercaya Astrologi Bisa Menghambat Jalan Menuju Kekayaan

1. Percakapan selalu kembali pada dirinya

Perhatikan cara dia merespons ketika kamu mulai bercerita tentang diri sendiri. Apakah dia benar-benar mendengarkan, atau justru segera mengarahkan pembicaraan kembali kepada pencapaiannya?

Misalnya, ketika kamu bercerita tentang hobi berlari, dia langsung menceritakan prestasi larinya sendiri. Pola seperti ini dapat membuat percakapan terasa lebih seperti ajang pembuktian daripada interaksi dua arah.

Dalam psikologi, kecenderungan mengalihkan pembicaraan kepada diri sendiri kerap dibahas dalam konteks respons percakapan yang berorientasi pada diri. Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut bisa menjadi tanda bahwa seseorang sangat ingin mendapatkan perhatian atau pengakuan.

Namun, konteks tetap penting. Seseorang yang antusias menceritakan pengalamannya belum tentu memiliki masalah dengan ego. Yang lebih perlu diperhatikan adalah apakah dia juga memberikan ruang kepada lawan bicara untuk berbicara.

2. Sulit menerima perbedaan pendapat

Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam percakapan. Karena itu, reaksi seseorang ketika pendapatnya tidak disetujui dapat menjadi salah satu hal yang menarik untuk diamati.

Jika perbedaan kecil langsung membuat nada bicaranya berubah, memberikan pembenaran berlebihan, atau melontarkan komentar yang menyerang, hal tersebut menunjukkan bahwa dia mungkin tidak nyaman ketika pandangannya ditantang.

Respons terhadap kritik memang dapat berkaitan dengan cara seseorang menjaga harga dirinya. Orang dengan harga diri yang tidak stabil dapat menjadi lebih sensitif ketika merasa citra dirinya sedang dipertanyakan.

Meski begitu, jangan langsung menarik kesimpulan hanya dari satu kejadian. Kondisi emosional, topik pembicaraan, dan situasi saat itu juga dapat memengaruhi reaksi seseorang.

3. Terlalu banyak memberikan alasan sebelum diperlukan

Kebiasaan lain yang dapat diamati adalah ketika seseorang terus-menerus memberikan alasan bahkan sebelum ada yang mempertanyakan kemampuannya.

Contohnya, dia mengatakan sejak awal bahwa dirinya sedang lelah, tidak terlalu pandai mengingat nama, atau sebenarnya tidak memiliki persiapan. Jika dilakukan berulang kali, alasan tersebut bisa menjadi cara untuk mengantisipasi kemungkinan dirinya dinilai kurang baik.

Dalam psikologi, perilaku semacam ini berkaitan dengan konsep self-handicapping, yakni kecenderungan membuat atau menonjolkan hambatan tertentu sebagai perlindungan terhadap harga diri apabila hasil yang diperoleh nantinya tidak sesuai harapan.

Dengan kata lain, seseorang mungkin merasa lebih aman jika kegagalannya nanti memiliki alasan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Namun, kebiasaan memberikan disclaimer juga tidak selalu menunjukkan ego yang rapuh. Bisa saja seseorang memang sedang lelah, gugup, atau sekadar berusaha mengatur ekspektasi orang lain.

4. Kurang menunjukkan ketertarikan terhadap lawan bicara

Percakapan yang sehat biasanya berjalan dua arah. Karena itu, perhatikan apakah dia menunjukkan rasa ingin tahu terhadap cerita yang kamu sampaikan.

Jika sebagian besar pertanyaan justru menjadi kesempatan untuk kembali membicarakan dirinya sendiri, percakapan lama-kelamaan bisa terasa tidak seimbang.

Hal serupa dapat terlihat ketika seseorang terus menonjolkan barang yang dimiliki, koneksi sosial, pekerjaan, tempat yang pernah dikunjungi, atau berbagai pencapaian untuk membangun kesan tertentu.

Kebutuhan mendapatkan validasi dari lingkungan dapat membuat seseorang lebih fokus pada bagaimana dirinya terlihat daripada benar-benar memahami orang yang sedang diajak berbicara.

Salah satu cara melihat polanya adalah dengan memperhatikan apakah dia mampu menggali jawabanmu lebih jauh. Jika kamu bercerita tentang pekerjaan atau hobi, misalnya, apakah dia tertarik memahami pengalamanmu atau hanya menunggu kesempatan untuk kembali membahas dirinya?

5. Sering merendahkan orang lain dan sensitif ketika menjadi bahan candaan

Cara seseorang membicarakan orang lain juga dapat memberikan gambaran mengenai gaya interaksinya.

Jika sejak awal dia sering mengejek rekan kerja, merendahkan orang yang dianggap kurang sukses, atau berusaha menunjukkan dirinya lebih unggul, pola tersebut layak diperhatikan.

Begitu pula ketika seseorang sangat nyaman menjadikan orang lain sebagai bahan candaan, tetapi langsung tersinggung saat dirinya mendapat candaan serupa.

Dalam psikologi sosial, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dapat memengaruhi cara seseorang menjaga harga dirinya. Perbandingan dengan orang yang dianggap memiliki posisi lebih rendah terkadang digunakan untuk meningkatkan perasaan positif terhadap diri sendiri.

Tetapi sekali lagi, satu candaan atau komentar belum cukup untuk menggambarkan karakter seseorang. Yang lebih penting adalah pola yang muncul berulang kali dan bagaimana dia merespons ketika diberi masukan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho